Lewati ke konten

Kenapa Harga Cengkeh, Lada, dan Pala Naik Turun

3 menit baca

Harga cengkeh, lada, dan pala bergerak naik turun setiap tahun, dan alasannya jarang tunggal. Tiga hal yang paling menentukan: berapa banyak yang dipanen, siapa yang membeli, dan seberapa besar bagian yang diekspor. Artikel ini memakai angka resmi, dan sengaja tidak memuat harga harian.

Cengkeh: Pembeli Terbesarnya Pabrik, Bukan Dapur

Sebagian besar Cengkeh Indonesia tidak berakhir di panci. Menurut Outlook Cengkeh 2025 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian[1], cengkeh adalah bahan baku utama industri rokok kretek, dan Indonesia tercatat sebagai pengonsumsi cengkeh terbesar di dunia.

Karena itu permintaan dalam negeri ikut menahan harga. Publikasi yang sama memperkirakan produksi cengkeh Indonesia 134,77 ribu ton per tahun untuk 2025 sampai 2028, sementara produksi dunia naik dari 165,61 ribu ton pada 2014 menjadi 185,69 ribu ton pada 2023, rata-rata 1,54 persen per tahun. Indonesia juga tercatat sebagai pengekspor cengkeh terbesar dunia, dengan volume rata-rata 23,46 ribu ton atau 27,91 persen dari perdagangan dunia.

Lada: Luas Kebun yang Menyusut

Untuk Lada Hitam, sisi pasokannya yang bergerak. Menurut Outlook Lada 2025[2], luas areal lada Indonesia menurun sepanjang 2016 sampai 2025, dari 181 ribu hektare pada 2016 dengan penurunan rata-rata 0,37 persen per tahun.

Kebutuhan dalam negeri justru diproyeksikan naik, dari 8,25 ribu ton pada 2024 menjadi 14,24 ribu ton pada 2025. Kebun yang menyusut sambil permintaan yang naik adalah kombinasi yang membuat harga mudah bergerak, dan petani yang menebang lada saat harga jatuh membuat pasokan beberapa tahun berikutnya ikut berkurang.

Pala: Indonesia Produsen Kedua Dunia

Untuk Pala, posisinya berbeda lagi. Menurut Outlook Pala 2022[3], produksi pala Indonesia pada 2023 diperkirakan 44.597 ton dan naik menjadi sekitar 49.645 ton pada 2026, dengan enam provinsi menyumbang 89,95 persen produksinya.

Publikasi yang sama menempatkan Indonesia di urutan kedua sebagai produsen sekaligus pengekspor pala dunia, dengan tujuan ekspor terbesar ke Tiongkok, Vietnam, India, Belanda, Amerika Serikat, dan Jerman. Karena sebagian besar hasilnya diekspor, permintaan dari luar negeri lebih menentukan harganya daripada permintaan dapur dalam negeri.

Kenapa Harganya Tidak Stabil

Empat hal berulang di ketiga komoditas. Panen tahunan tidak selalu sama besar, dan tanaman keras butuh bertahun-tahun sebelum berbuah, jadi kenaikan harga hari ini baru menambah pasokan beberapa tahun kemudian. Sebagian besar pembelinya industri, bukan rumah tangga. Nilai tukar ikut bermain karena perdagangannya lintas negara. Dan biaya pengeringan serta penyimpanan menentukan berapa lama petani sanggup menahan hasil panen sebelum menjual.

Untuk pembeli dapur, gerakan harga itu terasa sebagai selisih kecil per ons, dan mutu tetap lebih menentukan daripada harganya. Cara menilai mutu rempah kering sebelum membeli ada uraiannya, begitu pula sejarah panjang perdagangan ketiga rempah ini.

Fuli mengikuti pala karena berasal dari buah yang sama, jadi harganya bergerak bersama. Persaingan kesultanan Ternate dan Tidore membantu menjelaskan kenapa Maluku menjadi pusat keduanya.

Daerah yang paling banyak menghasilkan cengkeh dan pala, dengan angkanya, tercatat dalam data sentra cengkeh dan pala. Sentra kayu manis di Sumatra juga dipengaruhi naik turunnya harga.

Rujukan

Sumber untuk angka produksi, ekspor, dan luas areal di artikel ini.

  1. ↑ Outlook Komoditas Perkebunan Cengkeh 2025. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian
  2. ↑ Outlook Komoditas Perkebunan Lada 2025. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian
  3. ↑ Outlook Komoditas Perkebunan Pala 2022. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.