Lewati ke konten

Jahe dalam Perdagangan Kuno: Dari Asia ke Eropa

4 menit baca

Jahe sudah sampai di Laut Tengah paling lambat pada abad pertama Masehi, dibawa lewat pelabuhan Laut Merah dari Asia. Orang Yunani dan Romawi memakainya terutama sebagai obat, dan pada tahun 301 harganya termasuk yang paling mahal di antara bahan obat dalam daftar harga resmi Kekaisaran Romawi. Anehnya, penulis Romawi mengira jahe tumbuh di pantai Laut Merah, bukan di Asia.

Asal Jahe yang Masih Kabur

Jahe tidak pernah ditemukan tumbuh liar, jadi tempat asalnya hanya bisa diduga. Catatan PROSEA untuk jahe di Pl@ntUse[1] menyebut jahe sudah ditanam di Asia tropis sejak zaman kuno dan diduga berasal dari India. Penelitian arkeologi di Science Advances menyebut wilayah Indo-Malaysia sebagai asalnya, dengan pusat budi daya pertama yang belum jelas, sementara Tiongkok dan India diduga menjadi dua pemasok utama untuk perdagangan sejak dulu.

Bukti fisiknya tersebar jauh. Butir pati jahe ditemukan di situs Harappa di Farmana, India. Di Tiongkok, lebih dari 78 potong jahe ditemukan di tujuh makam dari masa akhir Negara-Negara Berperang sampai awal Dinasti Han Barat, sekitar 300 sampai 160 sebelum Masehi.

Jejak di Asia Tenggara 2.000 Tahun Lalu

Asia Tenggara sudah menjadi bagian jalur ini pada awal Masehi. Penelitian butir pati pada batu giling di situs Oc Eo, Vietnam[2] menemukan sisa jahe, Kunyit, temu kunci, kencur, lengkuas, cengkeh, pala, dan kayu manis pada alat pengolah bumbu berusia sekitar 2.000 tahun. Dari 316 butir pati keluarga jahe-jahean, 83 butir dikenali sebagai jahe. Kawasan ini juga memasok dagangan yang bukan bumbu, seperti kayu secang untuk pewarna merah yang diperdagangkan lintas samudra.

Rempah-rempah itu kini menjadi bahan kari di Asia Selatan, dan batu giling berkaki yang dipakai di Oc Eo punya padanan di situs India dan Sri Lanka dari 500 sebelum Masehi sampai 300 Masehi. Karena itu para penelitinya menyebut temuan ini jejak kari tertua di Asia Tenggara. Temuan yang sama menjadi dasar cerita tentang rempah Asia Barat yang tiba lewat pelabuhan di kawasan ini.

Jahe di Tangan Tabib Yunani dan Romawi

Kajian bahan obat Asia dalam naskah kedokteran akhir Zaman Kuno di jurnal Pharmacy in History[3] mencatat zingiberis, nama Yunani untuk jahe, dipakai luas dalam pengobatan Yunani dan Romawi sejak paling lambat abad pertama Masehi. Dioskorides menulis satu bab khusus tentang rimpangnya yang dianggap menghangatkan dan membantu pencernaan. Galen menyebut jahe sekitar enam puluh kali.

Dioskorides dan Plinius sama-sama yakin jahe banyak ditanam di Troglodytica, sebutan untuk pesisir dari Suez sampai Selat Bab el-Mandeb. Kajian itu mencatat tidak ada satu pun sumber kuno yang menyebut jahe berasal dari Asia. Dugaan penulisnya: pelabuhan utama Laut Merah, Berenike dan Myos Hormos, berada di kawasan itu, sehingga tempat jahe diturunkan dari kapal dikira tempat jahe tumbuh. Kekeliruan seperti itu mudah terjadi ketika sebuah barang melewati banyak tangan sebelum sampai ke pembeli, dan rantai pedagang yang panjang itu juga yang membuat harganya tinggi.

Harga Jahe dalam Dekret Diokletianus

Jahe tercatat dalam dua aturan resmi Romawi. Yang pertama, tarif Aleksandria dari abad kedua pada masa Marcus Aurelius dan Commodus, mendaftar jahe bersama kayu manis, Long Pepper, lada putih, kardamomum, dan barang Asia lainnya. Yang kedua, Dekret Diokletianus tahun 301, menetapkan harga tertinggi 400 denarius per pon untuk jahe awetan dan 250 denarius untuk jahe kering. Keduanya termasuk bahan obat tunggal termahal dalam dekret itu.

Kerabatnya menyusul jauh kemudian. Kajian yang sama mencatat Lengkuas, rimpang yang mirip jahe, baru meluas dalam pengobatan Eropa sesudah abad kesembilan dan kesepuluh, dan baru rutin diresepkan sejak abad ke-13 atau ke-14.

Dari Pedagang Arab sampai Jamaika

PROSEA mencatat jahe dibawa pedagang Arab dari India ke Eropa dan Afrika Timur. Pada abad ke-13 dan ke-14, jahe dan Lada Hitam termasuk rempah yang paling banyak diperdagangkan. Abad ke-16 membawa perluasan besar: orang Portugis membawa jahe dari Afrika Timur ke Afrika Barat dan wilayah tropis lain, dan pada masa yang kurang lebih sama orang Spanyol membawanya ke Jamaika, yang sampai kini dikenal sebagai penghasil jahe bermutu tinggi.

Bentuk dagangnya tidak banyak berubah. PROSEA mencatat jahe kering dan jahe awetan tetap menjadi bentuk utama jahe di pasar dunia, sedangkan jahe segar paling banyak dimakan di negara penghasilnya. Menurut sumber yang dikutip PROSEA, India, Tiongkok, Indonesia, dan Nigeria menjadi penghasil utama pada akhir abad ke-20. Jadi jahe ikut dalam pelayaran rempah yang jauh mendahului Eropa, dan tetap diperdagangkan setelah monopoli pala dan cengkeh berakhir.

Rujukan

Sumber untuk asal jahe, temuan arkeologi, dan catatan jahe dalam naskah serta aturan Romawi.

  1. ↑ Zingiber officinale (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Earliest curry in Southeast Asia and the global spice trade 2000 years ago. Science Advances, 2023
  3. ↑ Pharmacological Substances From Asia In Late Antique Medical Works: Myths and Facts. Pharmacy in History, 2025

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.