Lewati ke konten

Vanili Madagaskar dan Penyerbukan Tangan yang Dikaitkan dengan Edmond Albius

4 menit baca

Vanili tidak berbuah di luar tanah asalnya tanpa bantuan tangan manusia, dan cara penyerbukan yang dipakai petani sampai sekarang berakar dari seorang remaja budak bernama Edmond di Pulau Réunion. Edmond bukan orang pertama yang menyerbuki bunga vanili, tetapi dialah yang menemukan cara yang cukup cepat untuk dipakai di kebun. Dari Réunion, budidaya vanili menyebar ke kawasan Samudra Hindia, dan Madagaskar kemudian menjadi penghasil terbesarnya.

Kenapa Vanili Perlu Diserbuki Tangan

Vanili dagang berasal dari Vanilla planifolia, anggrek yang asli Amerika Tengah. Tinjauan sejarah penyerbukan buatan vanili di jurnal Plants[1] menjelaskan bahwa di luar kawasan tropis Amerika, tanaman ini tidak berbuah sendiri karena penyerbuk alaminya tidak ada. Lebih dari 90 persen vanili dunia justru ditanam di luar kawasan asal itu.

Bunga vanili punya sekat tipis yang memisahkan serbuk sari dari kepala putik. Selama sekat itu tidak disingkap, bunga layu tanpa menjadi polong. Jadi setiap polong di kebun Madagaskar atau Jawa adalah hasil satu bunga yang disentuh satu per satu.

Siapa yang Lebih Dulu

Catatan tertua yang dikutip tinjauan itu berasal dari Liège, Belgia. Pada 16 Februari 1836, ahli botani Charles Morren menyerbuki bunga vanili di rumah kaca dan memperoleh 54 polong; tulisannya terbit pada 1837. Joseph Neumann di Paris berhasil pada 1838. Kabar dari Paris dibawa ke Réunion oleh naturalis Perrottet pada 1839. Belanda di Jawa juga memakai cara Morren, dan budidaya vanili di kebun-kebun vanili Jawa masa kolonial berkembang dari sana.

Edmond lahir sekitar 1829 dan bekerja sebagai tukang kebun di perkebunan Féréol Bellier-Beaumont di Sainte-Suzanne, Réunion. Caranya sederhana: sekat bunga diangkat dengan ujung tusuk gigi atau jarum, lalu serbuk sari ditekan ke kepala putik. Uraian cara ini muncul di surat kabar setempat pada 30 Agustus 1843. Tanggal 1841 yang sering dikutip berasal dari ingatan Bellier-Beaumont dua puluh tahun kemudian, dan penulis tinjauan menilai cara itu baru disebarkan ke perkebunan lain pada paruh kedua 1843.

Dari Réunion ke Pasar Dunia

Hasilnya terlihat dalam catatan ekspor. Réunion pertama kali mencatat ekspor vanili pada 1846, sebanyak 38 kg, dan lebih dari 3 ton pada 1858. Edmond merdeka ketika perbudakan dihapus pada 1848 dan memakai nama keluarga Albius. Sejak 2004 ada monumen untuknya di Sainte-Suzanne.

Tangan manusia tetap menjadi biaya besar sampai sekarang. Tinjauan yang sama menyebut penyerbukan menghabiskan kira-kira 19 persen biaya produksi vanili per hektare di Madagaskar.

Madagaskar Menjadi Sentra

Madagaskar letaknya lebih dari 700 km dari Réunion. Tinjauan wanatani Madagaskar di jurnal Agroforestry Systems[2] mencatat bahwa pada 1896 pulau itu baru menghasilkan sekitar satu ton vanili, tetapi ekspornya sudah hampir 900 ton per tahun pada 1929 sampai 1938. Dari 1920-an sampai 1980-an Madagaskar adalah produsen utama dunia, dengan rata-rata sekitar 1.400 ton setahun.

Produksinya berpusat di wilayah SAVA di timur laut, dengan sentra tambahan di Maroantsetra, Ambanja, dan Pulau Nosy Be. Penyakit layu akibat jamur Fusarium memicu program pemuliaan sejak awal 1950-an, yang baru melepas dua varian tahan penyakit pada 1995. Pada akhir 1980-an Indonesia sempat menguasai 45 persen pasar dunia, dan pangsa Madagaskar turun ke 40 persen pada awal 1990-an. Di kebun yang sama, petani Madagaskar juga menanam Cengkeh, kopi, dan kakao yang dipadukan dengan Lada Hitam.

Pasar yang Mudah Goyah

Penelitian petani vanili SAVA di PLOS ONE[3] menyebut sekitar 70.000 petani di wilayah itu pada 2018 menghasilkan hampir 70 sampai 80 persen vanili Bourbon dunia. Ketergantungan sebesar itu membuat satu badai bisa mengubah harga global. Pada 2000, siklon Hudah menjatuhkan produksi Madagaskar ke 600 ton. Harga melonjak, lalu banyak pembeli beralih ke vanilin buatan yang jauh lebih murah, dan permintaan vanili asli turun.

Data FAOSTAT yang dikutip tinjauan sejarah tadi menempatkan Madagaskar di urutan pertama untuk 2010 sampai 2019 dengan rata-rata 3.033 ton per tahun, disusul Indonesia 1.965 ton. Kisah ini melengkapi perpindahan tanaman rempah antarbenua yang lebih tua, dengan satu perbedaan: vanili baru menjadi komoditas setelah ada cara menyerbukinya.

Rujukan

Sumber untuk sejarah penyerbukan buatan, perkembangan vanili di Madagaskar, dan keadaan petani SAVA.

  1. ↑ A Historical Review of the Artificial Pollination of Vanilla planifolia: The Importance of Collaborative Research in a Changing World. Plants, 2024
  2. ↑ Agroforestry in Madagascar: past, present, and future. Agroforestry Systems, 2024
  3. ↑ Compounding impacts of COVID-19, cyclone and price crash on vanilla farmers’ food security and natural resource use. PLOS ONE, 2024

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.