Lewati ke konten

Vanili di Indonesia: Dari Meksiko ke Nusantara

4 menit baca

Vanili berasal dari Meksiko bagian tenggara dan Amerika Tengah, tetapi tanaman yang pertama tiba di Jawa tidak dibawa langsung dari sana. Stek vanili dikirim dari rumah kaca di Belgia pada 1819, dan kebun vanili baru benar-benar berbuah di Bogor sekitar 1850, sesudah cara menyerbuk bunganya dengan tangan diketahui. Sekarang Indonesia termasuk penghasil vanili terbesar di dunia, dengan sentra di Jawa dan Bali. Vanili hanya salah satu tanaman pendatang di Bogor, tempat kebun raya untuk membiasakan tanaman asing didirikan pada 1817. Di Madagaskar, penghasil vanili terbesar dunia, jalan itu dibuka oleh cara praktis Edmond Albius menyerbuki vanili di Réunion.

Asal Vanili di Amerika Tengah

Menurut catatan PROSEA tentang tanaman vanili[1], Vanilla planifolia tumbuh asli di Meksiko tenggara, Guatemala, dan bagian lain Amerika Tengah. Suku Aztec memakai buahnya untuk membumbui minuman Kakao Nib. Buah vanili dikenal di Eropa sejak abad ke-16, tetapi kebun besar di luar daerah asalnya baru muncul pada paruh kedua abad ke-19.

Jarak tiga abad itu ada sebabnya. Vanili adalah anggrek, dan bunganya tidak bisa menjadi buah tanpa penyerbukan. Di daerah asalnya penyerbukan diduga dilakukan lebah, walau bukti langsungnya masih minim. Di luar daerah asalnya, bunga vanili tidak berbuah dengan sendirinya, jadi tanaman di tempat baru bisa tumbuh subur dan berbunga tanpa menghasilkan polong.

Perjalanan Lewat Rumah Kaca Eropa

Tinjauan sejarah penyerbukan buatan vanili[2] di jurnal Plants menelusuri jalurnya. Sekitar tahun 1800 sebuah tanaman vanili masuk ke koleksi pribadi di Inggris, lalu steknya menyebar ke berbagai kebun raya, termasuk Antwerpen di Belgia. Asal pasti tanaman di Inggris itu tidak diketahui.

Dari Antwerpen, lima stek dikirim ke Batavia pada 1819. Hanya satu yang selamat dari pelayaran 181 hari, dan stek itu dirawat dengan susah payah di Buitenzorg, yang sekarang bernama Bogor. Pada 1840 atau 1841, pemerintah Belanda mengirim lagi kira-kira dua lusin tanaman dari Belgia lewat Leiden. Tanaman kiriman kedua ini tumbuh baik dan berbunga pada 1844.

Kunci yang Hilang: Penyerbukan dengan Tangan

Tinjauan itu mencatat Charles Morren, ahli botani di Liège, sebagai orang pertama yang tercatat menyerbuk bunga vanili secara buatan, pada 16 Februari 1836. Nama Edmond Albius, remaja yang diperbudak di Pulau Réunion, lebih sering disebut sebagai penemunya pada 1841. Penulis tinjauan berpendapat kabar dari Liège menyebar lewat jaringan naturalis ke berbagai koloni, dan pendapat itu masih diperdebatkan.

Di Bogor, kepala kebun Johannes Elias Teijsmann dan asistennya Simon Binnendijk menerapkan cara penyerbukan itu. Dalam surat bertanggal 24 Oktober 1850, Binnendijk menulis betapa senangnya melihat semua tanaman yang berbunga penuh dengan tandan buah. Mereka tercatat sebagai yang pertama membangun kebun vanili yang berbuah di Jawa, dan keberhasilan itu kemudian ditiru sampai pasar vanili kelebihan pasokan.

Sampai sekarang cara itu masih dipakai. PROSEA menguraikan penyerbukan di kebun: bunga dipegang dengan satu tangan, lalu serbuk sari ditempelkan ke kepala putik memakai sebatang kayu kecil. Bunga vanili hanya mekar sehari, dan kalau tidak diserbuk, bunga itu layu lalu gugur dalam satu sampai dua hari.

Vanili Jawa dan Bali Sekarang

PROSEA mencatat vanili Indonesia terutama ditanam di Jawa dan Bali. Di pasar dunia dikenal vanili Jawa dan vanili Bali yang mirip Bourbon, nama dagang vanili dari Madagaskar, Komoro, dan Réunion. Di Bali, pohon kopi dipakai sebagai tegakan tempat vanili merambat, dan di Indonesia daun Cengkeh dibenamkan ke tanah untuk menekan jamur busuk batang.

Kadar vanilin vanili Indonesia yang sudah diolah tercatat tinggi, sekitar 2,75 persen, dibandingkan vanili Meksiko sekitar 1,75 persen. PROSEA juga mencatat vanili sebagai rempah termahal kedua sesudah Safron, dan itu sebabnya vanilin sintetis banyak menggantikannya. Bedanya terletak pada jumlah senyawa aroma di dalamnya: vanili asli berisi puluhan, vanilin hanya satu.

Posisi Indonesia masih kuat. Kajian daya saing ekspor vanili Indonesia 2015 sampai 2024[3] menyebut Indonesia produsen vanili terbesar kedua setelah Madagaskar, dengan Amerika Serikat sebagai pasar ekspor terbesar pada 2024. Kajian itu juga mencatat daya saingnya cenderung menurun karena pasokan tidak stabil dan harga naik turun. Gejolak harga seperti ini juga dialami harga cengkeh, lada, dan pala. Vanili tiba di Jawa sesudah masa VOC berakhir, sedangkan masa sebelumnya, sejak zaman praaksara, punya ringkasan sendiri.

Rujukan

Sumber untuk asal vanili, sejarah masuknya ke Jawa, dan keadaan vanili Indonesia sekarang di artikel ini.

  1. ↑ Vanilla planifolia (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ A Historical Review of the Artificial Pollination of Vanilla planifolia: The Importance of Collaborative Research in a Changing World. Plants (Basel), 2024
  3. ↑ Analisis Daya Saing dan Dinamika Ekspor Vanili Indonesia di Pasar Global (2015-2024). Prosiding Seminar Nasional Pembangunan dan Pendidikan Vokasi Pertanian, 2026

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.