Lewati ke konten

Nilam Aceh: Minyak Atsiri untuk Parfum Dunia

4 menit baca

Minyak nilam Aceh dicari industri parfum karena satu kemampuan: menahan wangi bahan lain supaya tidak cepat hilang dari kulit. Minyak ini disuling dari daun Nilam (Pogostemon cablin), tanaman semak yang baru ditanam di Aceh sekitar seratus tahun lalu. Sumatra kemudian menjadi pemasok terbesar dunia, dan nama Aceh sekarang dilindungi sebagai indikasi geografis.

Dari Penang ke Aceh

Nilam bukan tanaman asli Aceh. Menurut catatan PROSEA tentang marga nilam[1], penanaman untuk minyak kemungkinan dimulai di Penang pada abad ke-19 dengan bibit dari Filipina. Dari sana nilam dibawa ke Jawa pada 1895 dan ke Sumatra pada 1910. Pada 1920 produksinya sudah mapan di Aceh.

Wanginya sampai ke Eropa lebih dulu daripada tanamannya. PROSEA mencatat bahwa orang Eropa mengenal bau nilam dari selendang dan kain India, yang dikemas bersama daun nilam kering untuk mengusir serangga. Daun keringnya baru tiba di London pada 1844, dan pembuat kain di Prancis segera meniru cara itu. Di Aceh sendiri tanaman ini disebut nilam, sedangkan orang Batak menyebutnya singalon.

Kenapa Parfum Membutuhkan Minyak Nilam

Minyak nilam dipakai hampir di seluruh industri parfum sebagai pengikat wangi, dan biasanya dalam takaran kecil. Pada parfum bergaya oriental, baunya bahkan menjadi dasar racikan. Penelitian pemalsuan minyak nilam dari Universitas Syiah Kuala[2] menyebut minyak ini dipakai sebagai pengikat wangi sejak abad ke-20. Senyawa utamanya, patchouli alkohol, yang membuat aroma produk wangi bertahan lama.

Baunya sendiri berat. PROSEA menggambarkan minyak suling Indonesia sebagai cairan kental berwarna jingga gelap sampai kecokelatan, dengan bau tanah, kayu, dan manis herba yang sangat awet. Pada kertas uji perfumer, bau manisnya masih tercium setelah berbulan-bulan, dan dalam kadar pekat banyak orang merasa mual. Mutunya malah membaik selama disimpan.

Nilam bukan satu-satunya minyak atsiri Indonesia. Peneliti Syiah Kuala menyebut Indonesia menghasilkan 40 jenis minyak atsiri, termasuk minyak Pala, minyak dari Sereh Wangi, dan minyak Akar Wangi. Wangi seperti itu berasal dari senyawa yang gampang menguap dari tanaman, dan kemampuan nilam menahan penguapan itulah yang membuatnya bernilai. Minyak cengkeh, serai wangi, dan pala bahkan termasuk minyak atsiri yang mendominasi ekspor Indonesia pada 2019.

Dari Kebun ke Ketel Suling

Minyak nilam diambil dari daun dan batang yang dikeringkan dulu. PROSEA menyebut panen pertama dilakukan saat tanaman berumur 6 sampai 8 bulan, lalu diulang setiap 3 sampai 5 bulan sampai tanaman berumur sekitar tiga tahun. Satu hektare di Indonesia menghasilkan 40 sampai 60 kilogram minyak. Daunnya dijemur 2 sampai 5 hari, dan penyulingan kecil dengan api langsung butuh 6 sampai 8 jam untuk 75 sampai 100 kilogram daun.

Pengeringan menentukan hasil. Uji penyulingan nilam Aceh yang ditanam di Maluku[3] mendapati bahwa makin lama daun dijemur, makin sedikit minyak yang keluar. Rendemen tertinggi, 1,4 persen, didapat dari daun yang dikeringkan lima hari dan air pendingin kondensor yang dialirkan paling deras. Kadar patchouli alkohol di minyak hasil uji itu 16,84 sampai 17,30 persen, dan penulisnya mencatat mutu serta jumlah minyak nilam Indonesia masih rendah karena kebanyakan penyuling memakai alat sederhana.

Pemalsuan dan Perlindungan Nama Aceh

Harga yang tinggi mengundang pemalsuan. Penelitian Syiah Kuala mencatat minyak nilam murni sering dicampur minyak gurjun balsam, minyak jarak, atau minyak sawit olahan. Gurjun balsam paling sering dipakai karena warna, bau, dan kekentalannya mirip. Campuran seperti itu sulit dikenali tanpa uji laboratorium, jadi para peneliti mengembangkan cara mendeteksinya dengan spektroskopi inframerah, dan cara itu masih mengenali campuran pada kadar terendah yang diuji, 0,5 persen.

Pemalsuan bukan hal baru. PROSEA menulis bahwa daun nilam untuk ekspor dulu sering dicampur daun tanaman lain, termasuk selasih. Untuk melindungi nama daerahnya, Minyak Nilam Aceh kini terdaftar sebagai indikasi geografis. Daftar produk perkebunan berindikasi geografis dari Kementerian Pertanian[4] mencatat pendaftarannya pada 2013.

Tempat Nilam dalam Sejarah Dagang Sumatra

Nilam adalah pendatang baru dibandingkan cengkeh dan pala, yang diperdagangkan dari Maluku sejak zaman kuno sampai masa VOC. Pantai barat Sumatra sudah lama menjual bahan wangi, dan getah pohon dari pelabuhan Barus dicari pedagang jauh sebelum nilam datang. Bedanya, nilam lahir sebagai komoditas industri. Menurut PROSEA, produksi dunia sekitar 1.000 ton per tahun pada 1995, dan lebih dari 80 persennya berasal dari Sumatra.

Rujukan

Sumber untuk sejarah, penyulingan, mutu, dan status indikasi geografis minyak nilam.

  1. ↑ Pogostemon (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Partial Least Squares-Discriminant Analysis Classification for Patchouli Oil Adulteration Detection by Fourier Transform Infrared Spectroscopy in Combination with Chemometrics. ACS Omega, 2023
  3. ↑ The Flow Rate of the Condenser Cooling Water in the Distillation Process Increases the Quality and Quantity of Patchouli Oil. The Scientific World Journal, 2024
  4. ↑ 30 Produk Perkebunan Indikasi Geografis. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, 2016

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.