Pelabuhan Rempah Nusantara: Banten, Makassar, dan Aceh
Banten, Makassar, dan Aceh adalah tiga pelabuhan besar Nusantara yang hidup dari rempah pada abad ke-16 dan ke-17, tetapi dengan cara yang berbeda. Banten menjual lada yang ditanam di wilayahnya sendiri dan di Lampung. Makassar menjadi tempat singgah dan penghubung antara Maluku, penghasil cengkeh dan pala, dengan pedagang yang mencarinya. Aceh mengirim lada Sumatra langsung ke Laut Merah dan memonopoli penjualannya. Banten dan Makassar akhirnya kehilangan kebebasan dagangnya ketika VOC makin kuat.
Banten, Pelabuhan Lada di Ujung Barat Jawa
Kekuatan Banten bertumpu pada Lada Hitam. Menurut kajian Banten sebagai bandar internasional di jurnal Tsaqôfah[1], pada abad ke-16 Banten adalah satu-satunya tempat penanaman lada di Pulau Jawa, dengan hasil rata-rata sekitar 2.000 ton per tahun. Penguasaan Tulang Bawang di Lampung juga berkaitan erat dengan lada. Pembeli utamanya pedagang Tionghoa dan Arab, dan pedagang Tionghoa kadang membeli langsung dari petani di kampung.
Setelah ibu kota pindah ke Surosowan pada 1526, pelabuhan Banten makin ramai. Barang yang keluar masuk tidak hanya lada, tetapi juga beras, gula, garam, ikan asin, kain, dan cengkeh yang diperkirakan datang dari Maluku lalu dijual lagi ke luar. Transaksi terbesar berlangsung di Pasar Karangantu, tempat pedagang lokal bertemu pedagang Portugis, Arab, Turki, Gujarat, Bengal, dan Tionghoa.
Bangsa Eropa datang menyusul. Kapal Belanda pimpinan Cornelis de Houtman tiba pada 2 Oktober 1596. Kantor dagang Inggris sudah berdiri di Banten pada 1602 dan menampung lada dari Jambi, pantai timur Sumatra, dan Banten sendiri. Banten memuncak di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651 sampai 1682). Perjanjian 17 April 1684 antara Sultan Haji dan VOC lalu menyerahkan monopoli lada Banten kepada VOC dan menyingkirkan pedagang Persia, India, dan Tionghoa.
Makassar, Tempat Singgah Rempah Maluku
Makassar punya posisi yang tidak dimiliki Banten: ia berada di antara Maluku dan pembeli dari barat. Kajian ekonomi maritim Kesultanan Makassar di jurnal Thaqafiyyat[2] menjelaskan bahwa pedagang yang mencari rempah Maluku harus melewati Sulawesi, dan Makassar memanfaatkannya dengan membuka pelabuhan transit.
Bandarnya, Somba Opu, terletak di muara Sungai Jeneberang dan dilindungi pulau-pulau kecil dari ombak. Pada masa Sultan Alaluddin (1593 sampai 1639) dan Malik as-Said (1639 sampai 1653), pelaut Makassar membeli Cengkeh dan rempah lain dari Maluku dengan harga murah lalu menjualnya kembali di Makassar. Syahbandar yang diangkat sultan mengatur semua pedagang yang datang dan pergi. Pedagang Melayu yang keluar dari Malaka setelah direbut Portugis pada 1511 ikut meramaikan kota ini.
Keterbukaan inilah yang bertabrakan dengan keinginan VOC menguasai rempah Maluku. Setelah Perjanjian Bongaya di masa Sultan Hasanuddin, Belanda membatasi pedagang, mengusir pedagang Portugis dan Spanyol, dan menjadikan Benteng Ujung Pandang, yang mereka namai Fort Rotterdam, sebagai kediaman kompeni. Asal cengkeh yang diperdagangkan lewat Makassar terkait dengan persaingan dua kesultanan cengkeh.
Aceh, Lada Sumatra ke Laut Merah
Aceh bangkit melawan monopoli lada Portugis di utara Sumatra, lalu mengalahkan Samudra Pasai pada 1524. Kajian kemaritiman Kesultanan Aceh di jurnal Thaqafiyyat[3] mencatat bahwa pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar, perdagangan dipusatkan di Banda Aceh, dan lada serta rempah Asia Tenggara dikirim dari sana ke Timur Tengah. Sumber Portugis yang dikutip kajian itu menyebut saudagar Aceh, lewat kapal Gujarat, mengapalkan 40.000 sampai 50.000 kuintal rempah ke Jeddah setiap tahun menjelang akhir abad ke-16.
Sultan Iskandar Muda (1607 sampai 1636) memperluas wilayah ke pelabuhan-pelabuhan penghasil. Pasaman dan Tiku di pantai barat Sumatra dikuasai karena ladanya. Di Semenanjung Melayu, kebun lada di Kedah dimusnahkan pada 1619 untuk menghapus pesaing, dan pada 1621 armada Aceh berlayar ke Langkawi untuk mencabut tanaman lada di sana. Lada dari wilayah taklukan dibawa ke Banda Aceh dan dijual dengan harga tinggi, sementara kapal yang berlabuh dikenai bea 7 persen.
Apa yang Membedakan Ketiganya
Banten dan Aceh sama-sama pelabuhan lada, tetapi Banten membuka pasar bagi banyak bangsa, sedangkan Aceh mengendalikan harga lewat monopoli sultan. Makassar berbeda sama sekali. Kekuatannya ada pada letaknya di jalur menuju cengkeh dan Pala, dan pasar yang terbuka di sana mengganggu rencana VOC memonopoli rempah Maluku.
Gambaran besar jalur ini mencakup rempah Nusantara yang berlayar sebelum VOC, dan VOC mengunci produksi di Maluku lewat patroli hongi dan penebangan pohon. Pos dagang Inggris yang lain berada di pantai barat Sumatra, tempat Inggris bertahan di Bengkulu demi lada.
Rujukan
Sumber untuk keterangan ketiga pelabuhan di artikel ini.
- ↑ Banten Sebagai Bandar Perdagangan Internasional Abad XVI-XVIII. Tsaqôfah: Jurnal Agama dan Budaya, 2024
- ↑ Ekonomi Maritim Kesultanan Makassar Abad XVII M. Thaqafiyyat, 2013
- ↑ Kontribusi Kesultanan Aceh Darussalam terhadap Kemajuan Kemaritiman dan Perdagangan di Nusantara Abad XVI-XVII M. Thaqafiyyat, 2022
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
