Lewati ke konten

Kenapa Kunyit Memerah dan Telang Jadi Ungu: Indikator dari Dapur

5 menit baca

Dua kejadian dapur ini punya sebab yang sama. Air rendaman Kunyit yang kena soda kue berubah merah bata, dan seduhan Bunga Telang yang diperas jeruk nipis berubah dari biru menjadi ungu lalu merah muda. Keduanya bukan tanda bahan rusak, melainkan tanda zat warnanya bereaksi terhadap keasaman. Karena itu keduanya bisa dipakai sebagai indikator asam basa alami di kelas.

Kunyit Memerah di Suasana Basa

Warna kuning kunyit berasal dari kurkumin, dan warna itu punya dua wajah. Menurut penelitian film kemasan berkurkumin di jurnal Polymers tahun 2026[1], kurkumin berwarna kuning khas di suasana asam dan netral, lalu berubah menjadi kemerahan di suasana basa.

Di dapur, suasana basa itu datang dari soda kue atau air kapur sirih. Adonan yang memakai keduanya bisa membuat warna kunyit bergeser ke jingga tua atau merah bata, dan nasi kuning yang dimasak bersama bahan basa juga kehilangan kuning cerahnya. Menambahkan sedikit perasan jeruk mengembalikan suasana asam, dan warnanya kembali kuning. Perubahan bolak-balik seperti ini ciri sebuah indikator.

Telang Biru yang Bisa Jadi Ungu dan Merah Muda

Biru bunga telang datang dari ternatin, kelompok antosianin yang tidak lazim. Sebuah penelitian ekstrak telang di jurnal Food Science and Nutrition tahun 2026[2] mencatat ternatin mampu menghasilkan warna biru pekat dan lebih tahan di suasana asam daripada antosianin biasa, dan ekstrak pada pH netral cocok dipakai sebagai pewarna biru untuk makanan.

Antosianin secara umum berubah bentuk mengikuti keasaman. Tinjauan gel pintar di jurnal Gels tahun 2026[3] menjelaskan bahwa di suasana sangat asam, di bawah pH 3, antosianin berada sebagai kation flavilium yang memberi warna merah menyala. Karena itu air telang yang diberi jeruk nipis berpindah warna di depan mata. Sifat antosianin yang lain, misalnya ketahanan pigmen telang terhadap panas, ikut menentukan apakah warnanya bertahan di masakan.

Trayek pH Kunyit, Telang, dan Kubis Merah

Trayek pH adalah rentang keasaman tempat warna sebuah indikator berubah. Untuk telang, pengukuran warna ekstrak telang di jurnal Molecules tahun 2021[4] mencatat warna magenta pada pH 0,5 sampai 3, ungu pada pH 3 sampai 4, biru terang pada pH 5 sampai 8, dan biru kehijauan pada pH 9 sampai 10. Di atas pH 8 mulai terbentuk kalkon yang kuning, dan warna kuning itu makin kuat sampai pH 13.

Tinjauan di jurnal Gels memberi angka untuk kurkumin: kuning pada pH 1 sampai 7, lalu merah tua setelah pH naik di atas 8,5, karena gugus fenolnya melepas proton. Ikatan yang berubah itu dibahas lebih rinci lewat gugus fenol pada kurkumin. Tinjauan yang sama memuat kubis merah sebagai pembanding.

Indikator Suasana asam Sekitar netral Suasana basa
Kunyit (kurkumin) kuning, pH 1-7 kuning merah tua di atas pH 8,5
Telang (ternatin) magenta pH 0,5-3, ungu pH 3-4 biru terang pH 5-8 biru kehijauan pH 9-10, makin kuning sampai pH 13
Kubis merah merah pH 1-2, merah muda pH 3, ungu pH 4-6 biru pH 7-8 hijau pH 9-11, kuning pH 12

Tabel itu menunjukkan pembagian kerja. Telang berganti warna di sisi asam maupun basa, jadi cocok untuk membedakan cuka dari air biasa. Kunyit tetap kuning sampai pH 7 dan baru bereaksi di sisi basa, jadi cocok untuk menandai bahan basa.

Warna Bukan Alat Ukur yang Presisi

Kisaran warna antosianin berbeda menurut sumber tanamannya. Antosianin wortel, menurut tinjauan di jurnal Gels, bergerak dari jingga kemerahan ke kuning pada rentang pH 2 sampai 12.

Warnanya juga dipengaruhi cahaya, panas, oksigen, dan ion logam, jadi hasil di dapur hanya menunjukkan arah, bukan angka. Untuk menilai asam sebuah minuman, lidah dan kertas pH tetap lebih bisa dipercaya daripada perubahan warna Rosella atau telang.

Langkah Percobaan di Kelas

Percobaan ini memakai bahan dapur saja. Air panas dan parutan kunyit perlu didampingi guru atau orang dewasa, dan larutan tidak untuk diminum.

  1. Seduh beberapa kuntum telang kering dengan air panas, diamkan sampai biru pekat, lalu saring dan dinginkan.
  2. Parut sepotong kunyit, rendam di sedikit air, lalu peras dan saring. Celupkan potongan kertas saring atau tisu tebal ke air kunyit, lalu keringkan di tempat teduh.
  3. Siapkan tiga larutan uji di gelas bening: cuka dapur, perasan Jeruk Nipis yang diencerkan, dan soda kue yang dilarutkan di air. Takarannya tidak perlu tepat, asal tiap gelas diberi jumlah yang sama.
  4. Tuang air telang dalam jumlah sama ke empat gelas: tiga berisi larutan uji, satu berisi air biasa sebagai pembanding.
  5. Teteskan tiap larutan uji ke potongan kertas kunyit, dan sisakan satu potong yang ditetesi air biasa.
  6. Catat warna setiap gelas dan kertas, lalu cocokkan dengan tabel trayek di atas untuk memperkirakan rentang pH-nya.

Air telang di gelas cuka dan jeruk nipis akan bergeser ke ungu atau merah muda, dan di gelas soda kue ke arah biru kehijauan bila larutannya cukup basa. Kertas kunyit tetap kuning kena cuka dan jeruk, lalu jingga sampai kemerahan kena soda kue.

Di Pelajaran Mana Percobaan Ini Masuk

Capaian Pembelajaran dalam Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025[5] meminta murid IPA Fase D, umumnya kelas VII sampai IX SMP, menganalisis klasifikasi, sifat, dan perubahan materi, serta merencanakan dan melakukan penyelidikan. Keputusan itu tidak menyebut asam basa atau indikator alami secara khusus, jadi letak percobaan ini di kelas berapa mengikuti buku dan rencana sekolah. Untuk SMA, bahasan senyawa karbon di Kimia Fase F membuka jalan ke struktur kurkumin dan antosianin.

Memakainya untuk Masakan

Di masakan, pengetahuan yang sama dipakai untuk menjaga warna. Urutan memasukkan bahan asam menentukan hasil akhirnya, dan itu bagian dari cara bumbu diperlakukan sejak awal. Warna Kayu Secang punya pembanding di antara pewarna dapur yang larut di air, sedangkan urusan rempah yang diseduh punya penjelasan terpisah.

Rujukan

Sumber untuk keterangan kimia warna, trayek pH, dan capaian pembelajaran di artikel ini.

  1. ↑ Multifunctional PBAT/Curcumin Bioactive Composite Films with Colorimetric Properties for Packaging. Polymers, 2026
  2. ↑ Effect of pH on Recovery Efficiency and Anthocyanin Composition of Clitoria ternatea Extracts with Application as Lipid Antioxidants in Food Preservation. Food Science and Nutrition, 2026
  3. ↑ Natural pH-Sensitive Intelligent Edible Gel-Based Packaging: From Structural Design to Fruit Freshness Monitoring. Gels, 2026
  4. ↑ Spectral Characteristic, Storage Stability and Antioxidant Properties of Anthocyanin Extracts from Flowers of Butterfly Pea (Clitoria ternatea L.). Molecules, 2021
  5. ↑ Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.