Kemenyan dan Kapur Barus: Dagangan Tua dari Pantai Barat Sumatra
Kemenyan dan kapur barus adalah dua getah pohon dari pesisir barat Sumatra yang namanya sudah muncul dalam catatan pedagang asing sejak awal Masehi. Keduanya keluar lewat pelabuhan Barus, kini sebuah kecamatan di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Nama pelabuhan itulah yang melekat pada kapur barus sampai sekarang.
Dua Getah dari Dua Pohon
Kemenyan adalah balsam dari beberapa jenis Styrax. Menurut catatan PROSEA tentang marga Styrax[1], kemenyan Sumatra berasal dari Styrax benzoin dan Styrax paralleloneurum, dan dikumpulkan di Tapanuli, terutama di dataran tinggi di barat dan selatan Danau Toba. Pohon mulai boleh ditoreh sekitar umur 7 tahun. Kulit batangnya dilukai sedikit demi sedikit, lalu getah yang mengering dikumpulkan kemudian.
Kapur barus asli datang dari pohon lain sama sekali. Catatan PROSEA tentang marga Dryobalanops[2] menyebut kamper ini terbentuk sebagai kristal di rongga kayu Dryobalanops sumatrensis, yang dulu bernama Dryobalanops aromatica, atau keluar sebagai minyak dari lubang yang dibuat di batangnya. Kristalnya hampir seluruhnya borneol. Dulu kamper dari pohon ini jauh lebih berharga daripada kayunya, dan VOC mengekspornya ke Cina dan Jepang.
Kenapa Barus Dikenal sampai ke Arab dan Cina
Kajian Barus dan kamper di jurnal NUSANTARA[3] terbitan UIN Suska Riau merangkum sumber asing yang menyebut kota ini. Geografi karya Ptolemaeus mencatat “lima pulau Baroussai”, nama yang biasanya dihubungkan dengan Barus. Sumber Cina sejak abad ke-6 berulang kali menyebut satu tempat asal kamper dengan nama yang cocok dengan Barus. Catatan Arab tentang Cina dan India yang ditulis tahun 851 menyebut tempat bernama Fantsour sebagai penghasil kamper.
Menurut kajian yang sama, kapur barus, kemenyan, dan emas adalah barang yang dicari pedagang Arab di pantai barat Sumatra. Penggalian bersama arkeolog Indonesia dan École française d’Extrême-Orient di situs Lobu Tua menemukan perhiasan dan mata uang emas dan perak, prasasti, serta benda yang asalnya membentang dari Timur Tengah sampai Cina. Sejarah Barus tetap banyak yang gelap, dan letak tepat pelabuhan lamanya belum diketahui pasti.
Kemenyan Masih Dipanen dan Dijual
Kemenyan tidak berhenti diperdagangkan. PROSEA mencatat kemenyan Sumatra sudah diekspor sejak abad ke-8, dan saat catatan itu disusun Indonesia adalah satu-satunya penghasil jenis ini. Pada 1987-1995 ekspornya rata-rata 1.010 ton per tahun, sebagian besar ke Singapura untuk diolah menjadi balok lalu dikirim ulang ke Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Di Jawa kemenyan dibakar dalam upacara yang berkaitan dengan kematian, dan di Jawa Tengah kemenyan dicampur ke tembakau rokok. Hubungan rokok dengan rempah lain terlihat jelas pada cengkeh yang diserap industri kretek.
Di luar dupa, kemenyan dipakai industri parfum sebagai penahan aroma, dan industri pangan sebagai perisa, terutama perisa cokelat. Kemenyan Siam dari Laos beraroma lebih bulat dan mirip Vanili, sedangkan kemenyan Sumatra terasa lebih tajam di hidung. Menurut PROSEA, di Skandinavia kemenyan dipakai dalam kue yang berisi vanili atau Kayu Manis untuk mengikat aromanya. Barang harum lain dari Nusantara yang tidak dipakai memasak, seperti cendana, gaharu, dan nilam, dikumpulkan dalam satu ulasan. Dalam parfum, peran pengikat wangi yang serupa juga dipegang minyak nilam dari Aceh.
Kapur Barus di Toko Belum Tentu dari Pohon
Bola putih pengharum lemari yang di toko juga disebut kapur barus tidak selalu berasal dari pohon Dryobalanops. Sebagian produk pengusir ngengat dibuat dari naftalena, bahan dari minyak bumi atau tar batu bara. Menurut lembar fakta naftalena dari NPIC[4], padatan ini berubah menjadi gas beracun. Menghirup uapnya bisa menyebabkan sakit kepala, mual, dan pusing, dan menelannya bisa merusak sel darah merah. Anak kecil paling berisiko karena bola itu mirip permen.
Jadi baca labelnya, simpan jauh dari jangkauan anak, dan jangan pernah menaruhnya di dekat toples rempah atau bahan makanan. Kristal kamper, alami maupun sintetis, juga bukan bahan makanan, sekalipun harum dan tampak bersih.
Barus dalam Peta Jalur Rempah
Barus menunjukkan bahwa perdagangan Nusantara dengan dunia luar tidak hanya bertumpu pada Maluku. Pedagang Tamil dari India selatan dan pedagang Arab sudah datang ke pantai barat Sumatra untuk getah pohon, dan jalur yang sama kemudian membawa rempah serta kebiasaan masak mereka, seperti terlihat pada jejak rempah India dan Arab di dapur. Urutan zamannya, dari masa praaksara sampai VOC, bisa ditelusuri lewat garis waktu jalur rempah.
Rujukan
Sumber untuk keterangan botani, perdagangan kemenyan dan kamper, sejarah Barus, dan bahaya naftalena.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
