Lewati ke konten

Pala Grenada: Bibit dari Asia yang Masuk ke Bendera Negara

4 menit baca

Buah pala di bendera Grenada berasal dari tanaman yang aslinya tumbuh di Maluku. Pala dibawa ke pulau kecil di Karibia itu pada 1843, menjadi komoditas ekspor penting pada awal abad ke-20, dan akhirnya dipasang sebagai lambang di bendera nasional yang dikibarkan saat Grenada merdeka pada 7 Februari 1974. Julukan Grenada sebagai Pulau Rempah dari Barat lahir dari tanaman pendatang ini.

Dari Banda ke Karibia

Pala (Myristica fragrans) hanya dikenal sebagai tanaman budi daya. Catatan PROSEA tentang pala[1] menyebut asalnya kemungkinan besar Maluku bagian selatan, terutama Ambon dan Banda. Portugis tiba di Banda pada 1512, lalu Belanda menguasai perdagangannya. Catatan yang sama menulis bahwa pada 1843 beberapa tanaman pala dibawa ke Grenada, dan dari situlah produksi besar-besaran di pulau itu bermula.

Jalan menuju Grenada tidak lurus. Catatan sejarah pala dari Grenada National Trust[2], disusun J.R. Groome pada 1967, menceritakan upaya Prancis dan Inggris mematahkan monopoli Belanda. Pada 1770 sebuah ekspedisi Prancis membawa 400 pohon pala ke Mauritius, tetapi sebagian besar bibitnya mati. Pada 1796 Serikat Dagang Hindia Timur Inggris mengambil biji pala dari Maluku untuk ditanam di Pulau Penang. Kisah ini mirip dengan bibit cengkeh Maluku yang berakhir di Zanzibar, hanya tujuannya berbeda samudra. Pala sudah tercatat lebih awal di Ambon, dalam katalog tumbuhan Ambon susunan Rumphius yang mulai dikerjakan sejak 1663.

Siapa yang Membawanya

Nama pembawanya tidak sepenuhnya pasti. Groome menulis bahwa pala pertama disebut-sebut dibawa oleh Frank Gurney dengan biji dari Banda pada 1843, dan ditanam di Belvidere Estate, Paroki St John. Ia juga mencatat kemungkinan lain: para pengawas perkebunan tebu dari Hindia Barat yang bekerja di Penang sekitar 1840 membawa biji pala saat pulang. Pada 1967 salah satu kebun di Grenada bernama Penang Estate, yang menurut Groome menunjuk asal bibitnya.

Dua jalur itu tidak saling meniadakan, dan Groome mengakui nama Gurney tidak ditemukan lagi di catatan perkebunan sesudahnya. Yang tercatat pasti adalah hasilnya. Grenada mulai menanam pala secara serius sebagai tanaman ekonomi sesudah 1860, setelah kebun pala di Bengkulu dan Penang diserang hama pada 1851 dan 1859. Ekspor pertama tercatat pada 1881, hampir 100.000 pon pala dan Fuli.

Dari Komoditas Menjadi Lambang

Menurut Groome, pala dijadikan lambang pada bendera pulau itu mulai 3 Maret 1967. Groome mencatat alasannya dengan terus terang: Grenada tidak punya hewan atau tumbuhan asli yang cukup terkenal untuk dijadikan lambang, jadi dipilih tanaman pendatang yang sudah menghidupi ekonomi pulau selama puluhan tahun.

Bendera yang berlaku sekarang dirancang oleh Anthony C. George dari Soubise. Halaman lambang negara Pemerintah Grenada[3] menyebut bendera itu dipakai sejak kemerdekaan pada 7 Februari 1974. Buah pala di sisi tiang melambangkan nama Grenada sebagai Pulau Rempah dan ikatannya yang lama dengan ekonomi negara. Lambang negara Grenada juga memuat setangkai pala berbuah masak di samping setangkai kakao.

Pesaing Banda di Pasar Dunia

Grenada kemudian menjadi penghasil pala terbesar kedua. PROSEA mencatat bahwa sekitar 60 persen pala dan fuli di pasar dunia berasal dari Indonesia dan 30 persen dari Grenada. Sejak Juli 1987 koperasi pala Grenada dan asosiasi pala Indonesia menyepakati kuota penjualan tahunan: Indonesia 6.000 ton pala dan 1.250 ton fuli, Grenada 2.000 ton pala dan 350 ton fuli. Angka itu berasal dari masa terbitnya PROSEA dan tidak menggambarkan keadaan sekarang. Data terbaru ada pada ulasan negara dan daerah penghasil pala.

Groome menulis bahwa pala Grenada pada masanya berbeda jelas dari pala Indonesia dalam warna, bentuk, ukuran, kadar minyak, dan rasa. Klaim itu berasal dari pengamatan 1967, bukan uji laboratorium, tetapi menunjukkan bahwa orang Grenada sendiri sudah menganggap palanya berbeda. Groome juga mencatat bahwa pulau itu menanam Allspice, lada hitam, kayu manis, cengkeh, jahe, dan Vanili, tetapi ekspornya kecil dibandingkan pala.

Pohon yang Rentan Badai

Ketergantungan pada satu tanaman membuat Grenada rapuh. Groome mencatat badai 1955 menumbangkan banyak pohon pala, karena tajuknya berat dan akarnya dangkal. Hal serupa terulang dalam skala lebih besar. Seruan bantuan PBB setelah Badai Ivan[4] pada 2004 menyebut kerusakan tanaman pala sebagai kekhawatiran khusus, karena pala menyumbang 80 persen ekspor pertanian Grenada, dan pohon yang ditanam ulang butuh sedikitnya tujuh tahun untuk berbuah.

Kisah Grenada menambah satu bab pada perdagangan rempah Maluku yang berabad-abad. Bibit yang dulu dijaga ketat di Banda akhirnya tumbuh di seberang dunia, lalu berbalik menjadi pesaing di pasar yang sama. Ceritanya berkaitan juga dengan pertukaran Pulau Run dengan Manhattan, yang lahir dari perebutan pala yang sama.

Rujukan

Sumber untuk asal pala, sejarah masuknya ke Grenada, makna bendera, pangsa pasar, dan dampak badai.

  1. ↑ Myristica fragrans (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ The Nutmeg Story. Grenada National Trust (J.R. Groome), 1967, dimuat di grenada-history.org
  3. ↑ National Symbols. Government of Grenada
  4. ↑ Grenada Hurricane Ivan Flash Appeal Oct 2004 – Mar 2005. ReliefWeb, OCHA, 2004

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.