Kenapa Banda Pernah Jadi Tempat Paling Diperebutkan di Dunia
Kepulauan Banda di Maluku diperebutkan karena selama berabad-abad hanya di sanalah Pala dan fuli, selaput biji dari buah yang sama, dihasilkan. Siapa yang menguasai Banda menguasai pasokan pala dunia, dan penguasaan itu dibayar mahal oleh penduduknya: penaklukan Banda oleh VOC pada 1621 mengosongkan pulau-pulau itu dari sebagian besar penghuni aslinya. Monopoli yang dibangun di atas penaklukan itu baru berakhir pada abad ke-19, ketika pala berhasil ditanam di tempat lain.
Pala Hanya Tumbuh di Maluku
Pala berasal dari Maluku bagian selatan. Menurut catatan PROSEA untuk pala[1], pala hanya dikenal dari kebun budidaya, tetapi kemungkinan besar asalnya dari pulau-pulau Maluku selatan, terutama Ambon dan Banda. Ensiklopedia Britannica mencatat tanah vulkanik Banda sangat cocok untuk pala, yang memang tumbuh asli di sana.
Cengkeh punya cerita yang mirip. PROSEA mencatat cengkeh pertama kali dibudidayakan di beberapa pulau Maluku tempat ia tumbuh liar, dan perdagangannya sudah tercatat sejak zaman Dinasti Han di Tiongkok pada abad ke-3 sebelum Masehi. Dua rempah yang paling dicari dunia berasal dari wilayah yang sama.
Kronologi Penaklukan Banda, 1609 sampai 1621
Banda tidak diperintah seorang raja, tetapi oleh orang kaya, para tetua kampung. Portugis tiba pada 1512. PROSEA menulis Portugis lalu memegang monopoli pala, tetapi kajian penaklukan Banda di Journal of Indonesian History tahun 2025[2] mencatat orang kaya Banda tidak pernah mengizinkan Portugis mendirikan loji atau benteng. Belanda datang pada 1599. Tahun-tahun sesudahnya, menurut kajian yang sama, berjalan begini.
1609: Benteng Nassau dan Terbunuhnya Verhoeff
Pada April 1609 armada VOC pimpinan Pieter Willemszoon Verhoeff tiba di Banda Neira, menuntut hak membeli pala sendirian, dan mulai membangun benteng. Akhir Mei, para pemimpin Banda membunuh Verhoeff dan 45 orang Belanda lain. Salah satu saksinya Jan Pieterszoon Coen, kelak gubernur jenderal VOC. Agustus 1609 orang Banda dipaksa mengakui monopoli Belanda, dan Benteng Nassau berdiri.
1615 sampai 1620: Pulau Ay dan Pulau Run
Orang Banda tetap menjual pala kepada Inggris dan pedagang Nusantara yang membayar lebih baik. Pada 1614 direksi VOC, Heeren XVII, memutuskan seluruh Banda harus ditaklukkan. Serangan ke Pulau Ay pada Mei 1615 gagal, tetapi April 1616 pasukan Jan Dirkszoon Lam merebutnya; sekitar 400 penduduk, termasuk perempuan dan anak, tenggelam saat melarikan diri ke Pulau Run. Di Run, pedagang Inggris Nathaniel Courthope bertahan di bentengnya sejak Desember 1616 sampai ia tewas pada 1620.
1621: Penaklukan Lontor
Coen menulis kepada Heeren XVII pada 26 Oktober 1620 bahwa Banda harus ditaklukkan ulang dan diisi bangsa lain. Armadanya, 19 kapal dengan 1.655 serdadu Eropa dan 286 tentara bayaran, tiba di Benteng Nassau pada 21 Februari 1621.
Pengintai VOC mendarat di Lontor, yang juga disebut Banda Besar, pada 7 Maret 1621. Serangan besar dilancarkan 11 Maret, dan esoknya seluruh Lontor dikuasai; penduduk mundur ke bukit di tengah pulau. Pada 8 Mei 1621 para orang kaya Lontor dieksekusi oleh tentara bayaran VOC. Jumlahnya berbeda antarsumber: 24 orang menurut sejarawan Hans Straver, sekitar 40 sampai 50 menurut Vincent Loth. Perlawanan belum padam, jadi Coen memerintahkan pasukannya menyisir pulau dan menghancurkan kampung-kampung, dan pertempuran berlangsung berbulan-bulan sesudahnya.
Berapa Korbannya, dan Siapa yang Menggantikan
Angka korban tidak pernah pasti. Straver memperkirakan Lontor berpenduduk 4.500 sampai 5.000 orang; sekitar 2.500 mati kelaparan dan sakit, 1.700 diperbudak, dan ratusan lari ke Kepulauan Kei dan Seram. Untuk seluruh Banda, arkeolog Peter Lape memperkirakan 90 persen di antaranya tewas, diperbudak, atau dibuang. Britannica mencatat kekerasan itu dianggap keterlaluan bahkan oleh orang sezamannya, dan Coen ditegur direksi VOC.
Keturunan pelarian itu masih ada. Sebuah penelitian tentang eksodus orang Banda ke Kei[3] mencatat mereka menetap di Banda Eli dan Banda Elat, masih menyebut diri orang Wandan, dan mengabadikan nama-nama kampung di Banda sebagai marga. Penelitian yang sama menyebut angka korban yang jauh lebih besar, 6.000 orang, dengan tanggal 21 Mei 1621.
Tanah yang kosong dibagi menjadi perken, kebun pala sekitar 12 sampai 13 hektare, masing-masing dikelola seorang perkenier, pemilik modal berkebangsaan Eropa, dengan tenaga budak. Britannica mencatat sebagian besar penduduk Banda hari ini adalah keturunan orang Jawa, Makassar, dan pulau-pulau sekitarnya yang didatangkan sebagai pekerja kebun itu. Sejarah rempah Nusantara tidak bisa diceritakan sebagai kisah dagang yang netral.
Cengkeh diperlakukan dengan cara serupa. PROSEA mencatat di bawah kekuasaan Belanda, kebun cengkeh di banyak pulau dimusnahkan secara paksa dan budidayanya dipusatkan di Ambon. VOC menjaga susunan itu dengan patroli laut dan penebangan pohon.
Kenapa Monopolinya Berakhir
Monopoli pala runtuh begitu bibitnya keluar dari Maluku. Menurut PROSEA, Prancis mematahkan monopoli Belanda pada 1772 dan Inggris mengakhirinya pada 1802. Pada 1843 pala dibawa ke Grenada di Karibia, yang kemudian menjadi penghasil pala terbesar kedua setelah Indonesia. Bibit cengkeh dibawa Inggris ke Penang, Sumatra, India, dan Sri Lanka, dan Prancis ke Mauritius, Zanzibar, dan Madagaskar.
Indonesia tetap menjadi pemasok utama. PROSEA mencatat Indonesia memasok sekitar 60 persen ekspor pala dan fuli dunia dan Grenada sekitar 30 persen, sedangkan untuk cengkeh Indonesia menjadi penghasil terbesar.
Rempah yang Datang lewat Jalur yang Sama
Perdagangan rempah juga membawa tanaman baru ke Nusantara. Cabai berasal dari Amerika, dan sebuah penelitian sejarah di Journal of Ethnopharmacology tahun 2015[4] mencatat cabai menyebar ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari dua ratus tahun setelah orang Eropa menemukannya di Amerika Selatan dan Tengah. Cabai dengan cepat menjadi bahan pokok masakan di wilayah tropis.
Karena itu cabai, yang kini terasa sangat Indonesia, sebenarnya pendatang. Sebelum cabai datang, rasa pedas masakan Nusantara berasal dari rempah lain seperti Lada Hitam dan Jahe. Tidak semua rempah bernama lada adalah lada, misalnya lada sichuan yang membuat lidah kebas, dan cabai di pasar pun terbagi dalam jenis cabai dengan tugas berbeda.
Perdagangan rempah melewati beberapa masa, dan tonggak waktunya sampai zaman VOC sudah diringkas.
Banda hanya satu bagian dari persaingan yang lebih luas. Bangsa Eropa sampai ke kepulauan ini karena rempah yang mahal lewat banyak perantara, dan dua kesultanan cengkeh di utara Maluku saling bersaing.
Rujukan
Sumber untuk keterangan botani dan sejarah di artikel ini.
- ↑ Myristica fragrans (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Conquest of the Banda Islands by the Vereenigde Oostindische Compagnie (1609-1621). Journal of Indonesian History, 2025
- ↑ Wandan dalam Memori Sejarah: Eksodus Orang Banda di Kepulauan Key Abad XVII dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Banda Eli dan Banda Elat. Banda Historia: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya, 2024
- ↑ In the Shadow of a Pepper-Centric Historiography: Understanding the Global Diffusion of Capsicums in the Sixteenth and Seventeenth Centuries. Journal of Ethnopharmacology, 2015
- Syzygium aromaticum (PROSEA). Pl@ntUse
- Banda Islands. Encyclopaedia Britannica
- Jan Pieterszoon Coen. Encyclopaedia Britannica
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
