Jahe dan Nyeri Haid: Yang Sudah Diteliti
Kapsul jahe sudah diuji pada perempuan dengan nyeri haid primer, yaitu nyeri haid tanpa penyakit panggul di baliknya, dan hasil gabungannya menunjukkan nyeri yang lebih ringan dibanding plasebo. Mutu buktinya rendah, karena ujinya kecil dan banyak yang kurang rapi. Uji-uji yang dirangkum memakai kapsul dengan dosis tertentu, bukan wedang jahe, jadi hasilnya tidak bisa langsung dipindahkan ke gelas di dapur. Pola serupa terlihat pada ekstrak kunyit untuk nyeri lutut: kepastian buktinya rendah dan dosisnya jauh dari takaran dapur. Ekstrak jahe sendiri juga sudah diuji untuk nyeri lutut pada osteoartritis, dengan penurunan nyeri yang hanya sedikit di atas plasebo dan keluhan perut yang lebih sering.
Apa yang Diuji
Sebagian besar uji suplemen untuk nyeri haid, termasuk jahe, dilakukan di Iran pada mahasiswi berusia belasan akhir sampai awal dua puluhan, menurut tinjauan Cochrane yang dibahas di bawah. Meta-analisis jahe untuk nyeri haid primer di jurnal Cureus[1] merangkum delapan uji acak terbitan 2008 sampai 2020. Setiap kelompok jahe berisi 35 sampai 78 peserta. Jahe diberikan dalam kapsul 200 sampai 500 miligram, dua sampai empat kali sehari, selama 2 sampai 5 hari.
Sebagian besar kapsul itu tidak dijelaskan asal dan isinya. Tabel meta-analisis tersebut berkali-kali menulis “asal dan kandungan tidak diketahui”. Karena itu sulit mengatakan berapa banyak senyawa jahe yang sebenarnya diminum peserta, dan sulit pula membandingkannya dengan jahe segar atau Jahe Merah yang dijual di pasar.
Hasilnya Dibanding Plasebo dan Obat Antinyeri
Tinjauan terbaru memberi arah yang sama. Meta-analisis tahun 2024 di Journal of Integrative and Complementary Medicine[2] menyaring 804 makalah dan menggabungkan 12 uji. Jahe menurunkan intensitas nyeri dan memperpendek lama nyeri dibanding plasebo. Untuk intensitas nyeri, jahe tidak berbeda dari obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan tidak berbeda dari olahraga. Di meta-analisis Cureus, OAINS pembandingnya antara lain ibuprofen dan asam mefenamat.
Penulisnya sendiri memberi dua batas. Hasil antarstudi sangat beragam, dengan nilai heterogenitas sekitar 81 persen, dan banyak uji berisiko bias. Data keamanan juga jarang dilaporkan, sehingga imbang manfaat dan risikonya belum jelas. “Tidak berbeda dari OAINS” dalam uji kecil tidak sama dengan “sama kuat dengan OAINS”; uji yang kecil memang sering gagal menemukan perbedaan yang sebenarnya ada.
Penilaian Cochrane
Tinjauan Cochrane tentang suplemen makanan untuk nyeri haid[3] menilai lebih ketat. Tinjauan tahun 2016 itu memasukkan 27 uji acak dengan 3.101 perempuan dan 12 jenis herba, termasuk Kayu Manis Ceylon, Adas, dan Kelabet. Semua buktinya dinilai bermutu rendah atau sangat rendah.
Untuk jahe, tiga uji dengan 266 perempuan menunjukkan skor nyeri sekitar 1,55 poin lebih rendah pada skala 0 sampai 10 dibanding plasebo. Cochrane menyebutnya bukti efektivitas yang sangat terbatas. Hanya 4 dari 27 uji yang melaporkan efek samping pada kedua kelompok, jadi keamanannya belum bisa disimpulkan. Hasil seperti ini lebih mudah dibaca bila tahu uji kecil dan uji besar pada manusia.
Wedang Jahe di Rumah
Minuman jahe hangat tidak termasuk dalam uji-uji itu. Tidak ada angka yang bisa mengubah satu kapsul 250 miligram menjadi sekian iris jahe segar, karena kapsulnya sendiri tidak dijelaskan isinya. Sebagian senyawa aroma rempah lebih mudah larut di lemak daripada di air, sehingga jahe yang diseduh bisa berbeda dari jahe dalam kapsul atau masakan. Wedang jahe tetap boleh diminum sebagai minuman hangat, tetapi tidak bisa disebut setara dengan dosis yang diuji.
Batas Aman dan Kapan ke Dokter
Lembar fakta jahe dari NCCIH[4] menyebut suplemen jahe mungkin membantu mengurangi beratnya kram haid. Lembar itu juga mencatat efek samping jahe yang diminum: rasa tidak nyaman di perut, nyeri ulu hati, diare, serta iritasi mulut dan tenggorokan. NCCIH meminta siapa pun yang rutin minum obat berbicara dengan tenaga kesehatan sebelum memakai jahe atau produk herbal lain. NCCIH menilai suplemen jahe saat hamil mungkin aman tetapi tetap perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan, dan pemakaiannya untuk keluhan mual saat hamil diteliti terpisah. Keamanannya saat menyusui belum banyak diketahui.
Nyeri haid yang baru muncul di usia dewasa, makin berat dari bulan ke bulan, muncul di luar masa haid, atau tidak mereda dengan obat antinyeri biasa perlu diperiksa dokter. Nyeri seperti itu bisa berasal dari penyakit panggul, misalnya endometriosis, dan uji-uji jahe di atas tidak mencakup keadaan itu.
Rujukan
Sumber untuk hasil uji jahe, penilaian mutu bukti, dan keamanan suplemen jahe.
- ↑ Efficacy of Ginger in the Treatment of Primary Dysmenorrhea: A Systematic Review and Meta-analysis. Cureus, 2021
- ↑ Ginger for Pain Management in Primary Dysmenorrhea: A Systematic Review and Meta-Analysis. Journal of Integrative and Complementary Medicine, 2024
- ↑ Dietary supplements for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2016
- ↑ Ginger: Usefulness and Safety. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), 2025
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- AdasFoeniculum vulgareManis dengan sisa segar
- JaheZingiber officinalePedas hangat, sedikit manis di ujung
- Jahe MerahZingiber officinale var. rubrumPedas menyengat dengan sisa panas yang lama
- Kayu Manis CeylonCinnamomum verumManis lembut tanpa gigitan
- KelabetTrigonella foenum-graecumPahit halus dengan sisa manis seperti karamel
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
