Cengkeh Zanzibar: Bibit yang Berasal dari Maluku
Cengkeh yang ditanam di Zanzibar berasal dari Maluku Utara. Bibitnya dibawa orang Prancis ke Mauritius pada abad ke-18, lalu menyebar ke Zanzibar, Madagaskar, dan belakangan Brasil. Pohon keturunan itu kemudian dikenal sebagai tipe Zanzibar, dan tipe itu kini ikut ditanam lagi di Indonesia, termasuk di Ternate.
Bibit yang Lolos dari Kapak VOC
Cengkeh (Syzygium aromaticum) pertama kali dibudidayakan di beberapa pulau di Maluku, tempat pohonnya juga tumbuh liar. Menurut catatan PROSEA tentang cengkeh[1], kebun cengkeh sudah tersebar di banyak pulau ketika Belanda mengusir Portugis dari Maluku pada awal abad ke-17. Di bawah Belanda, tanaman itu dimusnahkan secara paksa di mana-mana dan dipusatkan di Ambon serta tiga pulau kecil di dekatnya.
Pemusnahan itu bagian dari penebangan kebun di luar wilayah yang diizinkan, cara VOC menjaga harga tetap tinggi. Tetapi tidak semua pohon tertebang. PROSEA mencatat bahwa dalam ekspedisi tahun 1753, 1770, dan 1772, orang Prancis mengambil anakan dari pohon yang lolos dari kapak Belanda. Anakan itu dibawa dari Maluku Utara ke Mauritius, pulau jajahan Prancis di Samudra Hindia.
Dari Mauritius ke Zanzibar
Tanaman dari Mauritius itulah yang menjadi asal populasi cengkeh di luar Asia: di Zanzibar, Madagaskar, dan belakangan di Bahia, Brasil. Jalur ke Asia berbeda. Pada awal abad ke-19, Inggris membawa cengkeh dari Maluku ke Pinang, Sumatra, India, dan Sri Lanka.
Tahun masuknya cengkeh ke Zanzibar tidak seragam di berbagai tulisan. Penelitian keragaman cengkeh di Pulau Ternate[2] menyebut cengkeh diselundupkan ke Zanzibar pada 1808, dan bahwa lama-kelamaan muncul jenis cengkeh Zanzibar yang sebenarnya berasal dari Indonesia. Tulisan populer banyak yang menyebut tahun lain, jadi angka tahunnya sebaiknya dibaca sebagai perkiraan awal abad ke-19.
Pala mengalami nasib serupa. Catatan PROSEA untuk pala menyebut Prancis mematahkan monopoli pala pada 1772, dan Inggris mengakhirinya pada 1802. Pada 1843 Pala masuk ke Grenada di Karibia, yang kemudian menjadi penghasil pala terbesar kedua sesudah Indonesia.
Zanzibar Menjadi Penghasil Terbesar
Selama lebih dari seratus tahun, Zanzibar adalah penghasil cengkeh terbesar di dunia. PROSEA mencatat produksinya rata-rata 11.000 ton per tahun pada 1960 sampai 1970, lebih tinggi daripada Indonesia yang 9.000 ton dan Madagaskar yang 6.000 ton. Keadaan itu kemudian berbalik. Pada 1996 sampai 1998, Madagaskar menghasilkan 15.000 ton setahun, jauh di atas Zanzibar yang 6.000 ton.
Indonesia bergerak ke arah lain lagi. Luas kebun cengkeh Indonesia naik dari 8.200 hektare pada 1951 menjadi hampir 750.000 hektare pada 1987. Sebagian besar hasilnya tidak diekspor, karena lebih dari 90 persen cengkeh dipakai bersama tembakau untuk rokok kretek yang diisap di dalam negeri. Penelitian di Ternate yang dibahas di bawah menyebut Indonesia sebagai produsen sekaligus konsumen cengkeh terbesar di dunia.
Tipe Zanzibar di Kebun Indonesia
PROSEA menyebut populasi cengkeh di Zanzibar dan Madagaskar cukup seragam. Di Indonesia, PROSEA membedakan tiga tipe: Siputih, Sikotok, dan Bunga Lawang Kiri. Tipe terakhir diduga sama dengan tipe Zanzibar, dan namanya tidak berhubungan dengan Bunga Lawang, buah berbentuk bintang dari tanaman lain. Ketiganya berbeda pada bentuk pohon, ukuran daun, serta ukuran dan warna kuncup, tetapi banyak pohon berada di antara dua tipe. Siputih menghasilkan kuncup besar yang dihargai pedagang, tetapi disebut kurang produktif.
Penelitian di Ternate tadi menemukan sebelas jenis cengkeh di pulau itu, dan tipe Zanzibar paling banyak dijumpai. Pohonnya rimbun dan berbunga lebat, tabung bunganya umumnya merah dengan pangkal agak kehijauan. Petani setempat percaya tipe Zanzibar adalah tetua semua jenis cengkeh yang ada. Kepercayaan itu terbalik dari catatan sejarahnya: bibit Zanzibar justru keturunan pohon Maluku Utara, tempat Ternate dan Tidore pernah berebut pengaruh. Di pulau yang sama, Cengkeh Afo dan tiga generasinya juga diduga menjadi tetua cengkeh lain.
Data metabolit daun sepuluh jenis cengkeh Maluku di Data in Brief[3] juga memuat jenis bernama Red Zanzibar, yang contohnya diambil di Fobaharu, Tidore, dan di Tobelo, Halmahera. Dua lokasi itu menunjukkan cengkeh tipe Zanzibar sudah kembali ditanam di pulau-pulau asal leluhurnya.
Kenapa Kisah Ini Masih Dicatat
Monopoli Belanda bergantung pada satu syarat: pohonnya hanya tumbuh di wilayah yang bisa dijaga. Selama itu benar, harga bisa diatur dengan menebang kebun. Begitu anakan cengkeh tumbuh di Mauritius lalu Zanzibar, dan pala tumbuh di Grenada, menebang pohon di Maluku tidak lagi menahan pasokan dunia. Rangkaian peristiwa sebelumnya tercatat dalam riwayat pelayaran rempah Nusantara, dan kisah Zanzibar adalah lanjutannya di luar kepulauan ini.
Rujukan
Sumber untuk sejarah penyebaran cengkeh dan pala serta tipe cengkeh di Indonesia.
- ↑ Syzygium aromaticum (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Keragaman dan Kekerabatan Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) di Pulau Ternate. Cannarium (Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian), 2021
- ↑ Diversity of the non-targeted metabolomic data across various varieties of Cloves (Syzygium spp.). Data in Brief, 2024
- Myristica fragrans (PROSEA). Pl@ntUse
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
