Bumbu Kuah Bakso: Bawang Putih Goreng, Lada Putih, dan Seledri
Kuah bakso adalah kuah bening yang rasanya dibentuk oleh bawang putih, bawang putih goreng, bawang merah, lada putih, garam, dan sedikit gula. Daun seledri dan bawang goreng ditabur di atasnya saat disajikan. Rasa kuah ditentukan oleh bumbu yang masuk ke kaldu, terpisah dari bumbu adonan pentolnya, yang memakai bahan hampir sama: bawang putih, merica, garam, dan bawang goreng, diaduk bersama daging giling, tapioka, dan es.
Isi Bumbu Kuah Bakso
Isi bumbu kuah bakso tercatat dalam penelitian bumbu kuah bakso serbuk di Jurnal Mutu Pangan IPB[1] tahun 2016. Penelitian itu menyebut kuah bakso sebagai kuah bening dari rempah-rempah dan garam. Bahan bumbu serbuk yang diteliti sama dengan bumbu kuah bakso yang dibuat secara konvensional: bawang putih goreng, bawang putih, bawang merah, gula, garam, lada putih, dan penyedap rasa.
Perbandingan dalam formula pabrik yang diteliti memberi gambaran bobot tiap bahan:
- garam 57,86 persen
- gula halus 13,22 persen
- Bawang Putih goreng 9,92 persen
- bahan pengisi dan penyedap rasa 8,26 persen
- Bawang Merah 4,96 persen
- bawang putih 4,13 persen
- merica 1,65 persen
Angka itu untuk bumbu kering siap seduh, bukan untuk bumbu segar, jadi tidak bisa langsung dipakai sebagai takaran dapur. Yang bisa dipetik adalah urutannya. Setelah garam dan gula, bawang putih goreng adalah bahan terbanyak, lebih dari dua kali bawang putih biasa. Merica hanya sepersekian dari bawang, tetapi rasanya paling mudah dikenali.
Bawang Putih Goreng Membawa Aroma Utama
Dalam penelitian itu, bawang putih dan bawang merah untuk bumbu serbuk dibersihkan, dipotong, lalu digoreng sampai berwarna kemerahan sebelum ditiriskan, digiling, dan diayak. Bawang yang sudah digoreng berbau gurih dan manis, berbeda dari bau tajam bawang mentah.
Di dapur rumah, bawang putih cincang bisa digoreng dalam sedikit minyak sampai kuning kecokelatan, lalu dimasukkan ke kuah bersama minyaknya. Batas warnanya sempit. Bawang putih yang terlanjur gosong dan berubah pahit merusak seluruh panci kuah. Taburan bawang goreng di atas mangkuk sebaiknya renyah, dan irisan bawang yang digoreng terlalu basah cepat lembek begitu kena kuah panas.
Lada Putih, Bukan Lada Hitam
Kuah bakso memakai Lada Putih. Catatan PROSEA untuk lada[2] menjelaskan cara membuatnya: tandan buah dipetik saat sebagian buah mulai merah atau kuning, direndam 7 sampai 10 hari, sebaiknya dalam air mengalir, sampai kulit buahnya luruh. Biji yang sudah bersih dijemur 3 sampai 4 hari sampai berwarna putih krem. Biji yang direndam di air tergenang akan berwarna keabuan.
PROSEA juga mencatat kadar piperin, senyawa pedas lada, sebesar 5,5 sampai 5,9 persen pada lada putih, dan minyak atsirinya 0,5 sampai 0,9 persen, lebih rendah daripada lada hitam yang 1,0 sampai 1,8 persen. Warnanya yang pucat juga tidak meninggalkan bintik hitam di kuah bening. Sentra lada di Indonesia menurut catatan yang sama adalah Lampung, Bangka, serta Kalimantan Timur dan Barat, yang bersama-sama menghasilkan 95 persen panen.
Lada bubuk kehilangan aroma lebih cepat daripada butir utuh. Menggerus butiran sesaat sebelum dipakai memberi kuah yang lebih harum. Warna butirnya ditentukan sejak buah lada direndam dan dikupas, seperti biji keabuan dari air tergenang tadi.
Seledri dan Daun Bawang di Atas Mangkuk
Daun Seledri yang ditabur di kuah bakso adalah jenis seledri daun. PROSEA untuk Apium graveolens menyebut seledri daun, termasuk seledri Cina, sebagai jenis terpenting di Asia Tenggara, dan dipakai sebagai perasa dalam bentuk segar maupun bubuk kering. Nama seledri di Indonesia berasal dari bahasa Belanda, tanda tanaman ini dibawa dari Eropa.
Seledri dan Daun Bawang diiris halus dan ditabur saat penyajian, tidak ikut direbus. Wanginya cepat hilang kalau terlalu lama kena panas. Kuah bening lain memakai pola yang sama, dengan rempah berbeda, seperti pada ragam kuah soto Nusantara.
Kaldu dan Urutan Membuat Kuah
Kuah bakso bisa dibuat dari kaldu tulang sapi atau air bekas merebus bakso. Urutan sederhananya: rebus kaldu, masukkan bawang putih goreng beserta minyaknya, tambahkan garam, gula, dan lada putih, lalu cicipi. Bawang merah bisa digoreng bersama bawang putih atau ditabur sebagai bawang goreng. Bumbu kuah bakso tidak termasuk bumbu halus yang ditumis berlama-lama, karena kuah bening tidak boleh keruh oleh ampas bumbu. Pasangan bawang putih dan garam juga dipakai untuk merebus ayam goreng di sentra Kalasan sebelum ayamnya dilapisi tepung dan digoreng.
Bening atau keruhnya kuah bergantung pada cara merebus, bukan pada jenis baksonya. Kajian sejarah bakso dan bakwan di Jawa[3] oleh Ary Budiyanto dari Universitas Brawijaya mencatat bahwa kaldu bakso Solo memakai balungan sekengkel (tulang paha atau kaki belakang sapi), kadang iga, sisa daging, dan jeroan. Kuah dibuat jernih dan tidak berbau dengan merebus berulang kali, menyaring, dan membersihkan jeroan dengan air kapur atau soda kue.
Bumbu serbuk siap pakai juga punya batas simpan. Penelitian IPB tadi mendapati bumbu kuah bakso serbuk dalam kemasan plastik metal bertahan 12,1 bulan pada kelembapan 75 persen berdasarkan kadar air kritis, dan 4 bulan berdasarkan perubahan warna larutannya. Bumbu serbuk yang menggumpal sudah menyerap air dan mutunya mulai turun.
Bumbu Adonan Bakso: Bawang Putih, Merica, dan Garam
Pentol bakso dibumbui dengan bahan yang hampir sama dengan kuahnya. Penelitian bakso kambing di jurnal Foods[4] tahun 2021 menyebut bakso lazimnya dibuat dari daging sapi atau ayam dengan tapioka sekitar 8 persen sebagai pengisi. Formula dasar penelitian itu, dalam persen berat adonan:
| Bahan | Persen berat |
|---|---|
| daging kambing giling | 56,3 |
| serpihan es | 22,5 |
| tapioka | 8,1 |
| telur | 6,7 |
| bawang merah goreng | 4,0 |
| garam | 1,4 |
| gula | 0,6 |
| bawang putih goreng | 0,5 |
| agar-agar bubuk | 0,4 |
| lada putih | 0,3 |
Urutan mencampurnya juga dicatat. Dalam penelitian itu, separuh daging giling lebih dulu dilumat bersama bawang merah dan bawang putih goreng yang sudah dihaluskan. Sesudah itu baru masuk sisa daging, garam, merica, gula, telur, agar-agar, tapioka, dan air es serut, lalu semuanya diaduk tiga menit lagi.
Garam dan es punya tugas yang tidak kelihatan. Tinjauan mutu bakso sapi di Food Science and Nutrition[5] menjelaskan bahwa garam dan air dimasukkan segera sesudah daging dicacah, supaya protein daging yang larut dalam garam tertarik keluar sebanyak mungkin. Protein itu membentuk emulsi yang memberi pentol teksturnya. Garam juga menurunkan air bebas di adonan, sehingga ikut membantu daya simpannya. Protein utamanya paling baik tertarik pada suhu 4 sampai 8 derajat Celsius, dan adonan yang makin hangat saat digiling menghasilkan bakso yang kurang kenyal dan lebih banyak susut saat direbus. Es di dalam adonan menahan suhu itu selama daging digiling dan diaduk.
Takaran tiap bahan berbeda antarpedagang dan antarresep. Formula di atas dipakai untuk penelitian, sehingga lebih berguna sebagai gambaran perbandingan daripada resep yang harus diikuti.
Jenis Bakso Daerah: Bakso Solo, Bakwan Malang, dan Bakso Urat
Nama bakso umumnya ditelusuri ke bahasa Hokkian, salah satu jejak masakan Tionghoa yang diserap dapur Jawa. Budiyanto mencatat bahwa bak-so umumnya diartikan daging cincang, dan bahwa bak dalam bahasa Hokkian berarti daging hewan berkaki empat apa pun, tidak khusus babi. Kajiannya menelusuri asal teknik bakso ke bakso sapi Chaoshan, yang disajikan dalam kaldu bening dengan bawang putih dan seledri, pasangan yang sama dengan kuah bakso di Jawa.
Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, nama dan gayanya berbeda:
- Bakwan Malang atau bakso Malang. Di Malang, kata bakwan dipakai untuk bakso gaya setempat. Adonannya bisa memakai urat, lemak sapi, atau sumsum untuk rasa dan tekstur, dan disajikan bersama tahu, siomay, dan gorengan. Pada 1970-an sampai 1990-an, pedagang pikulannya memukul bilah bambu atau kayu nangka yang berbunyi tik-tok.
- Bakso Solo atau bakso Soloan. Di Malang, kata bakso justru merujuk ke gaya Solo atau Jawa Tengah ini. Pedagangnya memukul mangkuk porselen dengan sendok sambil berseru “sobakso!”.
- Bakso urat. Daging dicampur urat untuk teksturnya. Bakso sapi Chaoshan juga punya versi bercampur urat, dan Budiyanto melihat keduanya sejajar.
- Bakwan Kawi di Yogyakarta. Menurut catatan yang dikutip Budiyanto, versi yang dijual pedagang asal Wonosari lebih menonjolkan pangsit goreng atau kukus, sedangkan pentolnya hanya pelengkap.
- Bakso kerbau di Kudus. Masih dijual sampai sekarang, kemungkinan diperkuat oleh cerita Sunan Kudus yang melarang penyembelihan sapi.
Asal bakso Malang sendiri masih diperdebatkan. Cerita yang beredar di internet menyebut seorang pendatang Tionghoa dari Malaysia, Tjoen Moesliem, memperkenalkannya pada 1939. Budiyanto membantahnya dengan bukti foto: Bakso Geprak Mbah Djo sudah berjualan pada 1935, dan Bakwan Kapasari di Surabaya sejak 1931.
Rujukan
Sumber untuk isi bumbu kuah dan adonan bakso, pengolahan lada putih, seledri daun, dan sejarah jenis bakso daerah.
- ↑ Pendugaan Umur Simpan Bumbu Kuah Bakso Serbuk dengan Metode Akselerasi. Jurnal Mutu Pangan, Institut Pertanian Bogor, 2016
- ↑ Piper nigrum (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ From Tiao Wan to Bakwan and Bakso: The Culinary History of Chaoshan Peranakan Cuisine in Java. Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture, 2026
- ↑ Rice Bran Makes a Healthy and Tasty Traditional Indonesian Goat Meatball, ‘Bakso’. Foods, 2021
- ↑ An overview of factors affecting the quality of beef meatballs: Processing and preservation. Food Science & Nutrition, 2022
- Apium graveolens (PROSEA). Pl@ntUse
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Bawang MerahAllium cepa var. aggregatumTajam saat mentah, manis pekat setelah ditumis lama
- Bawang PutihAllium sativumTajam menyengat mentah, manis gurih setelah matang
- Daun BawangAllium fistulosumBawang lembut, bagian putih lebih tajam
- Daun SeledriApium graveolensSegar dengan sisa pahit tipis
- Lada PutihPiper nigrumPedas bersih tanpa sisa aroma kayu
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
