Lewati ke konten

Cendana Nusa Tenggara Timur: Sejarah Dagang dan Menyusutnya Populasi

4 menit baca

Cendana dari Nusa Tenggara Timur diperdagangkan ke Asia sejak berabad-abad lalu, dan perdagangan itu pula yang menghabiskan pohonnya. Pulau Timor pernah mengirim ratusan ton kayu cendana per tahun ke Malaka, Makau, dan Tiongkok. Kini tegakan alaminya tinggal sedikit, dan status konservasinya sudah naik menjadi rentan (vulnerable).

Pohon Setengah Parasit dari Timor dan Sumba

Cendana (Santalum album) disebut hau meni di Timor dan ai nitu di Sumba. Catatan PROSEA tentang cendana[1] menyebut asal pastinya belum diketahui, tetapi pohon ini kemungkinan besar asli dari gugusan pulau di tenggara Indonesia, dengan Timor dan Sumba sebagai yang terpenting. Catatan dagang cendana dari Timor yang paling tua berasal dari abad ke-3 Masehi.

Cendana adalah tumbuhan setengah parasit. Akarnya menempel ke akar tanaman lain untuk mengambil air dan hara, dan PROSEA mencatat lebih dari 300 jenis tanaman yang bisa menjadi inangnya. Pohon ini juga lambat. Di India, kayu teras, bagian tengah batang yang wangi, baru mulai terbentuk sekitar umur 10 tahun, dan paling banyak pada pohon berumur 30 sampai 60 tahun. Jadi pohon yang ditebang hari ini tidak tergantikan dalam satu generasi.

Dicari Pedagang Asia Sebelum Eropa Datang

Kayu teras cendana dibakar sebagai dupa, diukir, dan disuling menjadi minyak wangi. Permintaan itu datang dari India dan Tiongkok jauh sebelum kapal Eropa tiba. Kajian sejarah dagang cendana Timor oleh peneliti BRIN[2] mengutip Tomé Pires, penulis Portugis awal abad ke-16: para pedagang Melayu berkata Tuhan menciptakan Timor untuk cendana, Banda untuk Fuli, dan Maluku untuk Cengkeh.

Kajian yang sama mencatat bahwa cendana sudah tercatat sebagai barang dagangan oleh orang Tionghoa dan Jawa pada 1436. Ekspornya dari Timor sekitar 270 sampai 360 ton per tahun pada awal abad ke-16, lalu naik menjadi 660 ton pada abad ke-17. Sekitar 1630, cendana Timor yang dikirim ke Tiongkok memberi laba 150 sampai 200 persen. Jalurnya panjang: dari Timor ke Malaka, lalu ke India, Persia, dan Tiongkok, bagian dari jaringan dagang laut Nusantara yang lebih tua dari kedatangan Portugis.

Portugis dan Belanda Berebut Kayu yang Sama

Laba sebesar itu menarik dua kekuatan Eropa. Portugis menjadikan Pulau Solor, di utara Timor, sebagai pangkalan dan membangun benteng batu di sana pada 1566. Belanda merebut Solor pada 1613, saat sebagian besar penghuninya sedang berlayar ke Timor mencari cendana, lalu menguasai Kupang pada 1653. Portugis mundur ke Larantuka di ujung timur Flores dan tetap mengatur penebangan cendana dari sana.

Persaingan itu berlangsung ratusan tahun dan ikut membelah Timor menjadi bagian barat dan timur. Menurut kajian BRIN tadi, perebutannya baru benar-benar diakhiri perjanjian 1916, yang juga membagi cadangan cendana di wilayah perbatasan. Pola dagangan hutan yang diperebutkan ini mirip dengan nasib getah wangi dari pantai barat Sumatra, yang juga dicari karena aromanya.

Dari Pendapatan Daerah ke Pohon yang Hilang

Cendana tetap menjadi andalan NTT sampai akhir abad ke-20. Penelitian vegetasi cendana di Timor Barat dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman[3] mencatat cendana ditetapkan sebagai maskot NTT sejak 1986, dan antara 1986/1987 dan 1997/1998 menyumbang 28 sampai 48 persen pendapatan asli daerah provinsi itu.

Harganya dibayar oleh populasinya. Penelitian yang sama menyebut cendana dulu tumbuh alami di Timor, Sumba, Solor, Lembata, dan Flores, tetapi pada 1987 hanya tersisa di empat kabupaten di Timor dan dua di Sumba. Antara 1987 dan 1998 populasinya turun 54 persen. Penyebab utamanya adalah penebangan yang melebihi kemampuan pohon tumbuh kembali, target tebangan tahunan yang tinggi, alih fungsi hutan menjadi kebun dan permukiman, serta kebakaran. Akibatnya status konservasinya naik menjadi rentan.

PROSEA memberi angka dari sisi ekspor. Pada akhir 1960-an, Timor mengirim sekitar 30 ton minyak cendana per tahun ditambah kayu dalam jumlah setara. Antara 1989 dan 1994 rata-ratanya tinggal 12 ton minyak per tahun, dan pada 1994 hanya 7 ton. Sumba, yang dulu dijuluki Pulau Cendana, kini jarang menyimpan pohonnya.

Harapan dari Kebun Warga

Tegakan alami yang tersisa tidak lagi cukup, jadi pemulihan bergantung pada penanaman. PROSEA menyebut perluasan kebun cendana sebagai prioritas pertama untuk melindungi sisa pohon liar. Penelitian di Timor Barat menemukan pohon cendana di kebun warga Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan tumbuh dengan diameter batang lebih besar daripada yang di hutan, dan mencatat 31 jenis tumbuhan yang menjadi inangnya.

Menanam cendana tetap pekerjaan puluhan tahun. Bibitnya harus segera menemukan inang, dan kayu terasnya baru bernilai setelah pohonnya tua. Kayu wangi dari hutan lain, seperti Gaharu, punya riwayat serupa: dagangan hutan yang kini dibatasi aturan karena pohonnya ikut menyusut.

Rujukan

Sumber untuk ciri tanaman, sejarah dagang, dan penurunan populasi cendana di Nusa Tenggara Timur.

  1. ↑ Santalum album (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Timor, Sandalwood, and Global Trade Rivalry on Timor. Proceedings of the Critical Island Studies 2023 Conference (CISC 2023), Atlantis Press, 2024
  3. ↑ Analisis Produktivitas Seresah dan Profile Vegetasi Cendana (Santalum album L.) di Pulau Timor Barat-Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 2025

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.