Bawang Putih dan Kolesterol: Hasil Penelitian pada Manusia
Suplemen Bawang Putih diteliti cukup banyak untuk kolesterol, dan hasil gabungan uji klinis menunjukkan penurunan kecil pada orang yang kolesterolnya tinggi. Tetapi satu uji terkontrol yang dirancang ketat, dengan bawang putih mentah dan dua jenis suplemen, tidak menemukan perubahan kolesterol LDL sama sekali. Kesimpulan yang jujur: pengaruhnya kecil, tidak selalu muncul, dan tidak bisa menggantikan obat penurun kolesterol yang diresepkan. Bawang putih mentah juga punya risiko di luar dapur: bawang putih yang ditempel ke kulit bisa menimbulkan lepuh.
Yang Dikatakan Tinjauan Gabungan
Meta-analisis 21 uji bawang putih pada penderita dislipidemia[1] di Journal of Health, Population and Nutrition tahun 2024 hanya memasukkan peserta dengan kadar lemak darah bermasalah yang tidak sedang minum obat penurun lemak. Dislipidemia adalah istilah untuk kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal. Hasil gabungannya: kolesterol total turun rata-rata 0,64 mmol/L, sekitar 25 mg/dL, dan kolesterol LDL turun 0,44 mmol/L, sekitar 17 mg/dL. Trigliserida turun sedikit, sedangkan kolesterol HDL praktis tidak berubah.
Tinjauan itu menilai kepastian buktinya sedang untuk kolesterol total, LDL, dan trigliserida, dan rendah untuk HDL. Uji-ujinya kecil sampai sedang, dengan 23 sampai 258 peserta, dan berlangsung 8 sampai 36 minggu. Bentuk bawang putihnya bermacam-macam: bubuk, tablet, minyak, ekstrak yang dituakan, dan bawang putih mentah. Enam uji bahkan tidak menjelaskan bentuk yang dipakai.
Meta-analisis bawang putih untuk gula dan lemak darah[2] di jurnal Nutrients tahun 2024 menggabungkan 29 uji dengan 1.567 peserta dari kelompok yang lebih beragam. Hasilnya searah untuk kolesterol total dan LDL, tetapi tidak menemukan pengaruh berarti pada trigliserida. Penulisnya mengakui dosis dan bentuk bawang putih di tiap uji tidak bisa dibandingkan langsung.
Uji yang Tidak Menemukan Apa-Apa
Hasil gabungan belum tentu terulang pada uji yang dirancang lebih ketat. Uji acak bawang putih mentah dan dua jenis suplemen[3], yang terbit di Archives of Internal Medicine tahun 2007, membagi 192 orang dewasa dengan LDL agak tinggi ke empat kelompok: bawang putih mentah, suplemen bubuk bawang putih, suplemen ekstrak yang dituakan, dan plasebo, yaitu tablet tiruan tanpa zat aktif. Dosisnya setara satu siung ukuran sedang, sekitar 4 gram, enam hari seminggu selama enam bulan.
Tidak satu pun dari ketiga bentuk bawang putih itu mengubah LDL secara nyata, baik secara statistik maupun secara klinis. HDL, trigliserida, dan perbandingan kolesterol total terhadap HDL juga tidak berubah. Uji ini penting karena bahan ujinya diperiksa kandungan kimianya sepanjang penelitian, jadi hasil nol itu tidak bisa dijelaskan dengan suplemen yang rusak.
Kenapa Hasilnya Tidak Seragam
Lembar fakta bawang putih dari NCCIH[4] merangkum keadaannya dengan hati-hati: suplemen bawang putih mungkin menurunkan kolesterol total dan LDL dalam jumlah kecil pada orang yang kolesterolnya tinggi. Kata “mungkin” dan “kecil” di kalimat itu penting.
Penyebabnya bisa dilihat dari isi uji-ujinya. Bentuk bawang putih berbeda-beda dan senyawa aktifnya tidak sama, peserta dan lamanya uji beragam, dan meta-analisis 2024 mencatat perbedaan antaruji yang tinggi. Jenis penelitian seperti ini perlu dibaca dengan membedakan bukti laboratorium dan manusia. Untuk tekanan darah, bukti suplemen bawang putih dan batasnya diuraikan terpisah, dan rempah lain yang diteliti untuk lemak darah, seperti Kayu Manis, punya hasil uji klinis kayu manis tersendiri.
Bawang Putih di Masakan dan dalam Kapsul
Uji tahun 2007 itu memakai satu siung sehari, jumlah yang masih masuk akal untuk masakan, dan hasilnya nol. Sebagian besar uji lain memakai kapsul dengan dosis tetap. Jadi menambah bawang putih di masakan boleh saja karena enak, tetapi jangan diharapkan menggantikan pengaturan makan, olahraga, atau obat.
NCCIH mencatat bawang putih dipakai dengan aman dalam penelitian sampai tujuh tahun. Efek sampingnya bau napas dan badan, sakit perut, kembung, dan mual, dan sebagian orang alergi. Suplemen bawang putih bisa menambah risiko perdarahan, jadi beri tahu dokter kalau sedang meminumnya, terutama menjelang operasi atau kalau sedang minum obat pengencer darah atau aspirin. Rempah lain yang perlu diperhatikan dalam keadaan itu, seperti Jahe dan Kunyit, masuk dalam daftar interaksi dengan pengencer darah. Suplemen dosis di atas jumlah makanan juga belum tentu aman untuk ibu hamil dan menyusui.
Kalau hasil pemeriksaan kolesterol tinggi, bicarakan dengan dokter sebelum memilih suplemen, dan jangan menghentikan obat penurun kolesterol tanpa persetujuan dokter.
Rujukan
Sumber untuk hasil uji klinis dan keterangan keamanan bawang putih di artikel ini.
- ↑ Garlic consumption can reduce the risk of dyslipidemia: a meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Health, Population and Nutrition, 2024
- ↑ Effects of Garlic on Glucose Parameters and Lipid Profile: A Systematic Review and Meta-Analysis on Randomized Controlled Trials. Nutrients, 2024
- ↑ Effect of raw garlic vs commercial garlic supplements on plasma lipid concentrations in adults with moderate hypercholesterolemia: a randomized clinical trial. Archives of Internal Medicine, 2007
- ↑ Garlic: Usefulness and Safety. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), 2025
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
