Lada Lampung dan Lada Bangka: Dua Sentra Lada Indonesia
Lampung dan Bangka Belitung adalah dua daerah penghasil lada terbesar di Indonesia, dan keduanya dikenal lewat produk yang berbeda. Lampung dikenal dengan lada hitam, yang di pasar dunia disebut Lampung black pepper. Bangka Belitung dikenal dengan lada putih, yang disebut Muntok white pepper. Tanamannya sama, Piper nigrum. Yang membedakan keduanya adalah cara buahnya diolah sesudah dipetik.
Berapa Besar Kedua Sentra Itu
Menurut Outlook Komoditas Perkebunan Lada 2022 dari Kementerian Pertanian[1], Kepulauan Bangka Belitung menyumbang rata-rata 37,48 persen produksi lada nasional pada 2018 sampai 2022, atau sekitar 32.400 ton per tahun. Lampung berada di urutan kedua dengan 17,61 persen, sekitar 15.200 ton per tahun. Empat provinsi berikutnya, yaitu Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, masing-masing menyumbang sekitar 6 sampai 7 persen. Sulawesi lebih menonjol pada komoditas lain, karena empat provinsinya memimpin produksi kakao di Indonesia.
Di dalam Bangka Belitung, Kabupaten Bangka Selatan paling besar, dengan 46,92 persen produksi provinsi pada 2020. Belitung menyusul dengan 19,35 persen. Di Lampung, produksi lebih merata: Lampung Utara 25,63 persen, Tanggamus 22,60 persen, dan Lampung Barat 21,57 persen. Outlook yang sama mencatat bahwa seluruh lada di Lampung ditanam di kebun rakyat.
Satu Tanaman, Dua Cara Mengolah
Catatan PROSEA tentang lada[2] menjelaskan kedua cara itu. Untuk Lada Hitam, tangkai buah ditumpuk semalam supaya sedikit berfermentasi, lalu dijemur di atas tikar bambu atau lantai semen dan dibalik secara teratur. Setelah 4 sampai 5 hari, butirnya hitam, kering, dan keriput.
Untuk Lada Putih, tangkai buah dipecah sedikit, dimasukkan ke karung goni, lalu direndam 7 sampai 10 hari, sebaiknya di air yang mengalir pelan. Perendaman itu membuat daging buah hancur. Butirnya kemudian dilepas dengan diinjak, dicuci, disaring, dan dijemur 3 sampai 4 hari sampai berwarna putih krem. Kedua jenis lada dikeringkan sampai kadar airnya sekitar 10 sampai 14 persen.
Perbedaan ini terbawa ke dapur. Lada hitam masih membawa kulit buahnya yang keriput dan gelap, sedangkan lada putih sudah kehilangan kulit itu, sehingga bubuknya tidak meninggalkan bintik hitam di kuah yang bening. PROSEA juga mencatat bahwa petani bisa memilih mengolah lada menjadi hitam atau putih menurut harga yang diharapkan.
Kebun dan Varietas yang Berbeda
Kedua daerah juga berbeda kebunnya. PROSEA mencatat curah hujan rata-rata di Bangka sekitar 2.500 milimeter per tahun, sedangkan di Lampung lada tumbuh baik di bagian utara dengan curah hujan lebih dari 3.000 milimeter dan di bagian tenggara yang kadang di bawah 2.000 milimeter. Varietas utama di Lampung adalah Kerenci, Belantung, dan Jambi, sedangkan di Bangka yang populer adalah varietas Lampung yang berdaun lebar dan varietas Bangka. Perbedaan antarvarietas itu terutama pada bentuk dan ukuran daun, panjang ruas, percabangan, serta kemampuan berbunga dan berbuah.
Tanaman lada sendiri bukan asli Nusantara. Menurut PROSEA, lada berasal dari Ghats Barat di Kerala, India, dan sudah sampai di Asia Tenggara sekitar 100 tahun sebelum Masehi. Kedudukan lada dalam perdagangan rempah sejak masa itu tercatat dalam sejarah jalur rempah sampai 1799.
Nama Daerah yang Dilindungi
Nama kedua daerah itu dipakai sebagai indikasi geografis, yaitu tanda yang menunjukkan bahwa mutu sebuah produk terkait dengan daerah asalnya dan dilindungi hukum. Berita Kementerian Hukum tentang Lada Putih Muntok[3] mencatat nama itu terdaftar sebagai indikasi geografis dari Bangka Belitung sejak 2010.
Untuk Lampung, berita Pemerintah Provinsi Lampung tahun 2016[4] menyebut Masyarakat Indikasi Geografis Lada Hitam Lampung mengajukan perlindungan yang sama, supaya nama produk yang sangat terikat pada lokasinya itu terhindar dari pemalsuan.
Nama Muntok atau Lampung di kemasan belum tentu berarti produknya memakai tanda indikasi geografis, jadi label dan asal produsennya tetap perlu diperiksa.
Ekspor yang Bergeser
Outlook Kementerian Pertanian juga mencatat perubahan bentuk ekspor. Ekspor lada putih naik dari 13 ribu ton pada 2012 menjadi 18,5 ribu ton pada 2021. Ekspor lada hitam justru turun dari 48 ribu ton pada 2012 menjadi 14 ribu ton pada 2021. Produksi lada nasional pada 2022 tercatat sekitar 89,28 ribu ton menurut angka sementara. Naik turunnya harga lada bersama Cengkeh dan Pala dipengaruhi hal yang berbeda, misalnya luas kebun lada yang menyusut, sedangkan banyak rempah lain ikut menyandang nama lada. Andaliman, buah berduri dari sekitar Danau Toba, punya pembahasan yang lebih lengkap.
Rujukan
Sumber untuk angka produksi, cara pengolahan, varietas, dan indikasi geografis di artikel ini.
- ↑ Outlook Komoditas Perkebunan Lada Tahun 2022. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, 2022
- ↑ Piper nigrum (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Membanggakan, Lada Putih Muntok, Indikasi Geografis dari Bangka Belitung Dipamerkan di Jenewa. Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung, 2024
- ↑ Kopi dan Lada Lampung Dapat Perlindungan Indikasi Geografis. Pemerintah Provinsi Lampung, 2016
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
