Lewati ke konten

Temulawak: Asal Tumbuhannya, Sebaran, dan Budidayanya

4 menit baca

Temulawak (Curcuma zanthorrhiza, dulu sering dieja xanthorrhiza) lazim disebut tumbuhan asli Indonesia, dan rujukan botani Asia Tenggara memang menulis begitu. Basis data botani dunia dari Kew mencatat hal yang berbeda: wilayah aslinya India, sedangkan Indonesia masuk daftar tempat ia didatangkan. Yang tidak diperdebatkan adalah sebarannya sekarang dan cara menanamnya, karena temulawak dibudidayakan luas di Jawa dan diteliti di Bogor. Tidak semua rempah bisa dipindah tanam dengan mudah, dan allspice gagal ditanam di Jawa maupun Sumatra.

Dua Catatan tentang Asalnya

Catatan PROSEA untuk temulawak[1] menyebut tanaman ini berasal dari Indonesia, yaitu Ambon, Bali, dan Jawa, dan masih tumbuh liar di hutan jati. Ekologinya ditulis lebih rinci: liar di semak dan hutan jati Jawa Timur sampai ketinggian 750 meter. Di luar Indonesia, PROSEA mencatat budidaya di Semenanjung Malaysia dan sesekali di India dan Thailand.

Lembar Curcuma zanthorrhiza di Plants of the World Online[2], basis data Royal Botanic Gardens Kew, memberi gambaran lain. Nama yang diterima dieja zanthorrhiza, diterbitkan Roxburgh pada 1820. Wilayah asli yang tercantum hanya India. Jawa, Sumatra, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan belasan wilayah lain, termasuk Filipina, Madagaskar, dan Florida, dicatat sebagai tempat masuknya. Basis data yang sama menampilkan status Daftar Merah IUCN untuk jenis ini sebagai data kurang.

Perbedaan itu belum bisa diputuskan dari dua sumber ini. Kalimat yang aman: temulawak tumbuh liar di hutan jati Jawa Timur dan dibudidayakan sejak lama di Indonesia, tetapi status “asli” masih ditulis berbeda oleh dua rujukan botani. Pertanyaan asal-usul semacam ini biasa muncul pada tanaman yang sudah lama dibawa dan ditanam orang, termasuk tanaman yang berpindah bersama pedagang dan pelaut.

Nama Daerah dan Kerabat Dekatnya

PROSEA mencatat nama koneng gede dalam bahasa Sunda, temu lawak dalam bahasa Jawa, dan temo labak dalam bahasa Madura. Di Semenanjung Malaysia namanya temu lawas atau temu raya.

Kerabat terdekatnya Temu Putih (Curcuma zedoaria), sampai ada ahli yang menganggap keduanya satu jenis. PROSEA memberi tiga pembeda. Kelopak bunga Temulawak merah muda, temu putih putih. Daging rimpang dan umbi akar temulawak jingga tua, temu putih kuning muda. Garis cokelat kemerahan di daun temulawak hanya ada di sisi atas, sedangkan pada temu putih di kedua sisi. Di lapak, pembanding yang lebih sering tertukar tetap Kunyit, yang rimpangnya jauh lebih kecil.

Tempat Tumbuh dan Cara Menanam

Menurut PROSEA, temulawak menyukai tempat agak teduh dengan tanah lembap, subur, dan kaya humus. Tanaman diperbanyak dari potongan rimpang yang ditanam menjelang akhir musim hujan, dalam lubang berjarak 60 cm, sebaiknya di bawah naungan ringan seperti pohon sengon. Rimpang mulai bertunas kira-kira seminggu setelah tanam. Kalau yang ditanam umbi induk, panen bisa dilakukan setelah 8 sampai 12 bulan. Kalau yang ditanam potongan rimpang samping, perlu sekitar 2 tahun. Cara memperbanyaknya di halaman rumah bisa dimulai dengan menanam rimpang yang dibeli di pasar.

Naungan ternyata mengubah mutu rimpangnya. Penelitian naungan temulawak IPB University di jurnal Plants[3] menanam rimpang bertunas seberat 50 sampai 70 gram dari varietas Cursina-III di Bogor, sekitar 240 meter di atas laut, di bawah naungan 0, 25, 50, dan 75 persen, lalu memanennya setelah 9 bulan. Naungan menurunkan rendemen minyak atsiri, tetapi menaikkan aroma dan kadar senyawa aktif di dalam minyak itu.

Panen, Pengeringan, dan Perdagangannya

PROSEA menulis panen dilakukan di musim kemarau, ketika bagian atas tanaman sudah mati, dengan menggali rumpun rimpangnya. Hasil rimpang segar sekitar 20 ton per hektare. Rimpang dicuci, dikupas, diiris setebal 7 sampai 8 mm, dan dikeringkan selapis pada suhu sekitar 50 derajat Celsius sampai tebalnya tinggal 5 sampai 6 mm, lalu dikemas kedap udara.

Perdagangannya sebagian besar lokal, untuk jamu dan minuman seperti bir temu lawak. PROSEA mencatat angka ekspor lama: pada 1934 sampai 1938 sekitar 10 ton irisan kering dikirim setiap tahun dari Indonesia ke Belanda dan Jerman. Koleksi plasma nutfahnya disimpan di Kebun Raya Bogor, kebun yang juga menjadi pintu masuk tanaman pendatang seperti vanili dan sawit. Pemakaiannya untuk kesehatan dibahas terpisah, lengkap dengan batas penelitian temulawak pada hati.

Rujukan

Sumber untuk asal, sebaran, ciri pembeda, budidaya, dan perdagangan temulawak.

  1. ↑ Curcuma xanthorrhiza (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Curcuma zanthorrhiza Roxb. Plants of the World Online, Royal Botanic Gardens, Kew, 2026
  3. ↑ Comparative Analysis of Volatile Compounds and Biochemical Activity of Curcuma xanthorrhiza Roxb. Essential Oil Extracted from Distinct Shaded Plants. Plants, 2024

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.