Lewati ke konten

Kencur dan Batuk: Yang Sudah dan Belum Diteliti

4 menit baca

Kencur adalah bahan ramuan batuk yang paling sering disebut warga dalam satu survei di Jawa Timur, tetapi pemakaian itu belum diuji pada orang yang batuk. Penelitian yang ada baru sampai tahap laboratorium dan hewan, dan yang diukur di sana adalah tanda peradangan, bukan batuknya. Jadi kencur boleh dipakai sebagai minuman hangat, dengan catatan: batuk yang disertai tanda bahaya tetap perlu diperiksa dokter.

Yang Tercatat dari Pemakaian Tradisional

Pemakaian kencur untuk batuk sudah didokumentasikan. Survei ramuan batuk dan pilek di tiga daerah Jawa Timur[1], terbit di The Scientific World Journal tahun 2025, mewawancarai 111 warga di Krian (Sidoarjo), Blimbing (Kota Malang), dan Tempurejo (Jember) pada Maret sampai Agustus 2023. Tim dari Universitas Airlangga itu mencatat 32 ramuan untuk batuk, dan kencur paling sering disebut, dengan 27 laporan pemakaian. Untuk pilek, Jahe yang paling banyak disebut.

Cara mengolahnya beragam. Ada yang menumbuk kencur segar lalu menyeduhnya dengan air mendidih dan gula, ada yang memarut dan memeras kencur lalu mencampurnya dengan madu, dan ada yang menumis kencur lalu merebusnya dengan potongan asam jawa. Beras kencur juga disebut, dan beras kencur buatan rumah memang punya takaran yang bisa diulang. Sebagian besar ramuan diminum, dan satu cangkir sekitar 200 mililiter diminum satu sampai tiga kali sehari.

Survei semacam ini mencatat apa yang dipakai orang, bukan seberapa berhasil pemakaiannya. Kedua hal itu sering tertukar ketika hasil survei dikutip ulang.

Yang Sudah Diteliti di Laboratorium dan pada Hewan

Senyawa utama kencur yang banyak diteliti adalah etil p-metoksisinamat. Tinjauan tentang tanaman obat Thailand di jurnal Drug Design, Development and Therapy[2] merangkum bahwa senyawa ini menekan zat pemicu peradangan interleukin-1 dan TNF-alfa pada model sel dan hewan; uji hewan yang dikutipnya memakai 800 mg per kilogram berat badan. Itu dosis senyawa hasil ekstraksi pada hewan, jauh dari jumlah yang masuk ke tubuh lewat segelas seduhan kencur.

Satu penelitian lain paling dekat dengan saluran napas. Uji ekstrak kencur pada tikus dengan sinusitis bakteri[3], terbit di Iranian Journal of Otorhinolaryngology tahun 2026, memberi 18 tikus ekstrak kencur 150, 300, atau 450 mg per kilogram berat badan. Kelompok 300 mg menunjukkan penanda peradangan dan stres oksidatif yang paling rendah. Uji ini tidak mengukur batuk, tidak memakai kelompok manusia, dan jumlah hewannya kecil.

Jarak antara hasil seperti ini dan manfaat pada orang sakit masih jauh. Tikus bukan manusia, ekstrak bukan seduhan, dan penanda peradangan di darah belum tentu berarti batuk mereda. Cara menimbang jarak antara uji tikus dan uji manusia berlaku penuh di sini.

Yang Belum Diteliti

Pencarian di basis data Europe PMC pada September 2026 tidak menemukan uji klinis kencur untuk batuk pada manusia. Survei Jawa Timur tadi menyebut kencur memiliki sifat antibatuk dengan merujuk tiga tinjauan, tetapi tidak menunjukkan uji pada pasien. Karena itu belum ada dasar untuk menyebut takaran kencur yang berguna bagi batuk, dan belum ada data yang membandingkannya dengan obat batuk.

Dengan bukti seperti itu, ramuan kencur untuk batuk masih bersandar pada pemakaian turun-temurun, tingkat bukti yang oleh BPOM dipakai untuk golongan jamu. Golongan yang sudah melewati uji klinik diberi nama lain, dan jenjang bukti yang dipakai BPOM menjelaskan bedanya.

Memakai Kencur dengan Aman

Dalam jumlah dapur, kencur umumnya aman. Data keamanan untuk ekstrak dosis tinggi yang diminum rutin masih terbatas, jadi ibu hamil, ibu menyusui, dan orang yang rutin minum obat sebaiknya bertanya dulu kepada dokter atau apoteker sebelum memakai ekstrak atau kapsul kencur.

Pastikan juga rimpangnya benar. Kencur pendek dan berdaging putih, sedangkan Temu Kunci berakar gemuk berdaging kuning, dan kedua rimpang itu mudah tertukar. Kencur Hitam berasal dari jenis lain dengan senyawa yang berbeda, jadi hasil penelitian kencur tidak berlaku untuknya.

Kapan Batuk Perlu Diperiksa

Ensiklopedia medis MedlinePlus tentang batuk[4] menyebut batuk akut biasanya hilang dalam tiga minggu. Periksakan ke tenaga kesehatan segera kalau batuk:

  • berlangsung lebih dari 10 sampai 14 hari
  • disertai demam, dahak kental kuning kehijauan berbau, atau dahak berdarah
  • disertai berat badan turun tanpa sebab atau keringat malam
  • terjadi pada bayi di bawah 3 bulan
  • disertai bunyi siulan bernada tinggi saat menarik napas

Sesak napas, atau bengkak di wajah dan tenggorokan yang membuat sulit menelan, adalah keadaan darurat. MedlinePlus juga mengingatkan bahwa batuk bisa menjadi efek samping obat tekanan darah golongan ACE inhibitor. Jangan menghentikan obat itu sendiri; bicarakan dengan dokter.

Rujukan

Sumber untuk pemakaian tradisional, penelitian laboratorium dan hewan, serta tanda batuk yang perlu diperiksa.

  1. ↑ Exploration of the Use of Traditional Herbs to Overcome Cough and Cold in Three Provinces of East Java Province. The Scientific World Journal, 2025
  2. ↑ Immunomodulatory Activities of Thai Herbs and the Druggability of Their Bioactive Constituents: A Comprehensive Review for Potential Phytopharmaceutical Product Development. Drug Design, Development and Therapy, 2025
  3. ↑ Anti-inflammatory and Antioxidant Effects of Kaempferia galanga Extract in Acute Bacterial Rhinosinusitis: In Vivo Study on MDA, NF-κB, and CRP. Iranian Journal of Otorhinolaryngology, 2026
  4. ↑ Cough. MedlinePlus Medical Encyclopedia, National Library of Medicine, 2025

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.