Kayu Manis Cassia, Ceylon, dan Vietnam: Mana yang Anda Beli, dan Soal Kumarin
Kayu manis yang dijual di Indonesia hampir selalu cassia, bukan kayu manis ceylon. Untuk pemakaian sesekali di masakan, perbedaan itu tidak jadi masalah. Perbedaannya baru penting bagi orang yang mengonsumsi kayu manis setiap hari, karena cassia mengandung kumarin jauh lebih banyak daripada ceylon. Sebagian orang meminumnya setiap hari karena klaim soal gula darah, dan hasil uji klinisnya pada manusia belum memberi jawaban tegas.
Tabel berikut membandingkan jenis kayu manis yang beredar. Isinya dibaca langsung dari entri masing-masing.
| Rempah | Nama latin | Profil rasa | Intensitas |
|---|---|---|---|
| Kayu Manis | Cinnamomum burmannii | Manis hangat dengan gigitan pedas | |
| Kayu Manis Ceylon | Cinnamomum verum | Manis lembut tanpa gigitan | |
| Kayu Manis Vietnam | Cinnamomum loureiroi | Manis pedas yang kuat | |
| Tejpat | Cinnamomum tamala | Hangat manis dengan sisa getir tipis |
Empat Jenis dengan Nama Dagang Berbeda
Kayu manis di pasar dunia berasal dari beberapa spesies. Sebuah penelitian di Journal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2014[1] menyebut Cinnamomum burmannii sebagai kayu manis Korintje, Jawa, atau Indonesia, C. loureiroi sebagai kayu manis Vietnam atau Saigon, C. cassia sebagai kayu manis Tiongkok, dan C. verum sebagai kayu manis Sri Lanka atau ceylon.
Kayu Manis Indonesia menguasai perdagangan cassia. Laporan FAO tentang perdagangan hasil hutan bukan kayu[2] mencatat Indonesia memasok sekitar dua pertiga perdagangan cassia dunia pada awal 1990-an, sedangkan Sri Lanka memasok 80 sampai 90 persen perdagangan kayu manis ceylon.
Rasanya juga berbeda. Penelitian tahun 2014 itu mencatat kayu manis ceylon dianggap paling halus dan paling kompleks rasanya, cassia Tiongkok dan Kayu Manis Vietnam pedas-manis kuat, sedangkan cassia Indonesia lebih lembut dengan rasa menggigit yang lebih ringan.
Membedakannya di Tangan
Kayu Manis Ceylon dijual sebagai gulungan kulit tipis. Catatan PROSEA untuk kayu manis ceylon[3] menyebut kulitnya tidak lebih dari 0,5 sentimeter tebalnya dan berwarna cokelat pucat kusam, dan gulungan panjang biasanya diisi potongan kulit yang lebih kecil di dalamnya sebelum dikeringkan.
Cassia umumnya lebih tebal dan keras, jadi gulungan yang bisa diremukkan dengan jari lebih mungkin ceylon. Namun bubuk kayu manis tidak bisa dibedakan dengan mata. Kalau memang perlu ceylon, beli batang utuh yang jelas berlabel ceylon atau Cinnamomum verum, lalu giling sendiri.
Label kemasan juga membantu. Korintje berarti cassia Indonesia, Saigon berarti kayu manis Vietnam, dan true cinnamon atau ceylon berarti kayu manis ceylon. Kemasan yang hanya bertuliskan cinnamon biasanya cassia.
Kumarin dan Siapa yang Perlu Memperhatikan
Perbedaan kesehatan yang paling nyata ada pada kumarin. Penelitian di Journal of Agricultural and Food Chemistry tahun 2013[4] menemukan kulit kayu manis ceylon hanya mengandung kumarin dalam jumlah renik, sedangkan ketiga jenis cassia, terutama kayu manis Vietnam dan Indonesia, mengandung kumarin dalam jumlah besar.
Menurut lembaga penilai risiko pangan Jerman (BfR)[5], batas asupan harian kumarin yang dapat ditoleransi adalah 0,1 miligram per kilogram berat badan. Orang dewasa 60 kilogram sudah mencapai batas itu dengan sekitar 2 gram cassia per hari, dan anak 15 kilogram dengan sekitar 0,5 gram. BfR mencatat kumarin bisa mengganggu hati pada orang yang peka, tetapi pengaruhnya umumnya pulih.
NCCIH menilai kayu manis kemungkinan aman dalam jumlah yang lazim dipakai sebagai bumbu, tetapi pemakaian cassia berkepanjangan bisa menjadi masalah bagi orang yang peka, misalnya penderita penyakit hati. Jadi sebatang kayu manis di sepanci semur tidak perlu dikhawatirkan, sedangkan satu sendok teh bubuk cassia setiap hari lebih tepat diganti ceylon.
Kerabat yang Beraroma Kayu Manis
Tejpat adalah daun dari pohon sekerabat kayu manis, dan Kuncup Kayu Manis adalah kuncup bunga yang dikeringkan. Masoi dari Papua juga satu suku dengan kayu manis, dengan aroma yang berbeda. Rinciannya tercatat di entri masing-masing.
Kayu manis juga sering muncul di minuman rempah, dan rempah yang diseduh di gelas bisa terasa lebih tipis daripada di kuah santan. Orang yang minum obat rutin atau suplemen herbal sebaiknya juga mengenali interaksi suplemen herbal dengan pengencer darah. Isi artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan nasihat dokter.
Hasil penelitian pada sel dan hewan belum tentu berulang pada manusia, dan cara menimbang kekuatan bukti itu punya ulasan sendiri.
Sentra cassiavera di Sumatra dan sejarahnya ditulis terpisah. Kayu manis juga termasuk isi racikan lima rempah ngohiong dan aroma utama kue rempah seperti lapis legit. Dalam bentuk suplemen, kayu manis punya batas aman sendiri.
Rujukan
Sumber untuk keterangan botani, perdagangan, dan keamanan di artikel ini.
- ↑ Differentiation of the Four Major Species of Cinnamons (C. burmannii, C. verum, C. cassia, and C. loureiroi) Using a Flow Injection Mass Spectrometric Fingerprinting Method. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 2014
- ↑ International Trade in Non-Wood Forest Products: Spices and Condiments. FAO
- ↑ Cinnamomum verum (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Cassia Cinnamon as a Source of Coumarin in Cinnamon-Flavored Food and Food Supplements in the United States. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 2013
- ↑ FAQ on Coumarin in Cinnamon and Other Foods. Bundesinstitut für Risikobewertung (BfR)
- Cinnamon: Usefulness and Safety. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH)
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Kayu ManisCinnamomum burmanniiManis hangat dengan gigitan pedas
- Kayu Manis CeylonCinnamomum verumManis lembut tanpa gigitan
- Kayu Manis VietnamCinnamomum loureiroiManis pedas yang kuat
- Kuncup Kayu ManisCinnamomum cassiaManis hangat yang lebih ringan daripada kulitnya
- MasoiCryptocarya massoyManis hangat dengan sisa pedas ringan
- TejpatCinnamomum tamalaHangat manis dengan sisa getir tipis
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
