Lewati ke konten

Wedang dan Jamu Botolan: Kenapa Cepat Basi dan Berapa Lama Tahan

3 menit baca

Wedang dan jamu yang dibotolkan sendiri sering berubah asam atau berbuih hanya dalam sehari atau dua hari. Penyebabnya hampir selalu sama: minuman ini berair, sering bergula, dan dibuat dari bahan segar yang membawa mikroba dari kebun. Umur simpannya ditentukan oleh tiga hal: direbus atau tidak, suhu penyimpanan, dan kebersihan botolnya.

Kenapa Minuman Rempah Cepat Rusak

Rimpang, daun, dan buah yang dipakai untuk jamu membawa mikroba sejak dari tanah. Penelitian kontaminasi mikroba jamu gendong di Surabaya[1] menemukan sebagian besar sampel jamu gendong tercemar berat oleh bakteri, ragi, dan kapang, dan bahan bakunya pun menunjukkan hasil serupa. Kabar baiknya, sebagian besar cemaran itu bukan jenis penyebab penyakit, dan penelitian yang sama mencatat bahwa jamu yang memenuhi syarat pemerintah bisa dibuat.

Ragi dan kapang itulah yang membuat jamu berbuih, beraroma asam, atau beralkohol setelah disimpan. Gula aren dan gula pasir di dalam wedang menjadi makanan yang mempercepat prosesnya.

Direbus atau Tidak, Bedanya Besar

Minuman yang direbus sampai mendidih, seperti wedang Jahe atau wedang Kayu Secang, sudah jauh lebih sedikit mikrobanya daripada jamu yang hanya diperas. Perlakukan wedang yang sudah matang seperti masakan berkuah: dinginkan cepat, lalu simpan di kulkas.

Jamu yang diperas tanpa direbus, misalnya perasan Kunyit dan asam yang langsung dibotolkan, lebih mirip jus segar. Panduan keamanan jus dari FDA[2] menjelaskan bahwa bakteri dari buah dan sayur bisa ikut masuk ke jus yang diperas segar, dan jus yang tidak dipasteurisasi harus disimpan dingin. Anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah paling berisiko sakit berat.

Suhu Menentukan Umurnya

Botol jamu yang dibiarkan di meja adalah penyebab paling umum. Menurut panduan suhu kulkas dari FDA[3], bakteri penyebab penyakit bawaan makanan bisa berlipat dua setiap 20 menit pada suhu ruang, dan makanan yang mudah rusak tidak sebaiknya dibiarkan di luar dua jam atau lebih. Kulkas sebaiknya berada di 4 derajat Celsius atau lebih dingin. Perhitungan suhu dan waktu yang serupa berlaku juga ketika rempah segar dikirim ke luar kota.

Jadi wedang yang dibuat pagi dan dibawa bekerja sebaiknya dihabiskan hari itu juga, atau dibawa dalam botol termos yang tetap panas. Jamu segar sebaiknya langsung masuk kulkas begitu dingin.

Berapa Lama di Kulkas

Tidak ada angka resmi khusus untuk jamu buatan rumah. Patokan yang paling masuk akal meminjam aturan masakan berkuah matang, yang di bagan FDA diberi batas beberapa hari di kulkas; angka dan penjelasannya bisa dilihat pada umur simpan bumbu matang. Jamu yang tidak direbus sebaiknya dibuat untuk satu sampai dua hari saja, karena mikrobanya sejak awal lebih banyak.

Jamu dan minuman rempah kemasan pabrik berbeda, karena umumnya sudah melalui proses pemanasan dan dikemas tertutup. Ikuti tanggal kedaluwarsa dan petunjuk penyimpanan di labelnya, terutama keterangan simpan dingin setelah dibuka.

Botol dan Tanda Basi

Pakai botol kaca yang dicuci bersih lalu disiram air mendidih, dan jangan mengisi botol dengan tangan yang belum dicuci. Tuang dari botol ke gelas, jangan diminum langsung dari mulut botol kalau isinya akan disimpan lagi.

Buang minuman yang berbuih, beraroma asam atau seperti tapai, berlendir, atau tutupnya menggembung. Aroma rempah yang memudar adalah hal lain; itu tanda senyawa atsiri yang lepas ke udara. Wedang yang umum dibuat berbeda isinya, seperti bandrek, sekoteng, dan bir pletok, dan rempah kering yang sudah tua dikenali dari aroma dan warnanya.

Rujukan

Sumber untuk keterangan cemaran jamu, jus segar, dan suhu penyimpanan di artikel ini.

  1. ↑ Jamu Gendong, a kind of traditional medicine in Indonesia: the microbial contamination of its raw materials and endproduct. Journal of Ethnopharmacology, 1998
  2. ↑ What You Need to Know About Juice Safety. U.S. Food and Drug Administration
  3. ↑ Refrigerator Thermometers: Cold Facts about Food Safety. U.S. Food and Drug Administration

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.