Lewati ke konten

Kenapa Bumbu Harus Ditumis sampai Minyaknya Pecah

4 menit baca

Bumbu harus ditumis sampai minyaknya pecah karena sebelum itu bumbu masih berair, dan bumbu yang berair belum bisa matang. Selama airnya belum habis, suhu bumbu tertahan di sekitar 100 derajat Celsius, titik didih air. Di suhu itu bau langu, yaitu bau mentah bawang dan rimpang, belum hilang dan warnanya belum berubah.

Apa yang Terjadi di dalam Wajan

Bumbu halus sebagian besar berisi air dari bawang, cabai, dan rimpang. Begitu dipanaskan, air itu menguap sedikit demi sedikit. Selama penguapan berjalan, suhu adonan tidak naik jauh melewati 100 derajat.

Suhu itu terlalu rendah untuk mematangkan bumbu. Warna cokelat dan aroma manis gurih pada bawang tumis berasal dari reaksi Maillard, dan tinjauan tentang reaksi Maillard di jurnal Foods[1] mencatat reaksi ini melambat di bawah 100 derajat dan ikut melambat kalau airnya terlalu banyak. Karena itu bumbu yang masih basah terasa mentah walau sudah lama di atas api.

Begitu airnya habis, suhu naik cepat. Minyak yang tadinya bercampur dengan adonan terpisah lalu menggenang, dan genangan inilah yang disebut minyak pecah. Sejak titik itu warna bumbu menggelap, aromanya berubah dari tajam jadi manis, dan rasa mentahnya hilang.

Tiga Tanda Minyak Sudah Pecah

Tanda pertama terlihat di pinggir wajan. Miringkan wajan sedikit. Kalau ada minyak bening yang terpisah dari bumbu, airnya sudah habis.

Tanda kedua terdengar. Bumbu basah berbunyi mendesis rendah karena airnya menguap. Sesudah minyak pecah, bunyinya lebih tinggi dan lebih kering, mirip bunyi menggoreng.

Tanda ketiga terasa di spatula. Bumbu yang masih berair lengket dan menarik. Bumbu yang sudah matang bergerak bebas dan mudah dikumpulkan di tengah wajan.

Dua hal sering dikira tanda matang padahal belum. Wangi bawang sudah kuat di menit-menit awal, jauh sebelum airnya habis. Warna yang menggelap juga bisa berarti gosong, dan bedanya tercium: bumbu matang berbau manis, bumbu gosong berbau pahit menusuk.

Api, Waktu, dan Wajan

Pakai api kecil sampai sedang. Api besar membakar bumbu yang menempel di dasar wajan sebelum air di bagian atasnya habis, sehingga bumbu gosong di bawah tapi masih mentah di atas. Rasa pahit gosong itu tidak bisa ditutup dengan apa pun.

Dengan api kecil, bumbu dasar untuk empat porsi biasanya perlu 8 sampai 15 menit sampai minyaknya pecah. Lamanya bergantung pada banyaknya air, jadi bumbu yang dihaluskan dengan blender dan tambahan air perlu waktu lebih lama daripada bumbu ulekan.

Siapkan tiga sampai empat sendok makan minyak untuk empat porsi, supaya bumbu bisa bergerak dan tidak menempel. Wajan lebar mempercepat prosesnya karena uap air punya permukaan luas untuk keluar. Di panci sempit berdinding tinggi, uap tertahan dan bumbu yang sama perlu waktu jauh lebih lama.

Rempah Lain Masuk Sesudah Bumbunya Matang

Rempah kering yang tidak ikut dihaluskan, seperti Jinten bubuk, Ketumbar bubuk, dan Kunyit bubuk, dimasukkan sesudah bumbu basah mulai berubah warna. Kalau ikut ditumis dari awal, minyak atsirinya, minyak wangi yang mudah menguap, sudah habis sebelum masakan jadi. Kunyit bubuk yang terlalu lama di wajan juga berubah kecokelatan dan pahit.

Daun dan batang beraroma masuk sesudahnya. Serai, Daun Salam, dan Lengkuas dimasukkan bersamaan dengan santan atau air, karena aromanya keluar pelan-pelan selama direbus. Menumisnya lebih dulu tidak menambah aroma dan membuatnya mudah gosong.

Daun lunak seperti Daun Bawang masuk paling akhir, menjelang api dimatikan, karena panas yang lama membuatnya layu tanpa menambah aroma. Cabai kering, misalnya Cabai Keriting yang sudah dikeringkan, punya aturan sendiri: masukkan ke minyak panas sebentar sebelum bumbu halus, karena warnanya larut di minyak. Batasnya pendek, sekitar 10 sampai 15 detik, sebelum cabai itu berubah pahit.

Kalau Bumbunya Terlanjur Kurang Matang

Kuah yang rasanya mentah tidak bisa diperbaiki dengan garam atau gula, karena bumbunya memang belum matang. Pindahkan sebagian besar kuah ke panci lain. Bumbu dan sedikit kuah yang tersisa di wajan dimasak terus sampai airnya habis dan minyaknya pecah, lalu kuah dikembalikan dan dimasak sebentar supaya tercampur.

Cara ini merepotkan, dan itu alasan menunggu 8 sampai 15 menit di awal jauh lebih mudah daripada memperbaikinya di akhir.

Bumbu yang paling sering ditumis sampai minyaknya pecah adalah tiga bumbu dasar. Isi dan kegunaan bumbu dasar sudah dirinci, dan memanaskan rempah kering tanpa minyak punya caranya sendiri.

Menumis adalah satu tahap di antara beberapa. Sebelumnya, bentuk potongan rempah menentukan seberapa cepat aromanya keluar. Sesudahnya, rempah masuk ke kuah dengan urutan yang ditentukan sifat senyawanya.

Bumbu yang telanjur terlalu kuat saat ditumis masih bisa diperbaiki. Rendang adalah contoh masakan yang bumbunya dimasak paling lama, dan takaran bumbunya per kilogram daging sudah dicatat. Tidak semua masakan menumis bumbunya: nasi berbumbu dan pepes memasak rempah di ruang tertutup yang lembap.

Rujukan

Sumber untuk keterangan ilmiah di artikel ini.

  1. ↑ Maillard Reaction: Mechanism, Influencing Parameters, Advantages, Disadvantages, and Food Industrial Applications: A Review. Foods, 2025

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.