Gambir: Komoditas Ekspor dari Sumatra Barat
Gambir adalah getah daun Uncaria gambir yang direbus, dikempa, lalu dicetak dan dijemur menjadi bongkahan cokelat. Sumatra Barat memasok sebagian besar gambir Indonesia, dan hampir semuanya dikirim ke luar negeri, terutama ke India. Kegunaannya bergeser: pada zaman kolonial gambir terutama dicari untuk menyamak kulit, sedangkan kini ia dikenal sebagai campuran kunyahan sirih dan bahan baku industri.
Seberapa Besar Peran Sumatra Barat
Angkanya besar. Siaran Kemenko Perekonomian tentang komoditas gambir[1] tahun 2021 menyebut Indonesia memasok 80 persen gambir di pasar dunia, Sumatra Barat memasok 80 sampai 90 persen produksi nasional, dan 90 persen produksi Sumatra Barat berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Permintaan India, negara tujuan utamanya, disebut mencapai 13 sampai 14 ribu ton per tahun. Negara tujuan lain adalah Jepang, Pakistan, Filipina, Bangladesh, dan Malaysia. Pasokan yang terpusat seperti ini tampak juga pada kapulaga dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Kajian usaha tani gambir di Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan[2], dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatra Barat, mencatat luas kebun gambir di provinsi itu naik dari 19.121 hektare pada 2006 menjadi 32.309 hektare pada 2015. Produksinya naik turun: 14.115 ton pada 2006, 21.404 ton pada 2011, dan 17.391 ton pada 2015. Hanya sekitar 5 persen getah gambir yang dijual di dalam negeri.
Dari Daun ke Bongkahan di Rumah Kempa
Gambir diolah di rumah kempa, pondok pengolahan yang berdiri di kebun. Menurut kajian yang sama, daun dan ranting muda direbus, lalu dijepit dalam keranjang di antara dua bilah kayu besar berbentuk huruf V sepanjang sekitar 3 meter sampai getahnya keluar. Getah itu dicetak, umumnya berbentuk silinder, dan dikeringkan di bawah matahari sampai berwarna cokelat kehitaman.
Cara sederhana ini menentukan mutu. Kajian itu mencatat sebagian petani tidak mengganti air perebusan setiap kali merebus, dan air bekas membuat gambir berwarna hitam dan mutunya turun. Ampas daun yang sudah dikempa sebagian disebar kembali ke kebun sebagai pupuk. Kebunnya sendiri umumnya dipelihara tanpa pupuk, dan hasilnya hanya 0,6 sampai 0,8 ton getah per hektare per tahun, padahal dengan varietas unggul dan perawatan yang baik bisa lebih dari 2 ton.
Katekin dan Dua Jenis Gambir
Kegunaan gambir bergantung pada senyawa di daunnya. Catatan PROSEA untuk gambir[3] menjelaskan daunnya mengandung katekin, yang sukar larut di air dingin tetapi mudah larut di air panas, dan asam katekutanat yang larut di air dingin. Asam katekutanat tidak dikehendaki pada gambir untuk dikunyah, jadi pengolahannya dibedakan: gambir untuk menyamak kulit dan gambir untuk campuran kunyahan Sirih dengan pinang dan kapur. Gambir blok yang kini bisa dibuat mengandung katekin sampai 65 persen.
PROSEA mencatat tiga kegunaan utama gambir: penyamak kulit, campuran kunyahan sirih, dan obat. Kegunaan kecilnya antara lain pewarna batik dan pewarna sutra hitam. Siaran Kemenko Perekonomian menambahkan bahan industri makanan, farmasi, dan kosmetik sebagai arah pengolahan yang sedang didorong pemerintah. Kunyahan itu sendiri punya tempat dalam adat pinangan dan perjanjian di Nusantara, di samping risikonya bagi mulut.
Jejak Dagangnya pada Masa Kolonial
Gambir sudah lama menjadi barang dagangan. PROSEA mencatat Rumphius melaporkan penanamannya di Maluku pada pertengahan abad ke-18. Pada 1920 sampai 1940, produksi gambir Indonesia sekitar 15.000 ton per tahun, dan sepertiganya diekspor, terutama ke Inggris dan Amerika Serikat untuk penyamakan, dengan pasar lebih kecil di Jerman, Belanda, dan Singapura. Ekspor waktu itu sebagian besar datang dari sekitar 8 perkebunan besar seluas 1.750 sampai 2.000 hektare.
Sesudah Perang Dunia II, gambir kehilangan sebagian besar pasarnya di Eropa dan Amerika karena penyamak beralih ke bahan lain. Pada 1985, ekspornya tinggal sekitar 1.200 ton senilai kira-kira 1 juta dolar AS. Kini India menjadi tujuan utama ekspor gambir Sumatra Barat. Hasil hutan lain dari pantai barat Sumatra, Kemenyan, juga punya sejarah dagang yang panjang, seperti terlihat pada dagangan tua pelabuhan Barus. Keduanya menambah daftar hasil bumi dalam perdagangan rempah Nusantara sebelum dan sesudah VOC.
Harga yang Membuat Petani Rentan
Karena hampir seluruhnya diekspor, harga gambir di tingkat petani mengikuti permintaan luar negeri dan pedagang. Kajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian itu mencatat harga di atas Rp25.000 per kilogram biasanya terjadi pada Juli dan Agustus, sedangkan pada Januari sampai Maret harga sering turun di bawah Rp20.000. Pada harga serendah itu banyak petani membiarkan kebunnya tidak dipanen. Petani hanya menerima 43,1 persen dari harga akhir, dan banyak yang terikat pada pedagang pengumpul karena sudah meminjam uang sebelum panen.
Siaran Kemenko Perekonomian menyebut masalah yang sama: harga yang naik turun, teknologi pengolahan yang masih sederhana, dan sulitnya mencari tenaga pengolah. Pola ekspor yang bertumpu pada satu negara tujuan juga terlihat pada cengkeh yang kebanyakan dikirim ke India.
Rujukan
Sumber untuk angka produksi dan ekspor gambir, cara pengolahannya, dan sejarah dagangnya.
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
