Bumbu Wajib di Dapur Rumah dan Dapur Kos, dan yang Bisa Ditunda
Dapur yang baru diisi tidak perlu dua puluh toples rempah. Sebagian besar masakan rumahan Indonesia berangkat dari segelintir bumbu yang sama, dan sisanya bisa dibeli ketika resepnya benar-benar akan dimasak. Yang membedakan dapur rumah dan dapur kos terutama ada tidaknya kulkas dan seberapa sering memasak.
Lima Bumbu yang Hampir Selalu Terpakai
Bawang Merah, Bawang Putih, dan cabai adalah tiga bahan yang paling sering muncul di bumbu halus, tumisan, dan sambal. Ketiganya segar, jadi dibeli untuk satu atau dua minggu saja. Supaya tidak cepat busuk, bawang dan cabai perlu disimpan berbeda.
Dua bumbu kering melengkapinya: Lada Hitam atau lada putih, dan Ketumbar. Keduanya tahan berbulan-bulan dalam bentuk butir dan dipakai di banyak masakan, dari sup sampai ayam goreng. Kalau ruang dan uang terbatas, beli butirnya dan tumbuk sedikit setiap kali memasak.
Tambahan untuk Dapur Rumah
Dapur yang memasak setiap hari akan cepat membutuhkan Kunyit, jahe, lengkuas, serai, dan Daun Salam. Rimpang segar lebih awet bila disimpan utuh dan baru dipotong saat akan dipakai. Daun salam bisa dipakai segar atau kering; menurut catatan PROSEA untuk salam[1], daunnya dipakai sebagai bumbu dalam bentuk segar maupun kering, dan harus dikeringkan dengan benar sebelum disimpan.
Dengan bahan-bahan ini, ketiga bumbu dasar sudah bisa dibuat. Rincian susunannya ada pada isi tiap bumbu dasar.
Yang Bisa Ditunda
Kemiri sering dibeli banyak karena murah, padahal umurnya pendek. Menurut catatan PROSEA untuk kemiri[2], bijinya tidak bisa disimpan lama karena diserang kumbang kecil dan minyaknya menjadi asam. Beli kemiri secukupnya untuk resep yang akan dimasak minggu ini, dan jangan dimakan mentah, karena biji mentahnya sedikit beracun dan bersifat pencahar.
Kayu manis, cengkeh, bunga lawang, kapulaga, dan pala juga bisa menunggu. Rempah ini dipakai untuk masakan tertentu seperti semur, gulai, atau kue, dan dalam jumlah kecil. Membeli satu bungkus penuh untuk satu resep berarti sisanya akan tersimpan lama dan aromanya memudar sebelum habis.
Dapur Kos tanpa Kulkas
Tanpa kulkas, bumbu segar harus dibeli lebih sering dan dalam jumlah lebih kecil. Bawang merah dan bawang putih masih cukup tahan di tempat kering dan berangin, tetapi cabai dan rimpang yang sudah dipotong cepat rusak. Beli seperlunya untuk dua atau tiga kali masak.
Bentuk kering menjadi tulang punggung dapur kos: lada bubuk, ketumbar bubuk, kunyit bubuk, dan daun salam kering. Bumbu halus kemasan juga membantu, asal label penyimpanannya dibaca, karena banyak yang harus disimpan dingin setelah dibuka. Bumbu halus buatan sendiri tanpa kulkas sebaiknya habis di hari yang sama, sedangkan bumbu matang di kulkas dan freezer bisa bertahan lebih lama.
Beli Kecil, Isi Ulang Sering
Aturan yang berlaku di kedua dapur sama: beli rempah kering dalam kemasan kecil, tulis tanggal buka di wadahnya, dan isi ulang ketika habis. Rempah yang dibeli sekaligus banyak jarang lebih hemat, karena sebagian besar akan kehilangan aroma sebelum terpakai. Rempah yang sudah habis aromanya bisa dikenali dengan dicium dan dilihat warnanya.
Sebelum belanja, lihat dulu tiga atau empat masakan yang paling sering dibuat minggu itu, lalu tulis bumbu yang dibutuhkan semuanya. Bumbu yang muncul di lebih dari satu masakan layak disimpan; yang hanya muncul sekali cukup dibeli secukupnya, atau diganti bumbu jadi dalam kemasan kecil.
Rujukan
Sumber untuk keterangan daun salam dan kemiri di artikel ini.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Bawang MerahAllium cepa var. aggregatumTajam saat mentah, manis pekat setelah ditumis lama
- Bawang PutihAllium sativumTajam menyengat mentah, manis gurih setelah matang
- Daun SalamSyzygium polyanthumLembut, sedikit sepat
- KetumbarCoriandrum sativumHangat manis, sedikit jeruk
- KunyitCurcuma longaPahit hangat dengan sisa getir di lidah
- Lada HitamPiper nigrumPedas menggigit, sedikit kayu
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
