Lewati ke konten

Mengulek, Memblender, atau Memakai Chopper: Pengaruhnya pada Bumbu

4 menit baca

Ulekan, blender, dan chopper sama-sama memecah bumbu, tapi hasilnya berbeda di tiga hal: seberapa halus, seberapa banyak air yang ikut masuk, dan seberapa panas bumbu saat dihancurkan. Ulekan memberi tekstur yang bisa diatur dan tanpa air. Blender memberi pasta paling halus, tapi hampir selalu butuh cairan. Chopper hanya mencacah, jadi hasilnya lebih dekat ke irisan halus daripada ke bumbu halus.

Apa yang Terjadi saat Bumbu Dihancurkan

Aroma bumbu segar banyak yang baru terbentuk setelah selnya pecah. Contoh paling jelas adalah Bawang Putih. Menurut tinjauan tentang pengolahan sayuran keluarga bawang[1] di jurnal Frontiers in Nutrition, allisin, senyawa yang memberi bau khas bawang putih, terbentuk dari reaksi alliin dengan enzim alliinase ketika bawang putih digeprek. Makin banyak sel yang pecah, makin banyak bahan yang bereaksi.

Tinjauan yang sama mengutip penelitian yang menemukan senyawa belerang bawang putih terus bertambah antara 30 sampai 240 menit sesudah digeprek. Jadi cara menghancurkan dan waktu tunggunya sama-sama mengubah bau bumbu. Bawang putih yang dihaluskan jauh sebelum dimasak tidak berbau sama dengan yang baru digeprek, dan tinjauan itu juga mencatat bahwa merebus bawang putih selama 10 menit menghambat pembentukan senyawa tersebut.

Ulekan: Pelan, Tanpa Air, Teksturnya Bisa Dipilih

Ulekan bekerja dengan menekan dan menggerus. Bumbu hancur sedikit demi sedikit, dan penggerusan bisa dihentikan kapan saja: masih kasar untuk sambal, atau lumat untuk bumbu gulai. Tidak ada air yang perlu ditambahkan, karena cairan dari bawang dan cabai sudah cukup untuk membuat pasta.

Urutannya menentukan. Mulai dari bahan yang keras dan kering seperti Kemiri sangrai dan garam, karena butir garam membantu menggerus. Sesudah itu masukkan rimpang, lalu bawang dan cabai yang berair paling akhir. Kalau bawang masuk lebih dulu, cairannya membuat kemiri licin dan sulit hancur.

Kelemahannya ada pada bahan berserat. Lengkuas dan Serai tua hampir tidak bisa lumat di ulekan. Iris tipis melintang serat lebih dulu, atau pilih memarkan saja, karena lama memasak yang menentukan pilihannya.

Blender: Paling Halus, tapi Membawa Air

Pisau blender baru bisa berputar bebas kalau ada cairan di dasar gelas, sehingga bumbu dalam jumlah kecil hampir selalu diberi air atau minyak. Air itu yang paling sering membuat masalah. Bumbu berair harus ditumis lebih lama sampai airnya habis, dan selama air masih ada, suhu bumbu tertahan di sekitar titik didih sehingga bau langunya lambat hilang. Tanda bumbu yang sudah matang dijelaskan tersendiri.

Ganti air dengan minyak yang nanti dipakai menumis, dan hitung minyak itu sebagai bagian dari minyak tumisan. Potong bahan kecil-kecil lebih dulu supaya pisau tidak berputar di udara.

Panas dan udara juga ikut berperan. Tinjauan tentang mutu pesto daun basil[2] di jurnal Foods menyebut penggilingan, paparan oksigen, dan panas mempercepat pencokelatan, kerusakan pigmen, dan hilangnya aroma pada pasta daun. Untuk bumbu berisi daun atau rimpang segar, nyalakan blender beberapa detik, matikan, lalu ulangi, alih-alih membiarkannya berputar lama.

Chopper: Mencacah, Tidak Melumatkan

Chopper punya beberapa mata pisau yang diputar dengan tarikan tali atau motor kecil. Hasilnya cacahan yang ukurannya tidak seragam, dan hampir tidak pernah menjadi pasta. Alat ini cocok untuk bawang merah dan bawang putih yang akan ditumis sebagai cacahan, untuk sambal yang sengaja dibiarkan kasar, atau untuk mencacah cabai tanpa menyentuhnya dengan tangan.

Untuk bumbu halus seperti bumbu rendang atau gulai, chopper tidak cukup. Cacahan kasar tidak melepaskan warna dan aroma secepat pasta, jadi kuahnya tidak menyatu.

Menggiling Rempah Kering

Rempah biji seperti ketumbar dan Jinten biasanya digiling dengan penggiling kering atau blender kering. Penelitian penggilingan jinten putih[3] di Journal of Food Science and Technology membandingkan penggilingan biasa dengan penggilingan kriogenik, yaitu penggilingan pada suhu sangat dingin. Penggilingan kriogenik menghasilkan minyak atsiri 33,9 sampai 43,5 persen lebih banyak, dan panelis menilai aromanya lebih menyenangkan.

Penggiling kriogenik tidak ada di dapur rumah, tapi pelajarannya bisa dipakai: giling sebentar, dalam jumlah yang akan segera dipakai, dan jangan biarkan mesin menyala sampai wadahnya terasa hangat. Menggiling kasar dengan ulekan sesaat sebelum dipakai tetap cara paling sederhana untuk menjaga aroma rempah kering. Bumbu rujak dan asinan sama-sama memadukan asam, pedas, dan manis, dengan rujak bertumpu pada gula aren, cabai, dan terasi. Untuk rempah kering, panas gesekan saat menggiling menguapkan minyak atsirinya, dan penelitian pada lada dan jinten memberi angkanya.

Rujukan

Sumber untuk keterangan bawang putih, pasta daun, dan penggilingan rempah kering di artikel ini.

  1. ↑ Effects of different preparation and cooking processes on the bioactive molecules of Allium vegetables. Frontiers in Nutrition, 2024
  2. ↑ Sweet Basil Raw Material Functionality as a Framework for Industrial Pesto Quality: A Field-to-Fork Perspective. Foods, 2026
  3. ↑ Effect of cryogenic grinding on volatile and fatty oil constituents of cumin (Cuminum cyminum L.) genotypes. Journal of Food Science and Technology, 2016

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.