Cabai Tiba di Nusantara: Jejak Kedatangannya dari Amerika
Cabai datang ke Nusantara dari Amerika, dibawa pelaut Portugis dan Spanyol pada abad ke-16. Sebelum itu, pedas di dapur Jawa berasal dari tanaman lain yang sudah lama tumbuh di sini. Sumber yang ada tidak mencatat tahun pasti cabai pertama kali ditanam di pulau mana pun, tetapi asal tanamannya dan jalur yang paling mungkin dilaluinya sudah cukup jelas. Kemiri menempuh arah sebaliknya dari cabai: pohon kemiri dibawa orang Polinesia sampai ke Marquesas dan Samoa.
Asal Cabai di Meksiko
Cabai merah yang ditanam di hampir seluruh Indonesia termasuk Capsicum annuum, jenis cabai yang dijinakkan di Meksiko. Kajian asal cabai domestik di jurnal PNAS tahun 2014[1] menggabungkan empat jenis bukti: model sebaran tumbuhan, sejarah bahasa, data genetik, dan sisa tanaman dari situs arkeologi. Hasilnya menunjuk dua kawasan, Meksiko timur laut dan Meksiko tengah bagian timur. Gabungan keempat bukti lebih condong ke kawasan kedua, tempat sisa cabai dari masa sebelum tembikar ditemukan di Lembah Tehuacán. Di dekat lembah itu pula berpusat Proto-Otomanguean, bahasa purba tertua yang diketahui punya kata untuk cabai.
Penelitian tahun 2024 di jurnal yang sama menggeser gambaran itu sedikit ke selatan. Tim penelitinya mengukur lebih dari seratus biji cabai arkeologis dan memodelkan iklim sejak 20.000 tahun lalu. Menurut model itu, sampai sekitar 6.000 tahun lalu, iklim yang cocok untuk ketiga jenis Capsicum yang diteliti hanya ada di separuh selatan Meksiko.
Jalur ke Asia Lewat Kapal Portugis
Dari Amerika, cabai menyebar lewat kapal Eropa. Analisis genetik 10.038 koleksi cabai di bank gen dunia[2], yang terbit di PNAS tahun 2021, membandingkan cabai dari sepuluh kawasan. Cabai Asia Timur, Selatan, dan Tenggara paling mirip dengan cabai Amerika Selatan dan Afrika. Para peneliti menjelaskan kemiripan itu dengan jalur dagang Portugis, yang sejak awal abad ke-16 menghubungkan koloni di Brasil, Afrika, India, dan Tiongkok. Jalur perak Spanyol dari Peru dan Meksiko ke Tiongkok pada abad ke-17 disebut sebagai jalur kedua.
Hubungan langsung Asia dan Amerika sebelum Columbus pernah diajukan, tetapi data bank gen itu tidak memerlukannya untuk menjelaskan ragam cabai di Asia. Tim yang sama juga mencatat Asia Timur, Selatan, dan Tenggara sebagai salah satu pusat keragaman cabai, dengan banyak jenis yang tidak ditemukan di kawasan lain. Artinya, begitu tiba, cabai ditanam, dipilih, dan dikembangkan sendiri oleh petani di Asia.
Ada satu catatan yang cocok dengan sejarah rempah Nusantara. Menurut penelitian itu, Portugis tidak terlalu berminat membawa cabai pedas ke Eropa, karena cabai bisa menjadi pengganti murah bagi lada hitam yang mereka datangkan dari Timur dengan harga tinggi. Lada adalah salah satu barang yang menarik kapal Eropa ke pelabuhan rempah Asia Tenggara sejak awal.
Pedas Sebelum Cabai
Sambal sudah ada sebelum cabai datang. Tinjauan keragaman sambal di Journal of Ethnic Foods[3] menyebut sambal di Jawa sebelumnya dibuat dari Cabai Jawa (Piper retrofractum), Lada Hitam, dan Jahe. Keterangan ini dikutip tinjauan tersebut dari tulisan populer, jadi bentuk sambal masa itu belum bisa digambarkan lebih rinci.
Buah cabai jawa panjang, kering, dan pedas, tetapi tanamannya kerabat lada. Menurut tinjauan yang sama, kata “cabai” dalam bahasa Indonesia sekarang dipakai sebagai sebutan umum untuk buah Capsicum yang pedas, sementara cabai jawa tetap memakai nama itu meski bukan Capsicum.
Sesudah Cabai Menetap
Tinjauan sambal yang sama mencatat 110 jenis sambal dari buku resep di seluruh Indonesia, dan 70,9 persen di antaranya memakai Cabai Merah Besar sebagai bahan utama. Sebanyak 56,4 persen memakai Cabai Rawit. Selain C. annuum, jenis C. frutescens dan C. chinense juga disebut cabai di Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatra menyumbang 64,5 persen jenis sambal yang tercatat, sejalan dengan luasnya kebun cabai di kedua pulau itu.
Cabai bukan satu-satunya tanaman Amerika yang kini terasa asli di sini. Anggrek penghasil vanili dari Meksiko juga menempuh perjalanan panjang sebelum ditanam di Jawa. Cara memakainya pun berkembang sendiri. Dapur Meksiko punya ancho dan guajillo yang dikeringkan, sedangkan lebih dari 80 persen sambal dalam tinjauan tadi dibuat dengan menghaluskan bahan lalu memasaknya.
Rujukan
Sumber untuk asal cabai, jalur penyebarannya, dan catatan tentang sambal.
- ↑ Multiple lines of evidence for the origin of domesticated chili pepper, Capsicum annuum, in Mexico. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2014
- ↑ Global range expansion history of pepper (Capsicum spp.) revealed by over 10,000 genebank accessions. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2021
- ↑ Diversity of sambals, traditional Indonesian chili pastes. Journal of Ethnic Foods, 2022
- Interdisciplinary insights into the cultural and chronological context of chili pepper (Capsicum annuum var. annuum L.) domestication in Mexico. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2024
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
- Cabai JawaPiper retrofractumPedas hangat menyebar, tanpa sengatan tajam cabai
- Cabai Merah BesarCapsicum annuumManis buah dengan pedas rendah
- Cabai RawitCapsicum frutescensPedas menyengat dengan sisa buah tipis
- JaheZingiber officinalePedas hangat, sedikit manis di ujung
- Lada HitamPiper nigrumPedas menggigit, sedikit kayu
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
