Lewati ke konten

Temulawak dan Kesehatan Hati: Yang Sudah Diteliti

4 menit baca

Temulawak sudah lama dipakai dalam jamu untuk keluhan hati, tetapi bukti bahwa ia melindungi hati manusia belum ada. Yang tersedia adalah percobaan pada tikus dan mencit. Badan obat Uni Eropa hanya mengakui temulawak untuk keluhan pencernaan ringan berdasarkan pemakaian turun-temurun, dan justru tidak menyarankannya bagi orang yang punya penyakit hati atau batu empedu.

Pemakaian Tradisional untuk Hati

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah rimpang jamu yang dagingnya jingga dan rasanya pahit. Ia satu marga dengan Kunyit dan Temu Putih, dan ukurannya yang besar membantu memisahkannya dari kunyit di lapak. Tinjauan etnobotani dan farmakologi temulawak[1] tahun 2021 mencatat rimpang ini secara tradisional dipakai untuk kurang nafsu makan, gangguan lambung, sembelit, radang sendi, dan penyakit hati. Tinjauan itu juga menyebut temulawak sudah diekspor dan dipakai di Eropa setidaknya sejak 1963, terutama untuk gangguan pencernaan, infeksi, serta keluhan kulit dan hati.

Pemakaian turun-temurun menjelaskan kenapa temulawak dikenal sebagai jamu hati. Tapi itu catatan kebiasaan, belum bukti bahwa hasilnya terulang pada manusia.

Yang Sudah Diteliti: Hewan Percobaan

Bukti perlindungan hati datang dari hewan. Tinjauan tahun 2021 itu merangkum penelitian pada mencit dan tikus yang hatinya dirusak dengan parasetamol, galaktosamin, atau karbon tetraklorida. Pada hewan yang diberi temulawak, kenaikan enzim hati di darah jauh lebih kecil. Penulisnya mengaitkan efek ini dengan senyawa antioksidan dan berkurangnya zat pemicu radang.

Satu penelitian yang dikutip memberi 200 miligram xanthorrhizol, senyawa khas temulawak, kepada mencit yang diberi obat kemoterapi cisplatin, dan kerusakan hati serta ginjalnya berkurang. Temulawak juga menurunkan kadar trigliserida di hati dan darah hewan percobaan.

Semua itu belum menjawab apakah temulawak melindungi hati manusia. Dosis per kilogram berat badan hewan tidak bisa langsung diubah menjadi takaran jamu, dan hati tikus yang sengaja dirusak dengan racun berbeda dari penyakit hati pada manusia. Tinjauan tersebut tidak mencantumkan uji klinis pada manusia dengan hasil fungsi hati. Perbedaan jenis bukti ini dijelaskan pada tangga bukti dari tikus sampai manusia.

Penilaian Badan Obat Eropa

Ringkasan penilaian temulawak dari European Medicines Agency[2] menyebut sediaan temulawak boleh dipakai untuk keluhan pencernaan seperti rasa penuh, pencernaan lambat, dan perut kembung, atas dasar pemakaian tradisional. Artinya bukti uji klinisnya tidak cukup, tetapi pemakaiannya masuk akal dan tercatat aman minimal 30 tahun.

Komite itu mempertimbangkan satu uji pada 12 orang sehat yang memakai kurkumin, salah satu senyawa temulawak. Kurkumin membuat kantong empedu lebih cepat mengosongkan isinya, tetapi datanya tidak cukup untuk menarik kesimpulan tentang temulawak. Kurkumin sendiri punya kerabat, dan perbedaan kurkumin dan kurkuminoid perlu dipahami sebelum membaca klaim suplemen.

Siapa yang Sebaiknya Tidak Memakainya

Karena temulawak mungkin merangsang keluarnya empedu, monograf temulawak dari komite obat herbal Eropa[3] tahun 2014 tidak menyarankannya bagi orang dengan:

  • sumbatan saluran empedu atau radang saluran empedu
  • penyakit hati
  • batu empedu dan penyakit empedu lain

Monograf yang sama tidak menyarankan pemakaian pada anak dan remaja di bawah 18 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui, karena datanya belum cukup. Efek sampingnya berupa mulut kering, perut kembung, dan iritasi lambung. Takaran yang tercantum untuk teh temulawak adalah 1 gram rimpang kering yang dicacah dalam 100 mililiter air mendidih, tiga kali sehari, dan dokter perlu ditemui kalau keluhan berlangsung lebih dari 2 minggu.

Poin ini perlu diperhatikan karena temulawak populer sebagai jamu hati. Orang yang sudah didiagnosis sakit hati termasuk kelompok yang tidak disarankan memakai temulawak menurut monograf ini.

Interaksi dengan Obat Pengencer Darah

Penelitian temulawak dan warfarin pada tikus[4] tahun 2021 berangkat dari pasien di Indonesia yang minum keduanya bersamaan. Pada dosis ekstrak 18 miligram per kilogram, kadar warfarin dalam darah tikus naik nyata dibanding kelompok pembanding. Penulisnya menyimpulkan interaksi ini perlu diuji pada manusia. Warfarin yang kadarnya naik bisa menambah risiko perdarahan, jadi pengguna warfarin sebaiknya memberi tahu dokter sebelum minum jamu temulawak.

Jamu temulawak yang dibeli jadi juga perlu diperiksa izin edarnya, karena ada jamu yang dicampur obat. Caranya ada di pemeriksaan nomor izin jamu di BPOM. Kulit atau mata yang menguning, air seni pekat, dan nyeri perut kanan atas adalah tanda yang perlu segera diperiksa dokter, bukan diobati sendiri dengan jamu.

Rujukan

Sumber untuk pemakaian tradisional, penelitian hewan, penilaian regulator Eropa, dan interaksi temulawak dengan warfarin.

  1. ↑ Javanese Turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.): Ethnobotany, Phytochemistry, Biotechnology, and Pharmacological Activities. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2021
  2. ↑ Curcumae xanthorrhizae rhizoma – herbal medicinal product. European Medicines Agency (EMA)
  3. ↑ Community herbal monograph on Curcuma xanthorrhiza Roxb. (C. xanthorrhiza D. Dietrich), rhizoma. European Medicines Agency, Committee on Herbal Medicinal Products, 2014
  4. ↑ The influence of Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza) on the pharmacokinetics of warfarin in rats with single and multiple-dose studies. Pharmaceutical Biology, 2021

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.