Nama Latin Rempah: Kenapa Berganti dan Cara Membacanya
Nama latin rempah ditulis menurut tata nama binomial: nama marga lalu penunjuk jenis, dicetak miring, kadang diikuti singkatan nama orang yang menamainya. Nama itu bisa berubah tanpa salah ketik, yaitu ketika ahli botani menemukan bahwa sebuah jenis lebih tepat ditempatkan di marga lain. Membaca nama latin dengan benar menolong memastikan dua sumber sedang membicarakan tumbuhan yang sama.
Aturannya Ada, dan Diperbarui Berkala
Penamaan tumbuhan diatur satu kode internasional. Teks lengkap International Code of Nomenclature edisi Madrid[1] menyebut dirinya kumpulan aturan dan rekomendasi untuk nama ilmiah alga, jamur, dan tumbuhan. Kode yang disahkan di Madrid pada Juli 2024 dan terbit 2025 itu menggantikan Kode Shenzhen tahun 2018.
Kode itu tidak memutuskan jenis mana masuk marga mana. Keputusan itu datang dari penelitian kekerabatan, dan kode hanya mengatur nama yang sah dipakai sesudahnya. Titik mulainya juga ditetapkan: untuk tumbuhan berbiji, nama marga dan jenis dihitung sejak 1 Mei 1753, tanggal terbit Species plantarum karya Linnaeus.
Tata Nama Binomial: Cara Membaca Nama Latin
Nama jenis terdiri dari dua kata. Pasal 23.1 Kode Madrid menyebutnya kombinasi biner, yaitu nama marga diikuti satu penunjuk jenis. Kunyit, misalnya, ditulis Curcuma longa: Curcuma adalah marganya, longa penunjuk jenisnya.
Huruf kapital, huruf kecil, dan huruf miring
Nama marga selalu diawali huruf kapital, dan ini aturan yang mengikat (Pasal 20.1). Penunjuk jenis diawali huruf kecil, dan yang ini berbentuk anjuran (Rekomendasi 60G.1). Huruf miring malah tidak diwajibkan: pengantar Kode Madrid menyebut cara cetak urusan gaya penerbitan, walau kode itu sendiri memiringkan semua nama ilmiah dan banyak jurnal botani mengikutinya. Untuk tugas sekolah, huruf miring tetap cara yang aman.
Nama orang di belakang nama latin
Nama latin sering diikuti singkatan nama orang, misalnya L. untuk Linnaeus. Menurut Pasal 46.1, pencantumannya dianjurkan, tidak diwajibkan, dan di contoh-contoh Kode Madrid nama orang itu dicetak tegak. Singkatannya diseragamkan mengikuti daftar Brummitt dan Powell yang diperbarui lewat International Plant Names Index.
Nama orang di dalam kurung punya arti khusus. Menurut Pasal 49.1, kurung menandai orang yang pertama kali menamai jenis itu, sedangkan nama sesudah kurung adalah orang yang memindahkannya ke marga baru atau mengubah tingkatannya. Tabel ini membedah nama kayu secang yang dipakai situs ini.
| Bagian | Pada Biancaea sappan (L.) Todaro | Artinya |
|---|---|---|
| Marga | Biancaea | huruf kapital di awal, miring |
| Penunjuk jenis | sappan | huruf kecil, miring, tidak bisa berdiri sendiri |
| Nama dalam kurung | (L.) | Linnaeus, yang menamai jenis ini pada 1753 |
| Nama sesudah kurung | Todaro | yang memindahkannya ke marga Biancaea pada 1876 |
Singkatan marga dan tingkat di bawah jenis
Marga yang sudah ditulis lengkap sekali boleh disingkat huruf pertamanya pada sebutan berikutnya. Kode Madrid sendiri menulis begitu, misalnya M. orbicularis sesudah Medicago disebut. Pala dan Pala Papua di situs ini bisa ditulis Myristica fragrans dan M. argentea; keduanya satu marga, dan penunjuk jenisnya yang membedakan.
Singkatan var. atau subsp. di belakang nama menunjukkan varietas atau anak jenis, dan itu penting untuk rempah yang dijual dalam beberapa bentuk. Entri Jahe Merah memakai Zingiber officinale var. rubrum. Singkatan var. dicetak tegak. Aturan penulisannya di situs ini, termasuk kapan huruf kapital dipakai, tercatat di panduan penulisan.
Contoh Perubahan Nama di Situs Ini
Kayu secang adalah contoh yang jelas. Halaman PROSEA untuk Biancaea sappan[2] mengarahkan pembaca ke catatan lama berjudul Caesalpinia sappan L., terbit di Species plantarum tahun 1753, dan mencantumkan Biancaea sappan (L.) Todaro (1876) sebagai sinonimnya. Nama Biancaea ternyata sudah ada sejak 1876; PROSEA hanya memilih nama lama sebagai judul. Entri Kayu Secang di situs ini memakai nama yang baru.
Epazote mengalami hal serupa. Halaman PROSEA untuk Dysphania ambrosioides[3] juga mengarah ke catatan lama berjudul Chenopodium ambrosioides L., dan nama lama itu yang masih banyak dipakai di penelitian keracunan minyaknya. Epazote di situs ini memakai nama Dysphania. Penunjuk jenisnya, ambrosioides, ikut pindah tanpa berubah, dan itu kunci untuk mengenali dua nama yang sebenarnya satu tumbuhan.
Kenapa Nama Lama Tetap Harus Dikenali
Penelitian lama, buku pelajaran, dan label kemasan jarang ikut berganti. Kalau hanya mengenal nama baru, sebagian besar sumber tentang bahan yang sama akan terlewat. Kalau hanya mengenal nama lama, bisa saja mengira dua nama itu dua tumbuhan berbeda.
Kasus kemiri menunjukkan bahayanya. Catatan PROSEA untuk Reutealis trisperma[4] menulis nama lengkapnya Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw, terbit 1967, dan mendaftar Aleurites trisperma Blanco (1837) sebagai sinonimnya. Nama lama itu menaruhnya satu marga dengan Kemiri dapur, Aleurites moluccanus. Kemiripan nama itu ikut membuat keduanya tertukar, padahal Kemiri Sunan beracun dan kemiri dapur tidak.
Tata Nama di Pelajaran IPA SMP
Nama latin masuk pelajaran lewat klasifikasi makhluk hidup. Capaian Pembelajaran dalam Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025[5] meminta murid Fase D, umumnya kelas VII sampai IX SMP, menelaah hasil identifikasi makhluk hidup sesuai karakteristiknya. Di Fase E, umumnya kelas X, murid menerapkan prinsip klasifikasi. Keputusan yang mengubah Nomor 032/H/KR/2024 itu tidak merinci cara menulis nama; rinciannya datang dari Kode tadi.
Rak bumbu memberi bahan latihan yang mudah. Ambil lima rempah dapur, cari nama latinnya di entri atau label, lalu tulis ulang dengan aturan di atas: marga berhuruf kapital, penunjuk jenis berhuruf kecil, keduanya miring, dan nama orang di belakangnya tegak. Sesudah itu kelompokkan menurut marga. Kunyit dan temulawak akan jatuh ke Curcuma, dan dari situ pembahasan bisa naik ke tingkat takson dari suku sampai kingdom. Nama yang sama dipakai pada label herbarium buatan murid, di samping nama daerahnya.
Memakainya Saat Belanja dan Membaca
Saat membandingkan dua sumber, cocokkan marganya lebih dulu. Kalau marganya berbeda tetapi penunjuk jenisnya sama, periksa apakah salah satunya nama lama. Saat membeli bahan impor, nama latin di label lebih bisa diandalkan daripada nama dagangnya.
Kekeliruan nama dagang yang sering terjadi antara lain kencur dan lengkuas yang disebut galangal, dan contoh lain datang dari tiga tumbuhan yang sama-sama disebut jinten. Bahan yang mirip di pasar tetap bisa dibedakan, misalnya kunyit dan temulawak yang warnanya serupa.
Rujukan
Sumber untuk aturan penamaan, contoh perubahan nama, dan capaian pembelajaran di artikel ini.
- ↑ International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (Madrid Code). International Association for Plant Taxonomy, 2025
- ↑ Caesalpinia sappan (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Chenopodium ambrosioides (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Reutealis trisperma (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- EpazoteDysphania ambrosioidesGetir tajam dengan sisa pahit
- Jahe MerahZingiber officinale var. rubrumPedas menyengat dengan sisa panas yang lama
- Kayu SecangBiancaea sappanSepat ringan dengan manis kayu
- KemiriAleurites moluccanusGurih berlemak, netral
- Kemiri SunanReutealis trispermaTidak boleh dicicipi
- PalaMyristica fragransManis hangat dengan sisa pahit halus
- Pala PapuaMyristica argenteaHangat dengan sisa pahit halus, lebih tipis daripada pala Banda
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
