Lewati ke konten

Rempah Khas Tiap Daerah Indonesia, dan dari Mana Asalnya

3 menit baca

Rempah Indonesia tidak tersebar merata. Sebagian tumbuh hampir di mana saja, sebagian lagi hanya dikenal di satu pulau, dan beberapa di antaranya bahkan tidak punya nama di daerah lain. Artikel ini memetakan yang dipakai di dapur menurut daerahnya, dengan angka yang dihitung langsung dari data situs ini.

Maluku: Dua Rempah yang Mengubah Sejarah

Di situs ini ada 5 entri yang didaftarkan berasal dari Maluku, dan dua di antaranya paling menentukan. Menurut kajian tentang Kepulauan Maluku di The Asia-Pacific Journal tahun 2017[1], Maluku adalah satu-satunya tempat pala dan cengkeh tumbuh pada abad ke-15.

Sebaran itu ada di dalam Maluku sendiri. Sebuah penelitian genetik pala di Proceedings of the Royal Society B tahun 2026[2] menyimpulkan pusat asal Myristica fragrans ada di Maluku bagian selatan, yaitu Banda dan Ambon. Pala dan Fuli berasal dari pohon yang sama, sedangkan Cengkeh terpusat di utara, wilayah persaingan kesultanan Ternate dan Tidore.

Sumatra: Asam, Andaliman, dan Kulit Kayu

Dari Sumatra tercatat 13 entri, dan cirinya mudah dikenali: banyak yang asam dan banyak yang dipakai untuk ikan. Andaliman dari Tapanuli memberi rasa kebas yang tidak ada di rempah Nusantara lain, sedangkan Asam Gelugur dan Asam Kandis dijual sebagai irisan kering.

Aceh punya daftarnya sendiri, dengan 2 entri, termasuk Asam Sunti, belimbing wuluh yang digarami lalu dijemur. Perbandingan seluruh pengasam bertumpu pada rasa lain di balik asamnya.

Jawa: Rimpang dan Bumbu Harian

Kelompok terbesar datang dari Jawa, 56 entri, dan sebagian besar berupa rimpang serta daun yang dipakai setiap hari. Perlu dicatat, kolom asal di situs ini menunjuk daerah yang paling melekat pada pemakaiannya di dapur, bukan selalu tempat tumbuhan itu pertama kali muncul.

Kluwek contohnya. Catatan PROSEA untuk Pangium edule[3] mendaftar namanya di banyak daerah sekaligus, dari picung dan pucung sampai kepayang di Malaysia, jadi tumbuhannya jauh lebih luas daripada satu pulau.

Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua

Nusa Tenggara punya 2 entri, dan yang paling dikenal Cendana. Menurut catatan PROSEA untuk Santalum album[4], asal pastinya belum diketahui, tetapi kemungkinan besar asli dari busur luar Banda di tenggara Indonesia, dengan Timor dan Sumba sebagai pulau terpentingnya.

Kalimantan menyumbang 3 entri, termasuk Bawang Dayak, sedangkan Papua 3 entri, termasuk Masoi dan Buah Merah. Sebagian dari kelompok ini jarang masuk panci dan lebih sering dipakai di luar dapur, sebab rempah seperti itu dicari karena aroma, bukan rasa.

Membaca Peta Ini dengan Benar

Tiga hal yang perlu diingat. Pertama, daerah pada entri menunjukkan tempat rempah itu paling melekat di dapur, dan tumbuhan yang sama bisa tumbuh di banyak tempat. Kedua, angka di artikel ini dihitung dari basis data situs, jadi bertambah sendiri setiap entri baru terbit. Ketiga, satu rempah bisa punya beberapa nama daerah, seperti kluwek yang juga disebut picung atau pucung, jadi nama di resep daerah perlu dicocokkan dengan entrinya sebelum dibeli.

Kenapa sebaran itu penting dalam sejarah dagang terlihat dari perjalanan rempah sejak masa praaksara.

Rujukan

Sumber untuk asal botani dan keterangan sejarah di artikel ini.

  1. ↑ Integration and Conflict in Indonesia’s Spice Islands. The Asia-Pacific Journal: Japan Focus, 2017
  2. ↑ Retracing the Centre of Origin and Evolutionary History of Nutmeg Myristica fragrans. Proceedings of the Royal Society B, 2026
  3. ↑ Pangium edule (PROSEA). Pl@ntUse
  4. ↑ Santalum album (PROSEA). Pl@ntUse

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.