Lewati ke konten

Kenapa Cabai Pedas, dan Kenapa Air Tidak Meredakannya

3 menit baca

Pedas cabai tidak diterima lidah sebagai rasa, melainkan sebagai sinyal panas dan nyeri. Itu sebabnya air putih hampir tidak menolong, dan es krim atau susu justru meredakannya. Cabai yang berbeda juga membawa kapsaisin dalam jumlah yang jauh berbeda, jadi “pedas” bukan satu ukuran.

Kapsaisin Menekan Saklar Panas di Mulut

Senyawa pedas cabai bekerja pada satu reseptor tertentu. Menurut tinjauan sistematis kapsaisin untuk nyeri orofasial di International Journal of Molecular Sciences tahun 2026[1], kapsaisin adalah agonis selektif TRPV1, reseptor yang berperan pusat dalam penghantaran rasa nyeri.

Reseptor yang sama juga menanggapi panas. Karena itu mulut melaporkan sensasi terbakar walau tidak ada yang panas, dan sensasi itu bertahan beberapa menit setelah Cabai Rawit tertelan.

Kenapa Air Putih Hampir Tidak Menolong

Percobaan pembandingnya ada. Sebuah penelitian di Journal of Food Science tahun 2024[2] meminta peserta berkumur larutan kapsaisin 5 ppm, lalu mencoba enam penawar: es krim, es serut Italia, yogurt, lassi, air dingin 4 derajat Celsius, dan air hangat 37 derajat Celsius. Semua penawar bekerja lebih baik daripada air hangat.

Hasil terbaiknya es krim dan lassi, yang menurunkan rasa terbakar paling banyak, dan penelitinya menyimpulkan bukan satu sifat produk yang bekerja, melainkan gabungan beberapa: kandungan lemak, protein, dan suhu dingin. Jadi susu dingin, yogurt, dan santan menolong karena ketiganya sekaligus, sedangkan air putih hanya memindahkan sedikit kapsaisin tanpa mengikatnya.

Cabai yang Berbeda, Kapsaisin yang Jauh Berbeda

Perbedaan antar jenis cabai bukan soal perasaan. Sebuah penelitian di jurnal Frontiers in Plant Science tahun 2026[3] mengukur kadar kapsaisin tujuh kultivar dengan kromatografi cair dan menempatkan habanero di urutan teratas, 4.777 miligram per kilogram bobot kering, sedangkan anaheim paling ringan, 0,9 miligram per kilogram.

Penelitian yang sama menemukan ekstraksi dari cabai kering menghasilkan kapsaisin jauh lebih banyak daripada cabai basah. Itu sejalan dengan pengalaman dapur bahwa Cabai Keriting kering terasa lebih pekat daripada yang segar, dan chipotle, ancho, dan gochugaru punya cara pakainya masing-masing.

Kalau kuah sudah terlalu pedas, tambahkan bahan berlemak dan berprotein, misalnya santan, susu, atau kelapa parut sangrai, lalu sajikan tidak terlalu panas. Ketiga faktor yang disebut penelitian di atas bekerja bersamaan di situ. Kalau masakannya belum disajikan, menambah porsi bahan utama tanpa menambah cabai juga menurunkan pedas di setiap suapan.

Menambah air justru mengencerkan rasa tanpa mengurangi banyak pedasnya, dan menambah gula hanya menutupi. Untuk sambal, memilih jenis cabainya sejak awal lebih menentukan daripada memperbaiki di akhir, misalnya rawit untuk pedas, merah besar untuk warna.

Pedas yang Lain Sama Sekali

Cabai Merah Besar memberi warna dengan pedas yang ringan, dan itu sebabnya ia dipakai di sambal yang harus merah tanpa membakar. Pedas mustard, wasabi, dan lobak kuda bekerja lewat jalur yang berbeda dan terasa di hidung, karena senyawanya baru terbentuk saat sel pecah.

Urutan memasukkan cabai ke dalam masakan juga menentukan hasilnya, dan bumbu yang masih berair belum bisa matang.

Rujukan

Sumber untuk keterangan reseptor, percobaan penawar, dan kadar kapsaisin di artikel ini.

  1. ↑ Capsaicin for Orofacial Pain Management: Systematic Review and Meta-Analysis. International Journal of Molecular Sciences, 2026
  2. ↑ Fat, Protein, and Temperature Each Contribute to Reductions in Capsaicin Oral Burn. Journal of Food Science, 2024
  3. ↑ Quantitative Profiling of Capsaicin Content in Seven Chili Pepper Cultivars. Frontiers in Plant Science, 2026

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.