Lewati ke konten

Membuat Jahe Kristal dan Manisan Jahe: Gula, Air, dan Lama Merebus

4 menit baca

Di pasar Indonesia, nama jahe kristal sering dipakai untuk serbuk minuman jahe instan, sedangkan manisan jahe adalah irisan jahe yang dimasak dengan gula lalu dikeringkan. Keduanya dibuat dari jahe, gula, dan panas, tetapi prosesnya berbeda. Jahe kristal dibuat dari sari jahe yang dimasak sampai gula mengkristal, sedangkan manisan memakai irisan rimpangnya. Di resep berbahasa Inggris, crystallized ginger justru berarti manisan jahe bersalut gula, jadi periksa dulu mana yang dimaksud sebelum berbelanja bahan. Serbuk instan itu sebagian besar gula, jadi ia tidak sama dengan jahe bubuk atau irisan jahe kering, yang dibuat dari rimpang yang dikeringkan.

Jahe Kristal: Sari Jahe yang Dimasak sampai Mengkristal

Satu proses yang tercatat lengkap ada di pendampingan industri minuman jahe merah instan dari IPB[1] di Desa Benteng, Ciampea, Bogor. Jahe Merah segar diblender dengan air hangat dengan perbandingan 1 bagian jahe dan 2 bagian air, lalu disaring dan ampasnya dibuang. Cairannya didiamkan 10 menit supaya pati jahe mengendap. Pati yang ikut dimasak bisa menggumpal di wajan, dan gumpalannya muncul lagi saat serbuk diseduh.

Cairan bening di atas endapan dituang ke wajan bersama gula merah, garam, serta bubuk Cabai Jawa dan lada hitam. Semuanya diaduk tanpa henti. Gula pasir baru dimasukkan setelah volume cairan tinggal seperempat dari awal. Pengadukan diteruskan sampai larutan lewat jenuh dan muncul kristal cokelat, lalu api dimatikan dan adukan dilanjutkan supaya butirnya seragam. Butir yang terlalu besar diblender ulang. Rempah bubuk dipakai dalam keadaan kering supaya tidak menggumpal saat dipanaskan.

Perbandingan gula menentukan hasil. Dari basis 750 gram gula pasir dan jahe, formula dengan 562,5 g gula dan 187,5 g jahe, atau 3 banding 1, memberi rendemen tertinggi, 69,33 persen, dan paling cepat larut, 27 detik dalam air panas. Formula dengan jahe dan gula sama banyak memberi rendemen 42,67 persen dan kristalisasinya lebih lama. Jadi jahe kristal yang gulanya dikurangi butuh waktu masak lebih lama sebelum butirnya terbentuk.

Manisan Jahe: Irisan yang Direbus lalu Dimasak dengan Gula

Penelitian manisan kering jahe gajah dari Universitas Tanjungpura[2] memakai Jahe gajah muda, karena aroma dan pedasnya lebih ringan daripada jahe lain. Jahe dikupas, dicuci di air mengalir, lalu diiris setebal kira-kira 2 mm. Irisan direbus di air panas selama 15 menit dan ditiriskan.

Selagi irisan masih hangat, gula ditaburkan dan didiamkan sekitar 3 menit sampai terbentuk larutan gula. Irisan lalu dipanaskan di api sedang sampai larutannya mengental, disusun di rak, dan dikeringkan dengan dehidrator selama 7 jam pada suhu 70°C. Perbandingan jahe dan gula dalam penelitian itu 50 gram banding 50 gram, atau sama berat.

Urutan membuat manisan jahe: 1. Kupas lalu iris tipis, tebal 2 mm. 2. Rebus irisan, 15 menit. 3. Taburi gula selagi hangat, 3 menit. 4. Masak lalu keringkan, 7 jam, 70°C.
  1. Jahe dikupas, dicuci di air mengalir, lalu diiris setebal kira-kira 2 mm.
  2. Irisan direbus di air panas selama 15 menit dan ditiriskan.
  3. Selagi irisan masih hangat, gula ditaburkan dan didiamkan sekitar 3 menit sampai terbentuk larutan gula.
  4. Irisan lalu dipanaskan di api sedang sampai larutannya mengental, disusun di rak, dan dikeringkan dengan dehidrator selama 7 jam pada suhu 70°C.

Foto jahe: Forest & Kim Starr / Wikimedia Commons, CC BY 3.0, dipotong dan diperkecil.

Menahan Pedas Jahe

Tiga langkah di penelitian Tanjungpura berhubungan dengan pedas. Pertama, jenis jahenya: jahe gajah muda dipilih karena lebih lembut daripada jahe emprit atau jahe merah. Kedua, kulitnya dikupas, dan penelitinya menyebut pengupasan dilakukan untuk mengurangi rasa pedas. Ketiga, irisan direbus 15 menit sebelum bertemu gula. Penelitian itu tidak mengukur kadar pedas sebelum dan sesudah tiap langkah. Jadi urutan ini sebaiknya dianggap resep yang berhasil, belum ukuran yang pasti.

Untuk jahe kristal, arahnya kebalikan. Pembuatnya di Ciampea sengaja menambah cabai jawa dan lada hitam, sehingga seduhannya terasa lebih hangat dari jahe saja.

Gula Pasir, Gula Kelapa, dan Tekstur Manisan

Penelitian Tanjungpura menguji enam campuran gula pasir dan gula kelapa, dari 100:0 sampai 0:100, pada 30 panelis. Jenis gula berpengaruh nyata pada warna dan tekstur, tetapi tidak nyata pada aroma, rasa, dan kesukaan keseluruhan. Campuran 80 persen gula pasir dan 20 persen gula kelapa mendapat nilai indeks efektivitas tertinggi. Gula pasir lebih mudah mengkristal, sedangkan gula kelapa membawa senyawa lain yang menghambat kristal, sehingga manisan dengan gula kelapa di atas 40 persen cenderung lengket. Gula kelapa dan gula aren tidak selalu sama, jadi catat jenis yang dipakai kalau hasilnya ingin diulang.

Pembuat manisan di rumah bisa menilai hasilnya dari dua hal yang diukur penelitian itu: warna dan tekstur. Makin banyak gula kelapa, makin gelap dan makin lengket irisannya. Kalau yang dicari manisan kering yang bisa dipegang tanpa menempel di jari, gula pasir sebaiknya tetap menjadi bagian terbesar.

Proses kedua olahan ini tidak memakai bumbu halus, tetapi prinsipnya mirip menunggu airnya habis di wajan: yang dinilai perubahan tekstur di wajan, bukan hitungan menit semata. Jahe juga dipakai kering di adonan kue, dan kue jahe yang beraroma rempah punya caranya sendiri.

Rujukan

Sumber untuk proses jahe kristal, manisan jahe, dan pengaruh jenis gula.

  1. ↑ Peningkatan Mutu dan Cara Produksi pada Industri Minuman Jahe Merah Instan di Desa Benteng, Ciampea, Bogor. Agrokreatif, Institut Pertanian Bogor, 2015
  2. ↑ Karakteristik Organoleptik Manisan Kering Jahe Gajah (Zingiber officinale R.) dengan Formulasi Gula Pasir dan Gula Kelapa. Jurnal Sains Pertanian Equator, Universitas Tanjungpura, 2026

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.