Lewati ke konten

Cabai dan Rasa Kenyang: Hasil Uji Kapsaisin pada Manusia

4 menit baca

Kapsaisin, senyawa pedas dalam cabai, diteliti untuk pengaruhnya pada rasa kenyang, dan hasil gabungan uji pada manusia menemukan penurunan asupan makan yang kecil. Penurunannya sekitar 74 kilokalori dalam satu kali makan, dengan hasil antaruji yang beragam. Efeknya melemah pada orang yang terbiasa makan pedas, dan pada dosis kapsul yang lebih tinggi muncul keluhan perut. Belum ada bukti bahwa makan cabai sehari-hari menurunkan berat badan.

Apa Kata Meta-Analisis

Meta-analisis kapsaisinoid dan asupan energi di jurnal Appetite[1] tahun 2014 menyaring 74 uji klinis dan memasukkan 10, delapan di antaranya bisa digabung dengan total 191 peserta. Kapsaisinoid adalah kelompok senyawa pedas cabai, dengan kapsaisin sebagai anggota utamanya. Kalau diberikan sebelum makan, kapsaisinoid menurunkan asupan energi saat makan bebas sebanyak 309,9 kilojoule, atau 74 kilokalori.

Penulisnya sendiri meminta hasil itu dibaca hati-hati, karena perbedaan antaruji tinggi, dengan nilai I² 75,7 persen. Dari data yang ada, mereka memperkirakan perlu minimal 2 mg kapsaisinoid untuk memberi efek, dan penurunannya tampak berasal dari pergeseran pilihan dari makanan berlemak ke makanan kaya karbohidrat. Mereka menutup dengan permintaan uji acak jangka panjang, jadi temuan ini belum menjawab soal berat badan. Kalau istilah seperti uji acak dan meta-analisis masih asing, bobot tiap jenis penelitian perlu dipahami lebih dulu.

Takaran di Piring dan Orang yang Terbiasa Pedas

Sebagian uji lama memakai cabai dalam jumlah yang jarang dimakan orang. Uji takaran cabai merah yang masih enak dimakan di jurnal Physiology & Behavior[2] mencatat uji terdahulu memakai sampai 10 gram cabai merah per makan, padahal rata-rata orang Amerika Serikat hanya sekitar 1 gram. Uji itu memberi 25 orang dewasa bertubuh ramping 1 gram bubuk cabai merah, takaran pilihan masing-masing, atau tanpa cabai.

Hasilnya: asupan energi turun setelah 1 gram cabai merah pada 12 orang yang tidak biasa makan pedas, tetapi tidak pada 13 orang yang biasa. Penulisnya menduga orang bisa menjadi kurang peka setelah lama makan makanan pedas. Temuan ini penting bagi pembaca di Indonesia, tempat Cabai Rawit dan Cabai Merah Besar dimakan hampir setiap hari. Efek yang terlihat pada orang yang jarang makan pedas belum tentu muncul pada lidah yang sudah terbiasa.

Uji itu juga membandingkan cabai yang dimakan dengan cabai dalam kapsul, dan penulisnya menyimpulkan paparan di mulut diperlukan untuk mendapat efek terbesar. Artinya sebagian pengaruhnya diduga berasal dari rasa pedas itu sendiri, yaitu rasa terbakar yang dipicu kapsaisin di lidah.

Kenyang yang Datang Bersama Rasa Tidak Nyaman

Uji kapsaisin yang dialirkan langsung ke usus dua belas jari di American Journal of Clinical Nutrition[3] mencoba mencari mekanismenya. Tiga belas relawan sehat menerima 1,5 mg kapsaisin murni atau larutan garam lewat selang dari hidung. Kapsaisin menaikkan rasa kenyang, tetapi juga menaikkan rasa nyeri, panas, mual, dan kembung. Hormon kenyang yang diukur, GLP-1 dan PYY, tidak berubah.

Penulisnya menyimpulkan rasa kenyang itu tampaknya berkaitan dengan gangguan pencernaan, bukan dengan hormon. Kenyang karena perut tidak nyaman jelas bukan cara makan yang dianjurkan.

Suplemen Dua Belas Minggu

Uji suplemen kapsaisinoid dua belas minggu di jurnal Appetite[4] tahun 2017 membagi 77 orang dewasa berberat badan lebih ke tiga kelompok: 2 mg sehari, 4 mg sehari, atau plasebo, yaitu kapsul tiruan tanpa zat aktif. Kelompok 4 mg melaporkan makan 257 kilokalori sehari lebih sedikit daripada kelompok plasebo pada minggu ke-12. Angka itu berasal dari catatan peserta sendiri, dan komposisi tubuh tidak berubah berarti.

Keamanannya juga tercatat. Sembilan dari 39 peserta yang awalnya masuk kelompok 4 mg, atau 23 persen, melaporkan gangguan pencernaan. Kelompok itu juga mengalami kenaikan insulin darah dan penurunan kolesterol HDL, yang menurut penulisnya perlu diteliti lagi. Suplemen kapsaisin, termasuk kapsul bubuk Cabai Cayenne, tidak sama dengan cabai di masakan, karena dosisnya tetap dan ditelan tanpa dikunyah.

Yang Bisa Diambil untuk Dapur

Cabai di masakan boleh dinikmati karena rasanya. Uji-uji di atas kecil, singkat, dan hasilnya tidak seragam, jadi cabai tidak bisa diandalkan untuk mengatur berat badan. Orang dengan maag, refluks asam lambung, atau gangguan usus yang kambuh setelah makan pedas sebaiknya tidak memaksakan diri. Siapa pun yang ingin menurunkan berat badan, atau berencana minum suplemen kapsaisin, sebaiknya membicarakannya dengan dokter lebih dulu, terutama bila sedang menjalani pengobatan diabetes atau kolesterol, karena uji dua belas minggu tadi mencatat perubahan insulin dan HDL. Cara lain memakai rempah untuk pola makan yang lebih sehat, misalnya rempah yang diuji untuk menekan pemakaian garam, punya bukti yang berbeda lagi.

Rujukan

Sumber untuk hasil uji kapsaisin pada asupan makan, rasa kenyang, dan keluhan pencernaan.

  1. ↑ Could capsaicinoids help to support weight management? A systematic review and meta-analysis of energy intake data. Appetite, 2014
  2. ↑ The effects of hedonically acceptable red pepper doses on thermogenesis and appetite. Physiology & Behavior, 2011
  3. ↑ Capsaicin-induced satiety is associated with gastrointestinal distress but not with the release of satiety hormones. The American Journal of Clinical Nutrition, 2016
  4. ↑ Effects of twelve weeks of capsaicinoid supplementation on body composition, appetite and self-reported caloric intake in overweight individuals. Appetite, 2017

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.