Bengkulu, Inggris, dan Lada: Pos Dagang di Pantai Barat Sumatra
Inggris datang ke Bengkulu pada 1685 untuk satu hal: lada. Perusahaan dagang Inggris, East India Company (EIC), baru kehilangan akses ke pelabuhan Banten dan butuh tempat lain untuk membeli lada. Pos dagang di pantai barat Sumatra itu bertahan sekitar 140 tahun, tetapi sepanjang waktu itu terus dikeluhkan sebagai pos yang gagal dan mahal, sampai akhirnya ditukar dengan wilayah lain pada 1824.
Kenapa Inggris Memilih Bengkulu
Banten di Jawa jatuh ke pengaruh VOC, kongsi dagang Belanda, dan EIC dilarang berdagang di sana. Menurut kajian Nina Herlina tentang Bengkulu sebelum dan sesudah Traktat London[1], ekspedisi EIC yang dipimpin Ralph Ord dan William Cowley lalu mencari pusat perdagangan Lada Hitam pengganti. Perjanjian dengan Kerajaan Selebar pada 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris mendirikan benteng dan gedung dagang.
Pantai barat Sumatra sudah lama menjadi jalur dagang. Kajian yang sama mencatat bahwa setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, jalur perdagangan bergeser ke pantai barat Sumatra, dan di wilayah Bengkulu tumbuh pelabuhan seperti Muko Muko, Selebar, Seluma, Manna, Bintuhan, dan Krui. Inggris masuk ke jaringan yang sudah ada, bukan membuka jalur baru.
Fort York dan Fort Marlborough
Benteng pertama Inggris diberi nama Fort York. Kajian Tiraana Bains tentang Bencoolen di Journal of British Studies[2] menjelaskan bahwa nama itu diambil dari gelar bangsawan Raja James II sebelum naik takhta, dan pendirian pos ini terkait erat dengan politik luar negeri James II yang ingin menyaingi Belanda.
Fort York ternyata kurang cocok untuk bertahan dan lingkungannya tidak sehat. Pada 1714 pusat pemerintahan Inggris dipindah ke Fort Marlborough, yang sekarang dikenal sebagai Benteng Marlborough. Menurut Bains, perlawanan penduduk setempat pada 1719 menghancurkan benteng itu, dan Inggris baru membangunnya kembali pada 1723.
Lada yang Ditanam dengan Paksaan
EIC tidak cukup hanya membeli lada. Bains menulis bahwa para pejabat EIC mengumpulkan raja dan pemuka setempat untuk mendorong mereka menanam lada, dan dari situ tumbuh sistem penanaman yang dipaksakan. Pemberontakan 1719 pun, menurut Herlina, berkaitan dengan lada: ketika panen merica di wilayah Selebar gagal, Inggris menganggapnya sebagai pelanggaran perjanjian 1695.
Hasilnya tidak pernah sesuai harapan. Pada 1773 Bengkulu mengekspor sedikit di bawah 1.300 ton lada ke pasar Tiongkok dan Inggris. Bains menyebut angka itu sebagai titik tinggi produksi Bengkulu pada paruh kedua abad ke-18, tetapi jauh dari 4.000 ton yang dijanjikan pengurus Fort Marlborough kepada atasan mereka di London. Sekitar sepuluh tahun kemudian produksinya tinggal sekitar 437 ton per tahun, dan pada 1785 status Bengkulu diturunkan dari presidensi menjadi keresidenan di bawah Bengal.
Lada dari India juga menggeser kedudukan Bengkulu. Dalam sidang parlemen 1802, William Dundas menyebut bahwa keuntungan utama Bengkulu dulu adalah lada, tetapi Inggris kini lebih mudah memperoleh lada dari pantai barat India. Naik turunnya harga lada dan rempah lain punya uraian sendiri.
Raffles dan Akhir Pos Dagang
Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur Bengkulu pada 1818. Herlina mencatat bahwa ia menghapus sistem tanam paksa lada dan mendorong penanaman kopi, sehingga pada 1824 sekitar setengah juta pohon kopi tumbuh di berbagai distrik. Bains menambahkan bahwa Raffles juga ingin menjadikan Sumatra penghasil gula.
Rencana itu berhenti oleh Traktat London yang ditandatangani 17 Maret 1824. Inggris menyerahkan Fort Marlborough dan seluruh miliknya di Sumatra kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan Kota dan Benteng Malaka serta menarik diri dari Singapura. Inggris juga mendapat akses dagang ke Maluku, daerah asal Cengkeh dan Pala. Serah terima Bengkulu resmi berlangsung pada 6 April 1825.
Bengkulu dalam Sejarah Jalur Rempah
Kisah Bengkulu melengkapi cerita yang biasanya berpusat pada Maluku dan VOC. Belanda menguasai cengkeh dan pala, dan Inggris yang ingin menyainginya mencari pijakan lain. Di Bengkulu, pijakan itu adalah lada. Latar besar jalur rempah Nusantara menjadi konteksnya, sedangkan VOC menjaga monopolinya lewat pelayaran bersenjata dan pemusnahan kebun. Dua sentra lada Indonesia punya ciri masing-masing, dari lada putih Muntok sampai lada hitam Lampung.
Rujukan
Sumber untuk tanggal, angka produksi lada, dan isi Traktat London di artikel ini.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
