Penghasil Cengkeh dan Pala Terbesar: Angka dan Sentranya
Indonesia bukan sekadar pemakai cengkeh dan pala, melainkan salah satu produsen terbesarnya. Angkanya diterbitkan tiap tahun oleh Kementerian Pertanian, lengkap dengan provinsi mana yang menyumbang paling banyak.
Cengkeh: Maluku di Urutan Pertama
Menurut Outlook Cengkeh 2025 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian[1], produksi cengkeh Indonesia pada 2024 tercatat 147,68 ribu ton dalam wujud bunga kering, dan produksi 2025 sampai 2028 diperkirakan 134,77 ribu ton per tahun.
Publikasi yang sama menyebut Maluku sebagai penyumbang terbesar, dengan kontribusi rata-rata 15,32 persen pada 2019 sampai 2023, sementara provinsi lain masing-masing di bawah 15 persen. Sepuluh provinsi sentra Cengkeh adalah Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.
Ke Mana Cengkeh Itu Pergi
Sebagian besar tidak diekspor. Outlook yang sama mencatat konsumsi domestik pada 2023 diperkirakan 106 ribu ton dan turun sedikit menjadi sekitar 102,9 ribu ton pada 2025, dan sebagian besarnya diserap industri rokok kretek.
Di sisa perdagangan dunia, Indonesia tetap yang terbesar. Volume ekspor rata-ratanya 23,46 ribu ton, atau 27,91 persen dari perdagangan cengkeh dunia, sedangkan produksi dunia naik dari 165,61 ribu ton pada 2014 menjadi 185,69 ribu ton pada 2023.
Pala: Indonesia Produsen Kedua Dunia
Untuk Pala, Outlook Pala 2022[2] memperkirakan produksi Indonesia pada 2023 sebesar 44.597 ton, naik menjadi sekitar 49.645 ton pada 2026.
Sentranya menyebar di timur dan barat sekaligus: Sulawesi Utara, Aceh, Maluku Utara, Papua Barat, dan Sumatera Barat termasuk penyumbang utama, dan enam provinsi teratas menyumbang 89,95 persen produksi nasional. Publikasi itu menempatkan Indonesia di urutan kedua dunia sebagai produsen sekaligus pengekspor pala, dengan tujuan ekspor terbesar ke Tiongkok, Vietnam, India, Belanda, Amerika Serikat, dan Jerman.
Kenapa Sentranya Ada di Situ
Pola sebarannya mengikuti sejarah dan iklim sekaligus. Pala berasal dari Maluku bagian selatan dan cengkeh dari utara, lalu keduanya menyebar ke pulau lain lewat perdagangan dan penanaman baru berabad-abad kemudian.
Karena itu Jawa bisa masuk daftar sentra cengkeh meski bukan tempat asalnya, sementara Fuli tetap mengikuti sebaran pala karena berasal dari buah yang sama. Latar sejarahnya bermula dari persaingan dua kesultanan cengkeh dan perebutan pala di Banda.
Yang Bisa Dipakai Pembeli
Daftar sentra itu berguna saat berbelanja dalam jumlah besar. Cengkeh dan pala yang dijual di pasar besar biasanya berasal dari sentra terdekat, dan pedagang yang menyebut asal daerahnya dengan jelas lebih mudah diajak bicara soal panen, kekeringan, dan mutu.
Untuk pemakaian rumah tangga, perbedaan asal daerah jarang terasa sebesar perbedaan umur simpan. Cengkeh dan pala yang masih berminyak dan layak pakai bisa dinilai dari aroma dan warnanya.
Membaca Angka Ini dengan Hati-Hati
Tiga catatan. Angka produksi memakai wujud kering, jadi tidak bisa dibandingkan langsung dengan bobot basah saat panen. Tahun yang dipakai berbeda antar publikasi, dan yang terbaru untuk pala masih terbitan 2022. Sebagian angkanya juga berupa proyeksi, bukan hasil hitungan panen yang sudah selesai.
Untuk pembaca di dapur, angka ini menjelaskan satu hal praktis: harga dua rempah ini lebih ditentukan industri dan ekspor daripada permintaan rumah tangga, dan itu yang membuat harga cengkeh dan pala naik turun. Perdagangannya punya kerangka sejarah panjang, sejak masa praaksara hingga monopoli VOC.
Sumatra juga menjadi sentra rempah lain, yaitu kayu manis cassia dari Kerinci.
Rujukan
Sumber untuk angka produksi, konsumsi, dan sentra di artikel ini.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
