Cengkeh Afo di Ternate dan Kisah Penyelundupan Bibit
Pohon cengkeh yang disebut tertua di dunia tumbuh di Ternate dan dikenal dengan nama Cengkeh Afo. Ada tiga generasi pohon dengan nama itu: Afo I sudah tidak ada, sedangkan Afo II dan Afo III masih dicatat peneliti. Kisahnya bersinggungan dengan masa VOC, ketika kebun cengkeh Maluku ditebang dan bibit dari pohon yang tersisa diselundupkan orang Eropa ke pulau-pulau jauh.
Tiga Generasi Cengkeh Afo
Umur pohon-pohon ini dicatat berbeda-beda. Penelitian kekerabatan cengkeh di Pulau Ternate[1], terbit di Jurnal Biologi dan Pembelajarannya tahun 2017, menyebut pohon cengkeh tertua di Ternate berumur lebih dari 350 tahun dan pernah dijadikan monumen pada 1987. Keturunannya, Afo II, berumur lebih dari 100 tahun, masih berdiri dan masih berbuah, dan dijadikan monumen sejak 1999. Angka umur itu perkiraan, karena tidak disertai cara penghitungannya.
Kajian etnobotani dan konservasi Cengkih Afo dari Universitas Khairun[2] mengutip penelitian tahun 2007 yang menyatakan generasi Afo I sudah tidak ada lagi, sehingga yang tersisa tipe Afo II dan Afo III. Penelitian itu dilakukan di Desa Tongole, Kelurahan Marikurubu, pada Agustus sampai September 2019. Afo III lolos uji pohon plus dengan nilai 72 persen, ukuran yang dipakai untuk memilih pohon induk penghasil benih.
Kenapa Afo Diduga Tetua Cengkeh Lain
Di Ternate sekarang tumbuh beberapa tipe Cengkeh. Penelitian 2017 tadi membandingkan ciri bentuk 16 aksesi, yaitu contoh tanaman, dari seluruh pulau. Hasilnya empat kelompok utama: Sansibar campuran, Sulamadaha, Taduma, dan Mando. Cengkeh Afo berdiri di luar keempat kelompok itu, dan penulisnya menduga kuat Afo adalah tetua dari cengkeh lain.
Dugaan itu berdasar kemiripan ciri morfologi, yaitu bentuk tanaman yang bisa diukur. Analisis genetik belum dilakukan dalam penelitian itu, jadi dugaan tersebut masih perlu diuji. Penelitian yang sama juga mencatat bahwa varietas Afo sudah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dengan sertifikat nomor 48/PVL/2010 tanggal 20 Agustus 2010, dan bahwa cengkeh ditetapkan sebagai flora identitas Provinsi Maluku Utara.
Warga Tongole juga memakai Afo sehari-hari. Kajian Universitas Khairun mencatat warga memakai bunganya sebagai penyedap masakan dan minuman, dan daunnya direbus sebagai bahan ratus untuk ibu sesudah melahirkan.
Pohon yang Lolos dari Penebangan
Pohon cengkeh tua di Maluku Utara punya arti khusus karena banyak kebun dimusnahkan pada masa VOC. Belanda menebang pohon di luar wilayah yang diizinkan lewat pelayaran hongi dan pemusnahan kebun, supaya pasokan tetap sempit dan harga tetap tinggi. Catatan PROSEA untuk cengkeh menyebut bibit yang kemudian dibawa Prancis diambil dari keturunan pohon di Maluku Utara yang lolos dari kapak Belanda. Kisah panjang perdagangan itu bisa diikuti lewat garis besar jalur rempah Nusantara.
Pierre Poivre dan Bibit yang Keluar dari Maluku
Salah satu nama yang dikaitkan dengan penyelundupan bibit rempah dari Maluku adalah Pierre Poivre. Biografi Pierre Poivre di Britannica[3] menyebutnya bekas misionaris asal Lyon yang beralih menjadi pedagang, lahir 1719 dan wafat 1786. Menurut Britannica, ia pergi ke Maluku walau Belanda sengaja membuat peta yang menyesatkan pelaut lain. Dari Timor, ia menyelundupkan lebih dari 3.000 tanaman Pala serta pohon buah dan rempah lain ke Mauritius dan Réunion, dua pulau jajahan Prancis di lepas pantai Afrika timur. Ia kemudian menjadi pengelola koloni Mauritius.
Britannica tidak merinci cengkeh dalam kisah Poivre, jadi peran pribadinya dalam penyelundupan cengkeh tidak bisa dipastikan dari sumber itu. Yang lebih jelas adalah akibatnya: bibit dari Maluku Utara sampai ke Mauritius lalu menyebar, dan cengkeh yang kemudian tumbuh di Zanzibar berasal dari jalur itu. Pala mengalami hal yang sama, dan Fuli, selaput merah pembungkus bijinya, ikut terbawa bersama bijinya.
Mengunjungi Cengkeh Afo
Kajian Universitas Khairun meneliti Afo III di Desa Tongole, Kelurahan Marikurubu, Kota Ternate. Karena Afo I sudah tidak ada dan umur pohon yang tersisa hanya perkiraan, klaim “tertua di dunia” sebaiknya dibaca sebagai sebutan setempat yang belum diukur dengan cara baku. Nilainya bagi sejarah tidak bergantung pada angka itu. Pohon-pohon ini mengingatkan pada masa ketika menanam cengkeh di tempat yang salah bisa berarti kebun ditebang.
Rujukan
Sumber untuk umur dan status Cengkeh Afo, kekerabatan cengkeh Ternate, riwayat Pierre Poivre, dan asal bibit cengkeh yang dibawa Prancis.
- ↑ Analisis Pengelompokan Varietas Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merrill & Perry)) Berdasarkan Kemiripan Morfometrik di Pulau Ternate. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 2017
- ↑ Kajian Etnobotani dan Konservasi Cengkih Afo di Kota Ternate. Techno: Jurnal Penelitian, Universitas Khairun, 2019
- ↑ Pierre Poivre | East India Company, Spice Islands, Botanist. Encyclopaedia Britannica, 2026
- Syzygium aromaticum (PROSEA). Pl@ntUse
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
