Lewati ke konten

Wedang Uwuh, Bir Pletok, Bandrek, Sekoteng: Isi dan Bedanya

5 menit baca

Wedang uwuh, bir pletok, bandrek, dan sekoteng sama-sama minuman hangat berbahan Jahe, dan sering dikira versi daerah dari satu resep yang sama. Padahal asal dan isinya berbeda: wedang uwuh dari Imogiri, Bantul, berwarna merah karena kayu secang; bir pletok memakai rempah yang mirip tetapi lahir di Betawi; bandrek dari tanah Sunda bertumpu pada jahe dan gula; sedangkan sekoteng dikenal justru karena isiannya.

Asal dan Isi Keempatnya dalam Satu Tabel

Tabel ini merangkum yang tercatat di sumber yang dirujuk. Takaran rempah untuk minuman rumahan berbeda-beda di tiap keluarga dan penjual, jadi angka yang dicantumkan hanya yang memang diukur dalam penelitian.

Minuman Asal Bahan inti Takaran yang tercatat
Wedang uwuh Desa Pajimatan, Imogiri, Bantul secang, kayu manis, kapulaga, jahe, pala, serai, cengkeh semua bahan direbus sekitar 30 menit
Bir pletok Betawi jahe bakar, serai, cengkeh, kayu manis, secang rempah direbus dalam 1 liter air; gula 4 sampai 12 gram per 100 mL
Bandrek Sunda, Jawa Barat jahe, gula aren, gula pasir, kadang pandan jahe dan gula pasir 2 banding 1 paling disukai dalam uji bandrek instan
Sekoteng belum ada sumber akademik kuah jahe dengan isian tidak tercatat

Wedang Uwuh: Merah dari Kayu, Bukan dari Buah

Namanya berarti minuman sampah, karena bahan keringnya tampak seperti guguran daun dan ranting. Menurut kajian kimia wedang uwuh di Jurnal Yoga dan Kesehatan tahun 2022[1], minuman ini khas Desa Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, dan berbahan baku secang, kayu manis, kapulaga, jahe, pala, serai, dan cengkeh. Kajian yang sama mengutip catatan bahwa pada masa Kerajaan Mataram wedang uwuh disajikan raja untuk menjamu tamu keraton.

Cara membuatnya sederhana: seluruh bahan dimasukkan ke air mendidih dan direbus sekitar 30 menit. Kajian itu menjelaskan bahwa air saja perlu dibantu pemanasan supaya senyawa di dalam sel bahan, termasuk serutan kayu yang keras, keluar ke minuman.

Warna merahnya datang dari Kayu Secang, bukan dari buah atau pewarna. Karena itu wedang uwuh terasa ringan di lidah meski warnanya pekat: secang menyumbang warna jauh lebih banyak daripada rasa.

Bir Pletok: Betawi, dan Tidak Beralkohol

Bir pletok memakai rempah yang sebagian sama, tetapi berasal dari Jakarta. Sebuah penelitian bir pletok di AcTion: Aceh Nutrition Journal tahun 2021[2] menyebutnya minuman tradisional Betawi yang dibuat dari jahe, Serai, cengkeh, kayu manis, dan kayu secang sebagai penambah warna merah alami, serta mencatat minuman ini tidak mengandung alkohol.

Penelitian itu juga mencatat cara membuatnya. Jahe dibakar lalu digeprek, direbus bersama kayu manis, cengkeh, serai, dan secang dalam 1 liter air sampai mendidih, lalu disaring dan diberi gula pasir. Takaran gula yang diuji adalah 4, 8, dan 12 gram per 100 mL. Pada takaran 8 gram, satu gelas 250 mL sudah berisi 20 gram gula.

Jadi perbedaannya dengan wedang uwuh bukan terletak pada warna, melainkan pada asal dan racikannya: wedang uwuh menambahkan Pala dan Kapulaga, sedangkan bir pletok berhenti di lima bahan utama itu. Nama bir di depannya menyesatkan, dan penjelasan sumber di atas menutup kekeliruan yang paling sering muncul.

Bandrek: Bertumpu pada Jahe

Bandrek dari Jawa Barat paling sederhana susunannya. Produksi bandrek komersial memang berdiri di atas satu bahan baku utama: sebuah kajian kelayakan usaha bandrek di jurnal Optima tahun 2018[3] menganalisis pengadaan bahan baku jahe merah kering untuk memproduksi bandrek di sebuah perusahaan di Cimahi.

Di rumah, bandrek biasanya dibuat dari jahe yang dibakar lalu direbus dengan gula aren, dan sebagian orang menambahkan Kayu Manis atau susu. Karena bertumpu pada jahe, pilihan jenis jahenya terasa langsung, meski Jahe Merah masih satu spesies dengan jahe biasa.

Banyaknya jahe juga ada batasnya. Sebuah uji formulasi bandrek instan di Journal of Innovative and Creativity tahun 2025[4] menyebut bandrek minuman khas masyarakat Sunda, lalu membandingkan tiga campuran jahe emprit, gula pasir, gula aren, dan selembar daun pandan. Dari 100 responden di Yogyakarta, campuran jahe dan gula pasir 2 banding 1 paling disukai (77 persen), sedangkan 3 banding 1 paling rendah (65 persen). Para peneliti mencatat jahe yang terlalu banyak meninggalkan pedas dan sisa rasa yang kurang disukai.

Sekoteng dan Kerabat Berisiannya

Sekoteng dikenal dari isiannya, dan di sinilah sumber yang bisa diperiksa justru paling sedikit. Kajian akademik yang memerinci resep, takaran, atau asal sekoteng belum ditemukan dalam sumber terbuka. Cerita asal namanya banyak beredar di media, jadi isinya tidak dituliskan di sini sebagai daftar yang pasti.

Yang terdokumentasi adalah kerabat dekatnya. Sebuah kajian minuman Nusantara dalam sastra anak yang terbit di jurnal JEILL tahun 2024[5] mencatat wedang ronde berisi tepung ketan atau sagu, gula, pandan, serai, kolang-kaling, roti tawar, dan jahe, sedangkan bajigur dari Jawa Barat berisi kopi, gula aren, santan, kolang-kaling, serutan kelapa, roti, jahe, dan kayu manis. Pola isian roti dan kolang-kaling itulah yang juga dikenal pada sekoteng. Perbedaan kuah dan isian kerabat berjahe seperti ronde dan angsle dibandingkan dalam satu tabel tersendiri.

Memilih yang Mana untuk Apa

Untuk minuman berwarna merah yang ringan dan wangi, wedang uwuh dan bir pletok saling berdekatan, dan keduanya memakai kayu secang. Untuk rasa jahe yang tegas dan manis aren, bandrek lebih tepat. Untuk minuman yang sekaligus mengenyangkan, pilih yang berisian seperti wedang ronde, bajigur, atau sekoteng.

Keempatnya diminum secara tradisional sebagai penghangat. Manfaat kesehatan yang sering ditempelkan pada wedang uwuh berasal dari kajian senyawa tiap bahannya, bukan dari uji minumannya pada manusia. Resep wedang uwuh, bir pletok, dan bandrek di sumber-sumber tadi juga memakai gula, dan itu perlu dihitung oleh orang yang membatasi gula.

Ketiga minuman pertama mengandalkan rempah kering, jadi mutunya bergantung pada cara menyimpan dan umur rempahnya. Rempah yang sama terasa berbeda di gelas dan di kuah santan, sedangkan rimpang yang mirip bisa dibedakan dari ukuran temulawak yang jauh lebih besar.

Wedang yang dibuat sekaligus banyak lalu dibotolkan cepat berubah, karena minuman berair dan bergula cepat asam.

Rujukan

Sumber untuk asal, susunan bahan, dan takaran tiap minuman di artikel ini.

  1. ↑ Kajian Kimia Wedang Uwuh sebagai Minuman Kesehatan Herbal Tradisional. Jurnal Yoga dan Kesehatan, 2022
  2. ↑ Pengaruh Konsentrasi Gula terhadap Aktivitas Antioksidan pada Minuman Bir Pletok. AcTion: Aceh Nutrition Journal, 2021
  3. ↑ Pemilihan Proses Pengadaan Bahan Baku Jahe Merah Kering dalam Memproduksi Bandrek. Optima, 2018
  4. ↑ Evaluasi Formulasi Jahe pada Produk Bandrek Instan Berdasarkan Preferensi Konsumen. Journal of Innovative and Creativity, 2025
  5. ↑ Representasi Lumbung Gastronomi Jawa dalam Cerpen dan Dongeng Minuman Nusantara. JEILL, 2024

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.