Rempah Nusantara yang Tidak Pernah Masuk Panci
Selain pala dan cengkeh, Nusantara menghasilkan komoditas beraroma yang tidak dipakai memasak, seperti nilam, kemenyan, akar wangi, cendana, dan gaharu. Bahan-bahan ini dicari untuk parfum, dupa, dan minyak, dan beberapa di antaranya dipakai industri parfum karena mampu menahan aroma lain agar lebih tahan lama. Sebagian juga pernah dipanen berlebihan sampai tegakannya di alam menyusut.
Tabel berikut membandingkan enam komoditas itu. Isinya dibaca langsung dari entri masing-masing.
| Rempah | Bagian yang dipakai | Aroma |
|---|---|---|
| Kemenyan | Getah batang yang mengeras | Manis balsamik dengan sisa vanila, tajam saat dibakar |
| Nilam | Daun | Tanah lembap dan kayu, berat dan bertahan lama |
| Kayu Putih | Daun | Tajam menyegarkan dengan sisi mentol |
| Gaharu | Kayu bergetah yang terbentuk karena infeksi | Kayu manis gelap bercampur balsam, dalam dan bertahan lama |
| Gambir | Sari daun dan ranting yang diendapkan | Samar seperti daun kering |
| Sereh Wangi | Batang dan daun | Sitrus tajam menyerupai sabun |
Nilam, Kemenyan, dan Akar Wangi sebagai Penahan Aroma
Nilam adalah contoh terbesar. Menurut catatan PROSEA untuk nilam[1], lebih dari 80 persen produksi minyak nilam dunia berasal dari Sumatra. Minyaknya disuling dari daun dengan uap, dan hampir selalu dipakai sebagai penahan aroma dalam parfum.
Kemenyan bekerja dengan cara serupa. PROSEA mencatat getah kemenyan dikumpulkan di daerah Tapanuli, Sumatra Utara, terutama di dataran tinggi sekitar Danau Toba, dengan cara menoreh kulit batang. Kemenyan dibakar sebagai dupa, dan dalam parfum dipakai sebagai penahan yang membuat aroma lain bertahan lebih lama.
Akar Wangi juga dipakai untuk tugas yang sama. Menurut PROSEA, daerah penghasil terbesarnya di Indonesia adalah Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan luas tanam sekitar 20.000 hektare. Minyak akar wangi menjadi penahan aroma yang penting, dan barisan rumpunnya yang rapat juga dipakai untuk menahan erosi.
Cendana dan Gaharu yang Menyusut di Alam
Cendana punya sejarah dagang yang panjang. Catatan PROSEA untuk cendana[2] menyebut perdagangan cendana dari Timor sudah tercatat sejak abad ke-3 Masehi, dan Sumba dulu dijuluki Pulau Cendana. Pohonnya setengah parasit: akarnya menempel pada akar tanaman lain untuk mendapatkan air dan hara.
Pemanenan berlebihan membuat cendana menyusut. PROSEA mencatat ekspor minyak dan kayu cendana terus turun antara 1989 dan 1994, dan tegakan alaminya sudah sangat berkurang.
Gaharu terbentuk dengan cara yang tidak biasa. Menurut tinjauan di jurnal Molecules tahun 2022[3], gaharu terbentuk ketika pohon Aquilaria terluka dan terpapar tekanan seperti infeksi, lalu menghasilkan resin sebagai pertahanan. Prosesnya berlangsung puluhan tahun, dan hanya sebagian kecil pohon liar yang menghasilkan resin. Karena sering dipanen berlebihan dan diperdagangkan secara ilegal, Aquilaria masuk Lampiran II CITES, konvensi yang mengatur perdagangan tumbuhan dan satwa terancam.
Kenanga dan Gambir
Kenanga dipakai untuk parfum dan minyak rambut. Menurut PROSEA, Jawa adalah penghasil utama minyak kenanga, yang dikenal di perdagangan dunia sebagai Java cananga oil. Minyak kenanga yang dicampur minyak kelapa menjadi minyak rambut yang disebut minyak Makassar.
Gambir berbeda karena dipakai sebagai bahan, bukan pewangi. PROSEA mencatat gambir dibuat dengan merebus daun dan ranting muda lalu memekatkan airnya, dan dipakai untuk menyamak kulit, sebagai campuran sirih pinang, dan untuk pewarna batik. Sumatra dan Riau menjadi daerah pengekspor utamanya.
Membeli dengan Memeriksa Asal-Usul
Karena beberapa komoditas ini diatur perdagangannya, pembeli perlu memeriksa asal-usulnya. Gaharu dari pohon yang dilindungi CITES tidak boleh diperdagangkan antarnegara tanpa izin, dan cendana liar yang tersisa juga perlu dijaga.
Sebagian besar komoditas ini dijual dalam bentuk getah, kayu, akar, atau minyak sulingan, lalu diolah menjadi parfum atau kosmetik di tempat lain. Kayu Putih dan Sereh Wangi juga termasuk kelompok ini, dan kegunaan keduanya tercatat di entri masing-masing.
Untuk sejarah rempah yang dimakan, seperti pala dan cengkeh, mulailah dari perebutan pala di Kepulauan Banda. Rimpang yang dipakai sebagai jamu, seperti temu, lempuyang, dan bangle, juga jarang dipakai sebagai bumbu.
Kerangka waktu jalur rempah, dari masa praaksara sampai VOC, bisa dilihat pada urutan zaman perdagangan rempah.
Rempah yang khas di tiap daerah, baik untuk masakan maupun bukan, tercantum dalam peta rempah menurut daerah asalnya. Dua dagangan tua dari pantai barat Sumatra, getah kemenyan dan kapur barus, punya kisahnya sendiri.
Rujukan
Sumber untuk keterangan botani, perdagangan, dan konservasi di artikel ini.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Akar WangiChrysopogon zizanioidesTidak dipakai sebagai rasa
- CendanaSantalum albumTidak dipakai sebagai rasa
- GaharuAquilaria malaccensisTidak dipakai sebagai rasa
- GambirUncaria gambirSepat kuat dengan sisa pahit
- Kayu PutihMelaleuca cajuputiTidak dipakai sebagai rasa
- KemenyanStyrax benzoinTidak dipakai sebagai rasa
- KenangaCananga odorataTidak dipakai sebagai rasa
- NilamPogostemon cablinTidak dipakai sebagai rasa
- Sereh WangiCymbopogon nardusTidak dipakai sebagai rasa
- SirihPiper betlePedas getir dengan sisa pahit
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
