Pantai Malabar dan Lada: Pelabuhan Kalikut sebelum Portugis
Sebelum kapal Portugis tiba pada 1498, Kalikut di Pantai Malabar sudah menjadi pelabuhan lada yang ramai. Lada tumbuh liar di pegunungan di belakang pantai itu, pedagang Arab datang sejak abad ke-7, dan armada Tiongkok singgah berkali-kali pada awal abad ke-15. Vasco da Gama membuka jalur laut langsung dari Eropa ke Malabar, tetapi lada dari pelabuhan itu sudah lama mengalir ke barat dan timur lewat pedagang lain. Di Nusantara, lada dari ladang Dayak kelak menjadi dagangan utama Kesultanan Banjar pada abad ke-17 dan ke-18.
Lada Berasal dari Ghat Barat
Lada Hitam adalah tanaman asli Kerala. Catatan PROSEA tentang Piper nigrum[1] menyebut lada berasal dari Ghat Barat, jajaran pegunungan di negara bagian Kerala, India, dan masih tumbuh liar di sana. Pantai Malabar adalah pesisir barat daya India yang berhadapan dengan pegunungan itu, jadi pelabuhannya dekat dengan kebun dan hutan lada.
Catatan yang sama menyebut lada kering sudah dikenal sebagai bumbu di Roma kuno, dan Eropa menjadi pengimpor penting paling tidak sejak abad ke-12. Lada hitam dan Lada Putih adalah dua komoditas utama dari buah yang sama, dibedakan oleh cara pengolahan. Permintaan dari barat itu yang membuat pelabuhan Malabar hidup berabad-abad sebelum kapal Eropa datang sendiri.
Kalikut, Kota Rempah Para Samoothiri
Kalikut kini bernama resmi Kozhikode. Halaman sejarah Pemerintah Distrik Kozhikode[2] menyebut kota ini dijuluki Kota Rempah pada masa klasik dan abad pertengahan karena menjadi titik dagang utama rempah dari timur. Kota ini ibu kota kerajaan yang diperintah para Samoothiri, yang di Eropa dikenal sebagai Zamorin.
Halaman itu menyebut pedagang Arab sudah berdagang di kawasan ini sejak abad ke-7, dan kota ini memperdagangkan lada hitam dan kapulaga dengan pedagang Yahudi, Arab, Fenisia, dan Tiongkok. Pedagang Arab menyebut kota ini Qaliqut, orang Tamil menyebutnya Kallikkottai, dan orang Tiongkok menyebutnya Kalifo. Menurut halaman yang sama, pedagang Arab dan Tiongkok lebih memilih Kalikut daripada pelabuhan lain karena kota itu memberi kebebasan dan keamanan penuh.
Kapulaga yang diperdagangkan di pantai ini kemungkinan besar Kapulaga Hijau, yang juga tumbuh di Ghat Barat. Halaman distrik tidak menyebut jenisnya, tetapi sentra kapulaga hijau di Kerala berada di pegunungan yang sama dengan lada.
Armada Tiongkok Singgah di Kalikut
Pelayaran besar Laksamana Zheng He pada awal abad ke-15 menjadikan Kalikut salah satu persinggahan tetap. Kajian tentang Ma Huan di jurnal Al-Shajarah[3], juru bahasa armada itu, mencatat pelayaran keempat pada 1413 singgah di Guli, nama Tionghoa untuk Kalikut. Pelayaran keenam pada 1421 singgah di Quilon, Kochi, dan Kalikut. Pelayaran ketujuh pada 1431 kembali ke Kalikut, dan dari sana sedikitnya satu kapal berawak Muslim dikirim menunaikan haji.
Kajian itu juga mencatat armada kembali tiba di Kalikut pada 11 Maret 1433 dalam perjalanan pulang. Catatan kakinya menyebut Zheng He meninggal di Kalikut pada pelayaran terakhir itu. Pada pelayaran ketujuh itu, menurut kajian yang sama, sang laksamana membawa 27.550 orang dan 100 kapal. Artinya, sekitar enam puluh lima tahun sebelum Portugis tiba, pelabuhan ini sudah terbiasa melayani armada sebesar itu. Susunan jalur dagang yang lebih luas, termasuk bagian Nusantaranya, ada di peta besar jalur rempah sebelum Eropa.
Kedatangan Portugis pada 1498
Halaman pemerintah distrik mencatat Vasco da Gama membuang sauh di Kozhikode pada 20 Mei 1498, tepatnya di Kappad, sekitar 18 kilometer di utara kota, dan diterima langsung oleh Samoothiri. Pos dagang dan benteng Portugis hanya berdiri sebentar di sana, dari 1511 sampai 1525. Inggris datang pada 1615, Prancis pada 1698, dan Belanda pada 1752.
Portugis ingin memotong rantai pedagang perantara menuju Eropa, tetapi di Kalikut mereka berhadapan dengan penguasa dan pedagang yang sudah lama menguasai perdagangan itu. Lada juga punya sejarah panjang di Nusantara. PROSEA mencatat lada sudah sampai ke Asia Tenggara sekitar 100 SM, dibawa pendatang dari India. Catatan yang sama menyebut sentra lada di Lampung dan Bangka, bersama Kalimantan Barat dan Timur, menyumbang 95 persen hasil lada Indonesia pada masa catatan itu disusun.
Rujukan
Sumber untuk asal tanaman lada, sejarah Kalikut, dan persinggahan armada Tiongkok.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
