Lewati ke konten

Kurkumin dan Kurkuminoid: Apa Bedanya dan yang Sudah Diteliti

3 menit baca

Kemasan suplemen menulis kurkumin, jurnal menulis kurkuminoid, dan resep menulis kunyit. Ketiganya tidak sama. Kurkuminoid adalah kelompok senyawa, kurkumin salah satu anggotanya, dan kunyit adalah rimpang yang mengandung keduanya bersama banyak bahan lain.

Kurkuminoid Ada Tiga, Kurkumin Salah Satunya

Menurut penelitian perubahan fitokimia kunyit karena panas di jurnal Antioxidants tahun 2026[1], kandungan utama Curcuma longa terbagi dua kelompok: kurkuminoid, yang berisi kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin, serta minyak atsiri yang didominasi seskuiterpenoid seperti ar-turmeron, alfa-turmeron, dan bisakuron.

Sumber yang sama menyebut kurkuminoid sebagai penyumbang utama daya antioksidan kunyit. Jadi menyebut “kunyit sama dengan kurkumin” melewatkan dua kurkuminoid lain sekaligus seluruh minyak atsirinya, padahal minyak atsiri itu yang banyak menyumbang aroma Kunyit di dapur.

Suplemen dan Bumbu Bukan Takaran yang Sama

Perbedaan berikutnya ada di kadar. Menurut ringkasan bukti kunyit dari NCCIH[2], produk kurkumin yang diminum berbeda-beda kadarnya, dan sering mengandung bahan dari tanaman lain, misalnya piperin dari lada hitam. Piperin sendiri sudah diuji pada manusia dalam uji kecil, yang mencatat kadar obat seperti karbamazepin naik ketika keduanya dipakai bersama.

Artinya angka pada penelitian suplemen tidak bisa dipindahkan ke sendok makan di dapur. Perbedaan takaran seperti ini lebih mudah dipahami dengan cara menimbang hasil penelitian.

Memasak juga mengubah susunannya. Penelitian yang sama memanaskan ekstrak kunyit pada 180 derajat Celsius sampai 90 menit dan menemukan kadar kurkuminoid menurun bertahap selama pemanasan, sedangkan seskuiterpenoid minyak atsirinya lebih tahan panas, terutama ketika dipanaskan di dalam minyak. Artinya kunyit yang ditumis lama tidak lagi membawa kurkuminoid sebanyak kunyit segarnya.

Kenapa Hampir Selalu Ada Lada Hitam

Kurkumin sendiri sulit diserap tubuh. Menurut tinjauan kurkumin di jurnal Foods tahun 2017[3], menelan kurkumin begitu saja tidak memberi manfaat yang disebut-sebut karena penyerapannya buruk, metabolismenya cepat, dan cepat dikeluarkan tubuh. Piperin, senyawa utama Lada Hitam, dikaitkan dengan kenaikan ketersediaan hayati kurkumin sampai dua puluh kali lipat.

Itu sebabnya banyak produk mencampur keduanya, dan sebagian penelitian memakai formula khusus supaya kurkuminnya terserap. Tanpa perlakuan itu, hasil di tabung reaksi tidak otomatis berulang di tubuh manusia.

Yang Sudah Diteliti pada Manusia

Bukti pada manusia ada, dengan batas yang jelas. NCCIH menyebut bukti awal untuk nyeri dan kekakuan lutut pada osteoartritis bersifat positif, tetapi bukti bermutu lebih tinggi masih dibutuhkan untuk menyimpulkannya, dan pengaruh ketersediaan hayati masih perlu dipahami lebih baik. Untuk keluhan lain, lembaga itu menyatakan buktinya belum cukup untuk menyimpulkan manfaatnya.

Kalimat seperti itu yang dipakai situs ini, dan bentuknya sengaja: manfaat ditulis sebagai laporan penelitian beserta batasnya, bukan sebagai janji. Kayu manis punya persoalan berbeda, yaitu batas aman kumarin.

Untuk Dapur, Bukan untuk Pengobatan

Di masakan, kunyit dipakai untuk warna, aroma, dan rasa pahit hangatnya, dan takaran lazimnya beberapa ruas untuk sepanci. Menambahkan lada hitam dan sedikit minyak memang lazim di dapur Indonesia, dan kebetulan searah dengan temuan tentang penyerapan kurkumin.

Temulawak mengandung kurkuminoid juga, tetapi rasanya jauh lebih pahit dan tempatnya di jamu, bukan di panci. Keduanya bisa dibedakan di pasar dari ukuran dan aroma rimpangnya.

Dosis suplemen kurkumin tinggi dapat berinteraksi dengan obat pengencer darah dan obat lambung, dan penderita batu empedu sebaiknya berkonsultasi lebih dulu. Isi artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan nasihat tenaga kesehatan.

Suplemen kurkumin tidak selalu aman untuk semua orang. Produk jamu dan suplemen digolongkan berbeda oleh BPOM.

Rujukan

Sumber untuk keterangan kimia dan status bukti di artikel ini.

  1. ↑ Heat-Induced Phytochemical Changes in Curcuma longa: Effects on Antioxidant Constituents. Antioxidants, 2026
  2. ↑ Turmeric. National Center for Complementary and Integrative Health
  3. ↑ Curcumin: A Review of Its Effects on Human Health. Foods, 2017

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.