Kerinci dan Kayu Manis: Kenapa Sumatra Jadi Pusat Cassiavera
Kayu manis yang dijual di pasar Indonesia hampir selalu cassiavera, kulit kering dari Cinnamomum burmanni, dan sebagian besar datang dari Sumatra. Nama dagangnya di pasar dunia bahkan memakai nama kota: Padang cassia.
Yang Ditanam di Sini Bukan Ceylon
Menurut catatan PROSEA untuk Cinnamomum burmanni[1], jenis inilah yang dikenal sebagai Indonesian cassia dan Padang cassia, dan hanya kulitnya yang bernilai ekonomi.
Sumber yang sama mencatat marga Cinnamomum berisi 150 sampai 250 jenis, dengan sekitar 90 jenis di kawasan Malesia. Kayu Manis Ceylon berasal dari jenis lain lagi dan berkadar kumarin jauh lebih rendah, seperti terlihat pada perbandingan cassia, ceylon, dan vietnam.
Padang, Kerinci, dan Sekitarnya
PROSEA menyebut Padang di Sumatra Barat sebagai daerah produksi penting, dan mencatat luas panen Kayu Manis di Indonesia pada 1998 diperkirakan FAO sebesar 60.000 hektare dengan produksi 40.000 ton.
Dataran tinggi di sekitar Kerinci, yang membentang di perbatasan Jambi dan Sumatra Barat, termasuk kawasan yang paling dikenal untuk komoditas ini. Ketinggian dan curah hujannya cocok untuk pohon yang kulitnya baru dipanen setelah bertahun-tahun.
Seberapa Besar Sebenarnya
Angka pangsa dunia perlu dibaca hati-hati. PROSEA mencatat Amerika Serikat mengimpor sekitar 13.000 ton gulungan kulit kayu manis per tahun dari Indonesia selama 1991 sampai 1994, senilai sekitar 23 juta dolar Amerika, dan menyebut cassia Indonesia sebagai produk ekspor penting.
Angka-angka itu sudah lama, dan saya tidak menemukan data pangsa dunia terbaru yang bisa dibuka bebas untuk memastikan berapa persen pasokan dunia yang datang dari Indonesia hari ini. Jadi yang bisa dikatakan dengan aman: Indonesia adalah salah satu pemasok utama cassia dunia, dengan Sumatra sebagai pusatnya, sedangkan Tiongkok menjadi produsen utama untuk jenis cassia yang berbeda, yaitu Cinnamomum cassia.
Kenapa Dijual sebagai Gulungan Kulit
Kulit yang dikupas menggulung sendiri saat mengering, dan bentuk gulungan itu yang dijual. Kulit tebal dari pohon tua menghasilkan gulungan yang lebih kasar, sedangkan kulit dari cabang muda lebih tipis dan rapuh.
Di dapur, perbedaan itu terasa pada kekuatan rasa dan pada seberapa mudah kulitnya dipatahkan. Batang utuh juga bertahan jauh lebih lama daripada bubuknya, dan angkanya tercatat di entri kayu manis.
Cara Memilihnya di Pasar
Tiga tanda yang menolong. Gulungan yang masih berminyak mengeluarkan aroma begitu dipatahkan, sedangkan yang sudah lama berbau tipis dan berdebu. Warna cokelat kemerahan lebih baik daripada cokelat keabuan. Ketebalan kulit menunjukkan umur pohonnya, dan kulit tebal biasanya lebih kuat rasanya untuk masakan berkuah.
Untuk kue yang rasanya halus, kulit yang lebih tipis lebih mudah diatur. Kalau yang tersedia hanya bubuk, beli kemasan kecil dan pakai lebih cepat, karena bubuk kehilangan aroma jauh lebih dulu daripada batangnya.
Yang Menentukan Harganya
Seperti cengkeh dan lada, harga kayu manis bergerak mengikuti panen, permintaan ekspor, dan mutu kulit. Karena pohonnya butuh bertahun-tahun sebelum bisa dipanen kulitnya, kenaikan harga tidak langsung menambah pasokan. Mutu kulit itu sendiri dibaca dari tebal kulit dan kerokannya, tanda yang hilang begitu kayu manis dijadikan bubuk.
Pola serupa terlihat pada naik turunnya harga cengkeh dan pala, dan kerangka sejarah perdagangannya terbentang dari masa praaksara hingga era VOC. Kuncup Kayu Manis dari pohon yang sama dijual terpisah dan dipakai untuk tujuan yang berbeda.
Rujukan
Sumber untuk keterangan botani, produksi, dan perdagangan di artikel ini.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
