Lewati ke konten

Ternate dan Tidore: Dua Kesultanan Cengkeh yang Bersaing

7 menit baca

Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore, dua kerajaan di dua pulau kecil bertetangga di Maluku Utara, pernah menentukan harga Cengkeh di separuh dunia. Keduanya kesultanan tua, sama-sama penghasil cengkeh, dan persaingan keduanya yang kemudian dipakai bangsa Eropa untuk masuk. Portugis bersekutu dengan Ternate, Spanyol dengan Tidore, lalu Belanda lewat VOC mengikat Ternate dengan serangkaian perjanjian sampai kesultanan itu kehilangan kedaulatannya pada 1683.

Dua Kesultanan Tua yang Bersaing

Menurut kajian tentang Kepulauan Maluku di The Asia-Pacific Journal tahun 2017[1], sebelum bangsa Eropa datang perdagangan rempah di wilayah itu dikuasai dua kesultanan yang bersaing: Ternate yang berdiri pada 1257 dan Tidore pada 1109.

Keduanya menjual rempah kepada pedagang Tionghoa, Melayu, Arab, dan Jawa, yang membawanya melintasi Asia Tenggara sampai Teluk Persia, lalu ke Damaskus dan Konstantinopel sebelum akhirnya tiba di Eropa. Jadi jaringan dagangnya sudah rapi jauh sebelum kapal Eropa muncul, sejalan dengan perdagangan rempah yang berusia dua ribu tahun.

Ternate dan Tidore tidak sendirian. Pada abad ke-15 Ternate memimpin persekutuan Moloku Kie Raha, yaitu empat kerajaan Maluku Utara: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Persekutuan itu tidak menghapus persaingan. Hikayat Ikan-Ikan Hiu Idohoma, karya sastra Maluku yang dibahas kajian Atlantis Press di bawah, menggambarkan Ternate sebagai kerajaan besar yang sering meluaskan wilayah dan menjadikan kerajaan lain bawahannya, termasuk Jailolo di Halmahera.

Garis Waktu Kesultanan Ternate dan Tidore

Tabel ini merangkum tahun-tahun yang paling sering ditanyakan di pelajaran sejarah. Setiap baris diuraikan di bagian sesudahnya, dengan sumbernya.

Tahun Peristiwa Pihak yang terlibat
1109 Kesultanan Tidore berdiri Tidore
1257 Kesultanan Ternate berdiri Ternate
1512 Portugis tiba di Maluku dari Malaka Portugis, Ternate
1522 Portugis mulai membangun benteng di Ternate Portugis, Ternate
1570 Sultan Khairun terbunuh; Baabullah naik takhta dan benteng Portugis mulai dikepung Ternate, Portugis
1575 Portugis diusir dari Ternate setelah dikepung lima tahun Ternate, Portugis
1583 Akhir masa pemerintahan Sultan Baabullah Ternate
1599 Kapal Belanda pertama tiba di Ternate Belanda, Ternate
1603 Spanyol bersekutu dengan Sultan Tidore Spanyol, Tidore
1606 Pasukan Spanyol menyerbu Ternate Spanyol, Ternate
1607 Perjanjian Ternate dengan Belanda; Belanda menguasai separuh utara Pulau Ternate VOC, Ternate
1652 Ternate melepaskan Ambon kepada VOC VOC, Ternate
1663 Spanyol meninggalkan Ternate dan Tidore menuju Filipina Spanyol, Tidore
1683 Perjanjian yang menjadikan Ternate kerajaan bawahan VOC VOC, Ternate

Portugis Datang 1512, Diusir 1575

Kajian The Asia-Pacific Journal mencatat Portugis adalah orang Eropa pertama yang tiba di Maluku, lewat ekspedisi 1512 dari pos mereka di Malaka. Sultan Ternate mengundang sebagian anggota rombongan itu ke pulaunya, dan mereka mula-mula diterima sebagai pedagang. Sejak 1513 Portugis mengirim armada dagang setiap tahun, lalu mulai membangun benteng di Ternate pada 1522.

Hubungan itu memburuk karena tiga hal sekaligus: usaha memonopoli perdagangan rempah Ternate, campur tangan pada politik setempat, dan penyebaran agama. Portugis akhirnya diusir pada 1575 setelah bentengnya dikepung lima tahun, lalu memindahkan kegiatannya ke Ambon, tempat mereka sudah mendirikan loji pada 1521.

Sultan Baabullah dan Masa Keemasan Ternate

Pengepungan lima tahun itu dipimpin Sultan Baabullah. Menurut kajian sastra dan konflik rempah Maluku di Atlantis Press[2], persekutuan Ternate dengan Portugis pecah setelah Sultan Hairun, ayah Baabullah, dibunuh Portugis. Pembunuhan itu memicu perang balas dendam yang dipimpin Baabullah sampai Portugis menyingkir ke Ambon dan bentengnya direbut. Kajian lain menulis nama itu Khairun, dan keduanya menunjuk orang yang sama.

Masa pemerintahan Baabullah berlangsung dari 1570 sampai 1583. Kajian tentang masa keemasan Sultan Babullah[3] di Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis menyebut wilayah pengaruh Ternate saat itu membentang dari Mindanao di utara sampai Bima di selatan, dan dari Makassar di barat sampai Banda di timur. Kajian yang sama mencatat Baabullah lahir di Ternate pada 10 Februari 1528 sebagai putra sulung Sultan Khairun, dan menyebut julukannya raja 72 pulau berpenghuni. Francis Drake, pelaut Inggris yang singgah di Ternate pada November 1579, menyebutnya penguasa seratus pulau.

Kekuasaan seluas itu dibiayai pajak yang tertata. Pajak tidak hanya dibayar dengan uang, tetapi juga dengan tenaga untuk istana (kadaton), dengan barang, dan dengan menyediakan kora-kora, perahu perang kerajaan.

Spanyol Memilih Tidore

Pemain berikutnya masuk lewat pihak lawan. Kajian The Asia-Pacific Journal mencatat pedagang Spanyol menjalin persekutuan dengan Sultan Tidore pada 1603, dan meski Tidore secara resmi dimasukkan ke Hindia Timur Spanyol, sultannya tetap memerintah pulau itu. Pada 1606 pasukan Spanyol menyerbu Ternate, dan Sultan Ternate kemudian meminta bantuan Belanda.

Setahun kemudian Belanda merebut separuh utara Pulau Ternate. Spanyol tetap memegang separuh selatan Ternate dan seluruh Tidore sampai 1663, saat pasukannya ditarik ke Filipina. Tidore tetap berdiri sebagai kesultanan. Pada abad ke-18 Maluku Utara terbagi atas tiga kerajaan, yaitu Ternate, Tidore, dan Bacan, yang semuanya terikat perjanjian tertulis dengan VOC, dan wilayah cengkeh Tidore kelak menjadi medan perang Nuku melawan VOC.

Pola itu berulang di sepanjang sejarah Maluku: kekuatan asing tidak datang ke wilayah kosong, melainkan masuk ke persaingan yang sudah ada. Sesudah Spanyol, giliran Belanda yang datang dengan bentuk yang berbeda, yaitu perusahaan dagang bersenjata, yang menjaga monopolinya lewat patroli hongi dan penebangan pohon.

Perjanjian Ternate dengan VOC

Kontak pertama terjadi pada 22 Mei 1599, saat kapal Kapten Wijbrant van Warwijk tiba di Ternate dan diterima baik oleh Sultan Said Barakati. Kajian perdagangan dan politik Ternate masa Belanda[4] di Jurnal Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin mencatat Belanda memanfaatkan permusuhan Ternate dan Tidore: Belanda mendukung Ternate, Spanyol membantu Tidore. Imbalannya hak membeli rempah dan izin mendirikan benteng.

Sesudah itu datang perjanjian demi perjanjian, dan setiap perjanjian mengurangi ruang gerak sultan.

  1. 26 Juni 1607. Cornelis Matelief de Jonge dan Sultan Mudafar sepakat Belanda melindungi Ternate dari Spanyol. Belanda boleh membangun benteng, biaya pasukannya ditanggung Ternate, Belanda mendapat monopoli rempah, dan tidak satu pihak pun boleh membuat perjanjian dengan Spanyol di Tidore tanpa persetujuan pihak lainnya.
  2. 1609. Perjanjian diperbarui: rempah dijual kepada VOC, barang impor dan ekspor dipegang VOC, dan hanya kapal VOC yang boleh mengangkutnya. Gubernur VOC pertama untuk Maluku, Paulus van Carden, diangkat pada 1610.
  3. 31 Januari 1652. Sultan Mandarsyah melepaskan Ambon kepada VOC.
  4. 7 Juli 1683. Pada masa Sultan Sibori Amsterdam, gubernur VOC mendapat hak duduk di dewan kerajaan, setiap hukuman mati harus disetujui VOC, dan setiap pergantian sultan juga harus disetujui VOC.

Kajian yang sama menilai perjanjian 1683 membuat Ternate secara hukum tidak lebih dari kerajaan bawahan VOC. Sultan dan bangsawan menerima tunjangan tahunan dari VOC sebagai ganti pendapatan rempah yang hilang, dan dengan tunjangan itu sultan tidak lagi boleh berdagang rempah sendiri. Pada 1728 sampai 1790 pasukan Ternate di bawah Kapita Lao, panglima perangnya, bahkan ikut memimpin pelayaran hongi yang menebang pohon cengkeh.

Kenapa Cengkeh Jadi Taruhannya

Dua pulau sekecil itu diperebutkan karena sebaran tanamannya. Kajian The Asia-Pacific Journal menyebut Maluku sebagai satu-satunya tempat pala dan cengkeh tumbuh pada abad ke-15, dan rempah Maluku itulah yang kemudian menjadi alasan utama kehadiran Eropa di Nusantara.

Pala dan Fuli berasal dari pohon yang sama dan terpusat di Banda, di Maluku bagian selatan. Cengkeh terpusat di utara, di sekitar Ternate, Tidore, dan Bacan. Pembagian itu yang membuat dua pusat kekuasaan tumbuh di dua tempat berbeda, sementara pala di Kepulauan Banda punya nasib sendiri.

Yang Perlu Diingat

Empat hal yang paling sering keliru di tugas sekolah. Pertama, Ternate dan Tidore adalah dua kesultanan yang berdiri sendiri, bukan satu wilayah yang sama. Kedua, Portugis tidak pernah benar-benar menguasai perdagangan rempah di sana, dan mereka diusir dari Ternate pada 1575 oleh Sultan Baabullah. Ketiga, persekutuan Eropa selalu berpasangan dengan salah satu pihak lokal, jadi sejarahnya bukan sekadar kedatangan orang asing, melainkan juga pilihan politik penguasa setempat. Keempat, Ternate tidak ditaklukkan dalam satu perang; kedaulatannya lepas sedikit demi sedikit lewat perjanjian 1607 sampai 1683.

Menyebut tahun berdirinya kedua kesultanan juga menolong, karena angkanya menunjukkan keduanya jauh lebih tua daripada seluruh kehadiran Eropa di Maluku. Seberapa besar industri kretek menyerap panen cengkeh punya uraian sendiri.

Rujukan

Sumber untuk kronologi dan keterangan sejarah di artikel ini.

  1. ↑ Integration and Conflict in Indonesia’s Spice Islands. The Asia-Pacific Journal: Japan Focus, 2017
  2. ↑ Spices Trade and Social-Political Conflict at Molucca in the Literature. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, Atlantis Press, 2022
  3. ↑ Accounting Practices in the Golden Era of Sultan Babullah: The Sultanate of Ternate (1570-1583). Jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis, 2020
  4. ↑ Perdagangan dan Politik di Kesultanan Ternate pada Era Pemerintahan Belanda. Jurnal Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, 2022

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.