Jahe dan Mual: Apa yang Sudah Diteliti
Jahe paling banyak diteliti untuk mual saat hamil, dan di situ hasilnya paling meyakinkan walau mutu penelitiannya rendah. Untuk mual karena kemoterapi dan sesudah operasi hasilnya belum jelas, dan untuk mabuk perjalanan sebagian besar penelitian tidak menemukan manfaat. Sebagian besar uji itu memakai kapsul bubuk jahe atau olahan jahe yang ditimbang, bukan wedang atau irisan jahe di masakan, jadi hasilnya tidak bisa dipindahkan begitu saja ke dapur. Untuk mabuk perjalanan, uji jahe di kapal dan kursi putar memberi hasil yang bercampur.
Mual saat Hamil: Bukti Paling Banyak
Tinjauan sistematis dan meta-analisis jahe untuk mual kehamilan di Nutrition Journal[1] tahun 2014 menggabungkan 12 uji acak terkendali dengan 1.278 ibu hamil. Dibanding plasebo, kelompok jahe melaporkan rasa mual yang lebih ringan. Jumlah muntahnya tidak berkurang secara bermakna, walau ada kecenderungan ke arah perbaikan. Para penulis menekankan bahwa jumlah penelitiannya terbatas, cara melaporkan hasilnya beragam, dan mutu buktinya rendah.
Bentuk jahe dalam uji-uji itu jauh dari dapur. Delapan dari 12 penelitian memakai kapsul bubuk jahe 1.000 sampai 1.950 miligram per hari. Satu penelitian memakai biskuit jahe dengan total 2.500 miligram per hari, dan yang lain memakai sirup, ekstrak, atau esens jahe. Analisis kelompok dalam tinjauan itu cenderung mendukung dosis harian di bawah 1.500 miligram untuk mual.
Gambaran yang lebih baru datang dari tinjauan payung tentang jahe selama kehamilan di jurnal Advances in Nutrition[2] tahun 2024. Tinjauan ini memeriksa tujuh meta-analisis yang mencakup 22 penelitian. Sebagian besar meta-analisis itu mendapati jahe lebih baik daripada plasebo untuk mual, atau setara dengan pengobatan biasa, tanpa bukti efek samping yang bermakna. Mutu meta-analisisnya sendiri dinilai rendah sampai sangat rendah.
Kemoterapi, Operasi, dan Mabuk Perjalanan
Untuk mual jenis lain, bukti yang ada lebih lemah. Menurut lembar informasi jahe dari NCCIH[3], lembaga pemerintah Amerika Serikat untuk pengobatan komplementer, belum pasti apakah jahe membantu sebagai tambahan pengobatan baku untuk mual akibat kemoterapi, dan belum pasti pula untuk mual sesudah operasi. Lembar yang sama menyebut sebagian besar penelitian jahe untuk mabuk perjalanan tidak menemukan manfaat.
Artinya, obat antimual dari dokter tetap menjadi pegangan untuk pasien kemoterapi. Jahe tidak menggantikannya, dan menambahkan suplemen jahe perlu dibicarakan dulu dengan dokter yang merawat. Jenis penelitian seperti ini perlu dibaca sesuai tingkat bukti laboratorium, hewan, dan manusia.
Efek Samping dan Interaksi Obat
NCCIH mencatat bahwa Jahe yang diminum bisa menimbulkan rasa tidak nyaman di perut, nyeri ulu hati, diare, serta iritasi mulut dan tenggorokan. Tinjauan tahun 2014 tadi mengingatkan bahwa jahe pekat dalam dosis tinggi, dalam bentuk bubuk atau tingtur, bisa meningkatkan risiko perdarahan karena menekan penggumpalan keping darah, dan bisa menambah asam lambung. Risikonya lebih besar bila diminum bersama obat atau herba lain yang efeknya sama.
Siapa pun yang minum obat pengencer darah perlu bertanya ke dokter sebelum memakai suplemen jahe. Sebagian rempah perlu diwaspadai bersama obat itu, dan jahe pada takaran suplemen dikaitkan dengan keluhan perut dan efek samping lain.
Kapan Mual Hamil Perlu ke Dokter
Mual hamil yang berat bisa menjadi hiperemesis gravidarum, keadaan yang jauh lebih serius daripada mual pagi biasa. Ensiklopedia medis MedlinePlus tentang hiperemesis gravidarum[4] menyarankan ibu hamil menghubungi tenaga kesehatan bila mual dan muntahnya berat, atau bila muncul salah satu tanda ini:
- tanda kekurangan cairan, seperti urine gelap, kulit kering, lemas, atau pusing
- tidak bisa menahan cairan apa pun lebih dari 12 jam
- muntah berdarah
- nyeri perut
- berat badan turun lebih dari 2,3 kilogram
Dalam keadaan seperti itu, jahe tidak cukup dan tidak boleh menunda pemeriksaan. NCCIH menilai suplemen jahe selama hamil mungkin aman, tetapi tetap menyarankan berkonsultasi dulu, dan keamanannya selama menyusui belum banyak diketahui. Selama hamil, yang perlu dibicarakan dengan bidan atau dokter adalah suplemen, jamu pekat, dan rempah berisiko.
Wedang Jahe Bukan Kapsul
Wedang jahe, Jahe Merah, atau rebusan jahe dengan Serai tidak pernah ditimbang seperti kapsul dalam penelitian. Jumlah jahe dalam segelas wedang berbeda dari satu resep ke resep lain, dan tidak ada penelitian di atas yang mengukurnya. Minuman seperti ini wajar dipakai sebagai minuman hangat dalam takaran dapur, tetapi hasil uji klinis di atas tidak bisa dijadikan patokan dosisnya. Penelitian eugenol untuk sakit gigi punya batasnya, dan minyak cengkeh juga punya bahaya.
Rujukan
Sumber untuk hasil penelitian, efek samping, dan tanda bahaya mual hamil di artikel ini.
- ↑ A systematic review and meta-analysis of the effect and safety of ginger in the treatment of pregnancy-associated nausea and vomiting. Nutrition Journal, 2014
- ↑ The Use of Ginger Bioactive Compounds in Pregnancy: An Evidence Scan and Umbrella Review of Existing Meta-Analyses. Advances in Nutrition, 2024
- ↑ Ginger. National Center for Complementary and Integrative Health
- ↑ Hyperemesis gravidarum. MedlinePlus Medical Encyclopedia
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
