Lewati ke konten

Cengkeh dan Kretek: Kenapa Industri Rokok Menyerap Cengkeh

4 menit baca

Sebagian besar cengkeh Indonesia tidak berakhir di dapur, melainkan dicampur tembakau untuk rokok kretek. Kementerian Pertanian memperkirakan industri kretek menyerap hampir tiga perempat produksi cengkeh nasional, dan catatan PROSEA menyebut angka di atas 90 persen untuk seluruh cengkeh. Sebabnya sederhana: kretek dibuat dalam jumlah sangat besar dan terutama diisap di Indonesia, sedangkan pemakaian cengkeh sebagai bumbu di seluruh dunia tidak banyak bertambah.

Berapa yang Diserap Pabrik Rokok

Outlook Cengkeh 2025 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian[1] menyebut Indonesia sebagai pengonsumsi cengkeh terbesar di dunia. Konsumsi dalam negeri tahun 2023 diperkirakan 106 ribu ton, dan industri rokok kretek menyerap hampir 75 persen produksi nasional. Di bagian lain, outlook yang sama mencatat 92,26 persen produksi dipakai untuk konsumsi dalam negeri dan industri kretek.

Konsumsi itu tidak diukur langsung. Outlook menghitungnya dari produksi dikurangi ekspor lalu ditambah impor, dan sisanya dianggap diserap industri dalam negeri. Karena itu dua angka di atas sebaiknya dibaca sebagai perkiraan kasar. Angka produksi cengkeh dan Maluku sebagai sentra cengkeh terbesar dibahas lebih rinci.

Kenapa Cengkeh, dan dari Mana Kebiasaannya

Asal kebiasaan mencampur cengkeh dengan tembakau tidak diketahui pasti. Catatan PROSEA tentang cengkeh[2] menyebut naturalis Rumphius sudah melaporkannya dari Maluku pada abad ke-18. Rumphius juga menggambarkan cengkeh yang dikeringkan di atas api kecil, dan PROSEA menduga langkah dari menghirup asap pengeringan ke mengisap tembakau bercampur cengkeh tidak terlalu jauh.

Nama kretek sendiri berasal dari bunyi. Menurut PROSEA, Cengkeh yang cocok untuk rokok menghasilkan bunyi gemeretak saat diisap. Cengkeh dari daerah basah kurang cocok, karena asapnya menjadi tajam dan bunyinya hilang. Di Indonesia, cengkeh untuk kretek disebut memerlukan tiga bulan dengan curah hujan di bawah 60 milimeter per bulan, sedangkan cengkeh untuk bumbu memerlukan hujan yang tidak turun di bawah 80 milimeter pada bulan mana pun.

Di dapur Asia Tenggara sendiri, cengkeh tidak banyak dipakai sebagai perisa. PROSEA mencatat bahwa pemakaiannya di kawasan ini lebih banyak untuk pengobatan tradisional, sedangkan di India cengkeh dipakai untuk menyematkan gulungan Sirih.

Ledakan Kebun dan Jatuhnya Harga

Permintaan kretek mengubah peta kebun cengkeh Indonesia. PROSEA mencatat luas kebun cengkeh naik dari 8.200 hektare pada 1951 menjadi 80.000 hektare pada 1971, lebih dari 500.000 hektare pada 1981, dan hampir 750.000 hektare pada 1987. Petani kecil menyebutnya pohon seratus ribu rupiah, tetapi sekitar separuh pohon itu tidak pernah sampai berbuah.

Produksi baru memuncak sekitar 1996, sebesar 90.000 ton, dan jumlah itu pun hanya cukup untuk kebutuhan industri rokok. Sementara itu permintaan cengkeh untuk semua keperluan lain di dunia bertahan di 4.000 sampai 5.000 ton per tahun. Harga pun ikut jatuh: di New York cengkeh dihargai 11 dolar AS per kilogram pada 1982, dan hanya 1,25 sampai 1,45 dolar pada 1996 dan 1997. Pola naik turun seperti ini berkaitan dengan harga cengkeh yang mengikuti industri kretek.

Nasib cengkeh yang ditentukan oleh satu jenis pembeli besar bukan hal baru. Berabad-abad sebelumnya, cengkeh dan Pala dari Maluku dikendalikan kongsi dagang Belanda, dan sejarah panjang jalur rempah hingga VOC sudah diringkas.

Cengkeh di Rokok Tidak Membuatnya Lebih Aman

Aroma cengkeh pada kretek berasal terutama dari eugenol. Penelitian senyawa perisa pada kretek dan rokok putih di jurnal Tobacco Control[3] memeriksa 24 varian kretek yang dibeli di Indonesia pada 2021 dan 2022. Eugenol ada di semua kretek, 2,8 sampai 33,8 miligram per batang, dan 14 di antaranya juga mengandung mentol. Para peneliti menulis bahwa menghirup eugenol dikaitkan dengan berbagai efek racun pada hewan dan manusia, termasuk pembengkakan paru disertai perdarahan, infeksi saluran napas, dan radang berat.

Penelitian yang sama mengutip bahwa sekitar 73 persen perokok di Indonesia pada 2014 mengisap kretek. Para peneliti menilai perisa membuat produk tembakau lebih menarik, dan menyarankan agar senyawa perisa itu diatur. Cengkeh yang aman sebagai bumbu tidak berarti aman ketika dibakar dan asapnya dihirup. Rempah yang diekspor beserta negara tujuannya dirinci dengan angka ekspor 2024.

Rujukan

Sumber untuk angka serapan industri, sejarah kebun, dan kandungan eugenol kretek di artikel ini.

  1. ↑ Outlook Komoditas Perkebunan Cengkeh 2025. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian
  2. ↑ Syzygium aromaticum (PROSEA). Pl@ntUse
  3. ↑ Eugenol, menthol and other flavour chemicals in kreteks and ‘white’ cigarettes purchased in Indonesia. Tobacco Control, 2024

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.