Lewati ke konten

Kapulaga Jawa sebagai Komoditas: Sentra dan Pasarnya

4 menit baca

Kapulaga jawa hampir seluruhnya dihasilkan di Pulau Jawa, dan Jawa Barat sendiri menyumbang lebih dari 70 persen produksi nasional. Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia menghasilkan sekitar 154 ribu ton kapulaga pada 2025. Sebagian besar dijual petani ke pedagang pengepul, lalu mengalir ke pedagang besar dan industri, dengan harga yang lebih banyak ditentukan pedagang daripada petani.

Tanaman Asli Jawa Bagian Barat

Kapulaga jawa (Amomum compactum) adalah tumbuhan asli perbukitan rendah Jawa bagian barat. Catatan PROSEA tentang kapulaga jawa[1] menyebut tanaman ini sekarang juga ditanam di Sumatra bagian selatan dan Maluku, tetapi hanya Indonesia yang menanamnya secara komersial. Orang Sunda menyebutnya kapol, dan di Sumatra dikenal sebagai puwar pelaga.

Tanaman ini tumbuh paling baik di bawah naungan, pada ketinggian 200 sampai 1.000 meter, dengan hasil tertinggi di 300 sampai 500 meter. Pada tahun-tahun pertama tanaman ini hampir tidak berbuah, dan baru mulai tahun keempat buahnya bisa dipetik setiap 35 sampai 45 hari. Karena suka teduh, kapulaga cocok ditanam di bawah pohon lain, termasuk di lahan hutan.

Sentra Produksi Menurut Angka BPS

Tabel produksi tanaman biofarmaka dari BPS[2] mencatat produksi kapulaga Indonesia 153.797.067 kilogram pada 2025, naik dari 122.360.105 kilogram pada 2023. Pembagiannya timpang:

  • Jawa Barat: 110.506.701 kg, sekitar 72 persen
  • Jawa Tengah: 33.736.882 kg, sekitar 22 persen
  • Jawa Timur: 5.422.897 kg
  • Sumatera Barat dan Sumatera Utara: masing-masing sekitar 1,6 sampai 1,7 juta kg

Dua provinsi teratas saja sudah menghasilkan hampir 94 persen. Di Jawa Tengah, penelitian rantai pasok yang dibahas di bawah menyebut Magelang sebagai kabupaten dengan kapulaga terbanyak, disusul Wonosobo, Semarang, dan Banyumas. BPS mencatat angka ini sebagai produksi tanaman biofarmaka, kelompok tanaman obat, jadi di statistik resmi kapulaga dihitung satu tabel dengan jahe, kunyit, kencur, lengkuas, dan temulawak, tidak bersama cengkeh atau lada. Pemakaian kapulaga dalam ramuan juga tercatat jauh sebelum statistik ini: naskah Jawa dari tahun 1814 sudah menyebut jamu berisi kapulaga dan cengkeh.

Dari Kebun ke Pedagang Besar

Rantai dagangnya bisa dilihat dari satu kecamatan. Kajian rantai pasok kapulaga di Gumelar, Banyumas[3], yang datanya diambil Januari sampai Februari 2022, mencatat petani menanam kapulaga di lahan sendiri dan di lahan Perhutani tanpa biaya sewa. Hasil panen dijual ke pengepul dalam keadaan basah atau sudah dijemur tiga sampai lima hari di atas tampah.

Pengepul mengeringkan lagi, mengemas dalam karung, dan menjual ke pedagang besar di pasar Ajibarang. Pedagang besar memeriksa kadar air, karena pembeli meminta kapulaga dengan kadar air di bawah 20 persen. Dari gudang, kapulaga dikirim 2 sampai 3 ton sekali jalan ke Surabaya dan Semarang.

Harga di tingkat petani waktu itu Rp120.000 sampai Rp125.000 per kilogram, sedangkan pembeli terakhir membayar sampai Rp170.000. Bagian harga yang diterima petani berkisar 70,6 sampai 89,3 persen, tergantung jalur yang dilewati. Penulisnya mencatat masalah utama petani adalah harga yang naik turun dan informasi pasar yang terbatas, sehingga harga lebih banyak ditentukan pedagang.

Siapa Pembelinya

Industri, terutama industri jamu, sudah lama menjadi pembeli utama. PROSEA mencatat bahwa pada 1984 Indonesia menghasilkan 935 ton biji kapulaga, gabungan kapulaga jawa dan kapulaga hijau. Sebagian besar dipakai di dalam negeri, terutama oleh industri obat tradisional, dan hanya 200 ton yang diekspor. Di Pangandaran, penelitian pemasaran kapulaga di Desa Cimanggu[4] menemukan satu saluran saja: petani, pedagang pengepul, pedagang besar, lalu konsumen industri.

Angka ekspor kapulaga jawa sulit dipisahkan. PROSEA menyebut data produksi dan perdagangannya tidak bisa diandalkan karena kapulaga jawa dan Kapulaga Hijau dari India biasanya dicatat sebagai satu barang. Keduanya berasal dari tanaman berbeda dan aromanya tidak bisa saling menggantikan. PROSEA mencatat kadar minyak atsiri biji kapulaga jawa 2 sampai 4 persen, sedangkan kapulaga hijau 5 sampai 8 persen, dan kadar minyak yang lebih tinggi itu membuat kapulaga hijau menjadi pengganti utamanya. Kerabat lain yang juga diberi nama kapulaga dalam perdagangan, seperti Kapulaga Hitam dari Himalaya timur dan Korarima dari Etiopia, digolongkan PROSEA sebagai kapulaga palsu, sebutan untuk jenis yang bukan kapulaga hijau. Untuk gambaran rempah Indonesia yang dikirim ke luar negeri, tujuan ekspor cengkeh dan lada jauh lebih mudah dilacak.

Kenapa Kapulaga Jarang Muncul dalam Sejarah Rempah

Cerita perdagangan rempah Nusantara biasanya berpusat pada cengkeh, pala, dan lada, yang dicari pedagang asing selama berabad-abad di sepanjang jalur dagang yang dikuasai VOC. Kapulaga jawa berjalan di jalur lain. Setidaknya menurut data tahun 1980-an, sebagian besar hasilnya tetap di dalam negeri dan diserap industri obat tradisional. Sentranya pun berada di kebun dan lahan hutan yang teduh di Jawa Barat dan Jawa Tengah, dengan pedagang pengepul sebagai penghubung pertama ke pasar.

Rujukan

Sumber untuk keterangan botani, angka produksi, dan rantai dagang kapulaga jawa.

  1. ↑ Amomum compactum (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Produksi Tanaman Biofarmaka Menurut Provinsi dan Jenis Tanaman, 2025. Badan Pusat Statistik
  3. ↑ Kajian Rantai Pasok Komoditas Kapulaga di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Jurnal Pertanian Agros, 2022
  4. ↑ Analisis Pemasaran Kapulaga. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh, 2015

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.