Kunyit dan Nyeri Sendi: Apa Kata Penelitian
Ekstrak kunyit dan kurkumin sudah diuji pada manusia untuk nyeri sendi, terutama osteoartritis lutut, dan hasil gabungannya menunjukkan nyeri yang berkurang dibanding plasebo. Kepastian buktinya masih rendah sampai sedang. Hampir semua uji memakai ekstrak yang diminum, dengan dosis puluhan sampai dua ribu miligram, dan bentuknya jauh berbeda dari kunyit yang masuk ke masakan. Jarak serupa ada pada kapsul jahe untuk nyeri haid: yang diuji adalah kapsul, sedangkan wedang jahe belum pernah diuji dengan cara yang sama. Jarak dosis serupa ada pada uji kurkumin untuk dispepsia fungsional, yang takarannya juga jauh dari takaran bumbu.
Uji yang Sudah Dilakukan
Hampir semua penelitian pada manusia membahas osteoartritis, radang sendi karena rawan sendi yang aus, dan paling sering di lutut. Meta-analisis tahun 2021 di Bioscience Reports[1] menggabungkan 15 uji acak dengan total 1.621 peserta dari Australia, Belgia, Iran, India, Thailand, Jepang, Armenia, dan Indonesia. Setiap uji melibatkan 40 sampai 400 peserta, dan sebagian besar pesertanya perempuan.
Dibanding plasebo, kelompok yang minum ekstrak Kunyit atau kurkumin melaporkan nyeri yang lebih rendah pada skala VAS, garis nyeri dari 0 sampai 100, dan pada kuesioner WOMAC, yang menanyakan nyeri, kaku, dan kesulitan bergerak. Penulisnya menilai mutu bukti untuk nyeri WOMAC tinggi dan untuk VAS sedang. Hasilnya belum konsisten sebelum minggu ke-12: nyeri VAS berbeda pada minggu keempat tetapi tidak pada minggu keenam. Sesudah 12 minggu, nyeri, kaku, dan fungsi sendi sama-sama membaik. Uji-uji itu mengukur keluhan, bukan apakah kerusakan rawan sendinya ikut berhenti.
Dosisnya Bukan Takaran Dapur
Dosis di uji-uji tersebut sangat beragam. Tabel meta-analisis tadi mencatat 40 miligram kurkuminoid di satu uji Iran, 90 miligram di uji Indonesia, sampai 2.000 miligram ekstrak di uji Thailand. Uji terbesar, juga dari Thailand, melibatkan 331 orang dan membandingkan 1.500 miligram ekstrak dengan ibuprofen 1.200 miligram.
Angka itu tidak bisa dipindahkan ke dapur. Meta-analisis jaringan tahun 2025 di BMC Complementary Medicine and Therapies[2] menyebut rimpang kunyit hanya mengandung 2 sampai 5 persen kurkuminoid. Artinya satu gram bubuk kunyit berisi sekitar 20 sampai 50 miligram, dan kurkumin yang diminum juga sulit diserap tubuh. Karena itu banyak produk dicampur piperin dari Lada Hitam atau dibuat dalam bentuk nano dan emulsi. Bedanya kurkumin dengan dua kurkuminoid lain menjelaskan kenapa label suplemen jarang bisa dibandingkan satu sama lain.
Dibanding Obat Antinyeri
Meta-analisis 2025 itu memasukkan 17 uji acak dan membandingkan beberapa bentuk sediaan. Semua sediaan kunyit menurunkan nyeri WOMAC dibanding plasebo. Sediaan yang dibuat supaya lebih mudah diserap menurunkan nyeri sekitar 30 persen, batas yang dianggap terasa berarti oleh pasien. Penulisnya tetap menilai kepastian buktinya rendah, dan sebagian keunggulan bisa jadi hanya karena peserta di uji tertentu memulai dengan nyeri yang lebih berat.
Perbandingan dengan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen dan diklofenak juga belum pasti. Tinjauan payung tahun 2026 di Frontiers in Medicine[3] merangkum sepuluh tinjauan sistematis dan menemukan sinyal efek yang sebanding dengan OAINS. Hanya tiga dari sepuluh tinjauan itu yang dinilai bermutu tinggi, dan belum ada uji yang membandingkan satu sediaan kurkumin dengan sediaan lain secara langsung. Hasil seperti ini perlu dibaca menurut jenis penelitian dan jumlah pesertanya, bukan dari kesimpulan satu kalimat.
Batas Aman dan Kapan ke Dokter
Kunyit sebagai bumbu umumnya aman. Suplemennya berbeda. Lembar fakta kunyit dari NCCIH[4] mencatat kerusakan hati pada sebagian orang yang minum sediaan kurkumin yang dibuat mudah diserap, dan meminta pemakaian dihentikan bila muncul lelah, mual, nafsu makan hilang, urine gelap, atau kulit dan mata menguning. NCCIH juga menyebut suplemen kunyit mungkin tidak aman saat hamil, dan bisa menimbulkan mual, sakit perut, diare, atau sembelit. Keluhan lain yang tercatat dirangkum dalam efek samping kunyit dosis tinggi.
NCCIH meminta siapa pun yang rutin minum obat membicarakan suplemen herbal dengan tenaga kesehatan lebih dulu, karena sebagian herba dan obat saling memengaruhi. Sendi yang tiba-tiba bengkak, merah, dan panas, nyeri yang disertai demam, atau nyeri yang membuat tidak bisa berjalan perlu diperiksa dokter, bukan ditangani dengan kapsul.
Temulawak, kerabat kunyit dari marga yang sama, tidak termasuk dalam uji-uji di atas. Semua uji itu memakai Curcuma longa, jadi hasilnya tidak bisa dipindahkan begitu saja ke temulawak.
Rujukan
Sumber untuk hasil uji, dosis, dan keamanan suplemen kunyit.
- ↑ The efficacy and safety of Curcuma longa extract and curcumin supplements on osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. Bioscience Reports, 2021
- ↑ Effect of turmeric products on knee osteoarthritis: a systematic review and network meta-analysis. BMC Complementary Medicine and Therapies, 2025
- ↑ Efficacy and safety of different curcumin formulations in osteoarthritis: an umbrella review of systematic reviews. Frontiers in Medicine, 2026
- ↑ Turmeric: Usefulness and Safety. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), 2025
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
