Kenapa Bangsa Eropa Berlayar Jauh demi Rempah Nusantara
Bangsa Eropa berlayar jauh demi rempah Nusantara karena rempah yang sampai ke Eropa sudah melewati rantai perantara yang panjang, dan siapa pun yang menemukan jalan laut sendiri ke negeri rempah bisa memotong seluruh rantai itu. Buku pelajaran sering meringkas sebabnya menjadi satu peristiwa: Konstantinopel jatuh pada 1453, jalur dagang tertutup, lalu bangsa Eropa berlayar mencari rempah. Ringkasan itu terlalu rapi. Pelayaran Portugis menyusuri Afrika sudah berjalan tiga puluh tahun sebelum 1453.
Harga Naik di Setiap Perantara
Rempah Nusantara berpindah tangan berkali-kali sebelum sampai ke meja Eropa: dari pelabuhan Maluku ke pedagang Jawa dan Melayu, lalu ke pedagang Arab dan India, lalu ke pelabuhan Laut Tengah. Setiap perpindahan menambah harga. Kajian rempah dan imperialisme Barat dari Universitas Diponegoro[1] mengutip catatan bahwa karena rantai dagangnya begitu panjang, harga rempah bisa naik sampai 1.000 persen, kadang lebih.
Di ujung rantai itu berdiri kota dagang Italia. Menurut catatan Britannica tentang perdagangan rempah[2], Venesia dan Genoa sama-sama makmur dari perdagangan Levant sejak abad ke-10, dan persaingan keduanya berakhir dengan kemenangan Venesia dalam perang Chioggia pada 1378 sampai 1381, yang membuatnya menguasai perdagangan di Laut Tengah. Sumber yang sama mencatat tidak ada penguasa Eropa yang sanggup memutus kuasa Venesia itu.
Kuasa sebesar itu menentukan harga di ujung rantai. Selama jalur Laut Tengah dipegang sedikit pemain, pembeli di Eropa utara membayar berkali lipat harga di pelabuhan asalnya dan tidak punya posisi tawar. Mencari jalan laut sendiri berarti memotong seluruh rantai perantara sekaligus, dan keuntungan sebesar itulah yang membuat pelayaran berbulan-bulan dianggap sepadan dengan risikonya. Hitungan untung itu terlihat dari harga lada di Kalikut dan Aleksandria yang dicatat pada pelayaran Vasco da Gama.
Pelayaran Dimulai sebelum 1453
Urutan tahunnya penting. Menurut riwayat Pangeran Henry sang Navigator di Britannica[3], sejak sekitar 1420 ia memakai sumber daya ordonya untuk mengumpulkan ahli geografi dan navigator serta membiayai pelayaran menyusuri pantai barat Afrika. Pada 1434 pelayaran itu menembus batas yang sebelumnya ditakuti, dan sampai 1460 mereka sudah mencapai Sierra Leone.
Artinya usaha mencari jalan laut sudah berjalan lama sebelum 1453. Kajian Universitas Diponegoro mencatat Portugis dan Spanyol sudah lama berdagang rempah dan merugi setelah Konstantinopel, salah satu pintu dagang Asia dan Eropa, direbut Turki Utsmani pada 1453. Jatuhnya Konstantinopel menambah alasan dan tekanan, tetapi bukan pemicu tunggalnya. Untuk tugas sekolah, menulis dua sebab sekaligus, yaitu rantai perantara yang mahal dan kemajuan pelayaran Portugis, lebih tepat daripada menyebut satu tahun saja.
Garis Waktu Lima Penjelajah: Dias sampai De Houtman
Lima pelayaran ini yang paling sering ditanyakan. Tahun dan nama di tabel berasal dari kajian Universitas Diponegoro di atas, kecuali baris De Houtman yang sumbernya disebut di bawah tabel.
| Tahun | Penjelajah | Untuk | Hasilnya |
|---|---|---|---|
| 1487 sampai 1488 | Bartolomeus Dias | Portugal | memutari Tanjung Harapan, lalu terpaksa pulang |
| 1492 | Christopher Columbus (Kolumbus) | Spanyol | tiba di Karibia dan mengira pulau itu bagian dari India |
| 1498 | Vasco da Gama | Portugal | tiba di Kalikut, India, lewat laut |
| 1519 | Ferdinand Magelhaens | Spanyol | menyeberangi Pasifik; armadanya sampai ke Maluku |
| 1595 | Cornelis de Houtman | Belanda | berangkat dengan empat kapal dan tiba di Banten pada 1596 |
Dias ditugasi Raja João II pada 1487 mencari jalan laut ke India yang tidak dikuasai pedagang Muslim. Ia menyusuri pantai barat Afrika dan memutari Tanjung Harapan, tetapi harus pulang karena badai dan pemberontakan awak kapalnya. Sepuluh tahun kemudian Vasco da Gama melanjutkan rute itu sampai Kalikut.
Spanyol mengambil arah sebaliknya. Tiga kapal Kolumbus, Santa Maria, Pinta, dan Nina, berlabuh di sebuah pulau Karibia pada Oktober 1492 yang ia namai San Salvador. Pada 1519 Raja Charles V mengutus Magelhaens mencari jalan langsung ke Maluku dengan menyeberangi Atlantik, memutari ujung Amerika, lalu menyeberangi Pasifik ke Filipina. Magelhaens tewas di tengah jalan, dan pelayaran diteruskan Juan Sebastián del Cano sampai Maluku. Di sana mereka bertemu Portugis, dan keduanya saling menuduh melanggar Perjanjian Tordesillas 1494. Perselisihan itu baru selesai lewat Perjanjian Saragosa 1529, yang memberi Maluku kepada Portugis dan Filipina kepada Spanyol.
Belanda datang paling akhir. Menurut kajian peta bintang pelayaran Belanda di arXiv[4], pelayaran pertama Belanda ke Asia berangkat dari Texel pada 2 April 1595 dengan empat kapal di bawah komando Cornelis de Houtman, tiba di Selat Sunda dan Banten pada 1596, lalu kembali ke Texel pada 10 Agustus 1597. Pelayaran keduanya pada 1598 berakhir buruk: Cornelis de Houtman terbunuh di Aceh pada 11 September 1599.
Jalan Laut Akhirnya Terbuka
Dua pelayaran besar di akhir abad ke-15 justru gagal menemukan negeri rempah. Britannica mencatat Christopher Columbus berlayar untuk Spanyol pada 1492 dan John Cabot pada 1497, dan keduanya tidak sampai ke sumber rempah. Baru pada 1501 rombongan Portugis di bawah Pedro Álvares Cabral, yang menurut kajian Universitas Diponegoro berangkat pada 8 Maret 1500 dengan 13 kapal dan ditemani Dias, berhasil membawa rempah dari India ke Eropa lewat Tanjung Harapan, dan Portugal menguasai jalur laut itu sepanjang sebagian besar abad ke-16. Dalam catatan hariannya, Kolumbus justru menyebut aji, lada penduduk Hispaniola, lebih berharga daripada lada.
Sesudah Portugis datang Belanda, dan bentuknya berubah dari pelayaran dagang menjadi perusahaan bersenjata. Kerangka waktunya membentang dari masa praaksara sampai VOC, dan akibatnya terasa di satu kepulauan kecil, Banda yang dulu diperebutkan.
Yang Dicari dan Yang Terbawa Pulang
Yang dicari terutama Lada Hitam, Pala, Fuli, dan Cengkeh. Lada tumbuh di banyak tempat, sedangkan pala dan cengkeh hanya di sedikit pulau di Maluku, dan perbedaan itu yang membuat keduanya jadi sasaran monopoli. Cengkeh dari Maluku itu pula yang menjadi muatan kapal Victoria di Tidore pada 1521, dalam ekspedisi Magelhaens.
Arus baliknya juga mengubah dapur Nusantara. Britannica mencatat Columbus pulang membawa banyak buah dan sayur baru, termasuk cabai. Dari situlah Cabai Rawit dan kerabatnya akhirnya sampai ke sini lewat pelayaran Portugis dan Spanyol, dan sekarang justru terasa paling Indonesia. Tidak semua rempah berakhir di panci, karena sebagian dicari dunia karena aromanya, sedangkan nama lada juga dipakai banyak rempah lain. Tiga pelabuhan rempah besar di Nusantara, yaitu Banten, Makassar, dan Aceh, punya perannya masing-masing.
Rujukan
Sumber untuk kronologi dan keterangan dagang di artikel ini.
- ↑ The Spices, Western Imperialism and the Changes of Maritime Power in the Indonesian Archipelago. Journal of Maritime Studies and National Integration, Universitas Diponegoro, 2024
- ↑ Spice Trade. Encyclopaedia Britannica
- ↑ Henry the Navigator. Encyclopaedia Britannica
- ↑ Early Star Charts of the Dutch East India Company. arXiv, 2023
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Cabai RawitCapsicum frutescensPedas menyengat dengan sisa buah tipis
- CengkehSyzygium aromaticumTajam manis dengan efek mati rasa ringan
- FuliMyristica fragransManis hangat, lebih ringan dari pala
- Lada HitamPiper nigrumPedas menggigit, sedikit kayu
- PalaMyristica fragransManis hangat dengan sisa pahit halus
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
