Lewati ke konten

Kebun Raya Bogor dan Tanaman Pendatang: Dari Vanili sampai Kelapa Sawit

4 menit baca

Kebun Raya Bogor didirikan pada 18 Mei 1817 sebagai tempat menguji tanaman asing yang bernilai ekonomi, dan beberapa tanaman pendatang yang kemudian penting bagi dapur Indonesia pernah dirawat di sana. Vanili adalah contoh rempah yang paling jelas catatannya, dan kelapa sawit adalah contoh terbesarnya. Tidak semua percobaan berhasil, dan tidak semua rempah pendatang lewat Bogor.

Kebun untuk Membiasakan Tanaman Asing

Berkas usulan Kebun Raya Bogor ke daftar sementara Warisan Dunia UNESCO[1] menyebut kebun ini didirikan oleh ahli botani C.G.C. Reinwardt dan tercatat sebagai kebun raya tertua di Asia Tenggara. Tujuan awalnya adalah aklimatisasi, yaitu membiasakan tanaman dari negeri lain dengan iklim dan tanah setempat, khususnya tanaman yang bernilai ekonomi tinggi. Daftar sementara yang sama sejak April 2025 juga memuat usulan Indonesia untuk Jalur Rempah, yang belum menjadi Warisan Dunia.

Berkas yang sama mendaftar tanaman yang awalnya dikembangkan di Bogor lalu menjadi sumber pendapatan besar: kelapa sawit, teh, kopi, karet, kina, dan tembakau. Sekarang luasnya 75,4 hektare dengan 12.350 spesimen dari 3.172 jenis.

Tugas itu berbeda dari perdagangan rempah yang lebih tua. Cengkeh dan pala sudah berlayar dari Maluku berabad-abad sebelumnya, seperti tercatat dalam kurun panjang perdagangan rempah Nusantara. Kebun Raya Bogor bekerja ke arah sebaliknya: membawa tanaman asing masuk.

Vanili: Satu Stek yang Selamat

Vanili adalah rempah pendatang yang jejaknya paling jelas di Bogor. Tinjauan sejarah penyerbukan buatan vanili di jurnal Plants[2] tahun 2024 mencatat lima stek dikirim dari Antwerpen ke Batavia pada 1819, dan hanya satu yang bertahan dari pelayaran 181 hari. Stek itu dirawat dengan susah payah di Buitenzorg, nama lama Bogor.

Vanili tidak berbuah sendiri di luar daerah asalnya di Amerika Tengah, karena penyerbuk alaminya tidak ada. Kiriman kedua dikirim dari Belanda pada awal 1840-an, dan Johannes Elias Teijsmann, kepala kebun di Buitenzorg, bersama Simon Binnendijk menerapkan cara penyerbukan dengan tangan sampai kebun vanili di Jawa berbuah. Tinjauan yang sama mencatat Teijsmann juga memasukkan singkong dan kina ke Hindia Belanda. Kelanjutan kebun vanili sesudah masa Teijsmann punya ceritanya sendiri.

Kelapa Sawit: Empat Bibit Tahun 1848

Kelapa sawit bukan rempah, tetapi minyaknya kini lazim dipakai untuk menumis bumbu. Catatan PROSEA tentang kelapa sawit[3] menyebut sawit masuk ke Asia Tenggara lewat empat bibit yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848. Keturunannya menjadi dasar perkebunan sawit yang mulai berkembang pada 1911 di Indonesia, terutama di Sumatra, dan pada 1917 di Malaysia.

Sawit Bogor itu bertipe Dura dan populasinya dikenal sebagai Deli Dura. PROSEA mencatat hampir semua bahan tanam sawit di Malaysia, Indonesia, dan tempat lain di Asia Tenggara dikembangkan dari populasi Deli Dura yang dasar genetiknya sangat sempit, ditambah satu sumber Pisifera dari Kongo. Empat pohon di Bogor menjadi induk sebuah industri.

Yang Tidak Berhasil: Kayu Manis Ceylon di Jawa

Tidak semua rempah pendatang bertahan. PROSEA untuk Kayu Manis Ceylon mencatat budidayanya di Jawa dimulai pada 1825, sempat berhasil, lalu cepat merosot. Catatan itu tidak menyebut di kebun mana percobaan dilakukan, jadi tidak bisa dipastikan apakah lewat Bogor.

Sampai sekarang yang dijual sebagai kayu manis di pasar Indonesia umumnya cassia, bukan ceylon. Kayu Manis cassia tumbuh luas di dataran tinggi Sumatra, dan kebun cassiavera di Kerinci menjadi pusatnya.

Membaca Kata “Pendatang”

Rempah pendatang tidak selalu berarti rempah asing yang jarang dipakai. Vanili sudah ditanam di Jawa sejak abad ke-19, dan minyak sawit lazim ada di dapur. Yang membedakannya adalah asal-usul tanamannya: keduanya bukan tumbuhan asli Nusantara, dan keduanya perlu dibiasakan dulu sebelum bisa ditanam luas.

Kebun Raya Bogor menyimpan jejak proses itu dalam bentuk koleksi hidup dan catatan. Berkas UNESCO menyebut kebun ini melahirkan lebih dari 24 lembaga penelitian, dan penelitiannya sekarang berfokus pada konservasi tumbuhan, reintroduksi, domestikasi, dan botani ekonomi.

Rujukan

Sumber untuk sejarah Kebun Raya Bogor, masuknya vanili dan kelapa sawit, dan percobaan kayu manis ceylon di Jawa.

  1. ↑ Kebun Raya Bogor. UNESCO World Heritage Centre, Tentative Lists
  2. ↑ A Historical Review of the Artificial Pollination of Vanilla planifolia: The Importance of Collaborative Research in a Changing World. Plants, 2024
  3. ↑ Elaeis guineensis (PROSEA). Pl@ntUse
  4. Cinnamomum verum (PROSEA). Pl@ntUse

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.