Lewati ke konten

Sirih Pinang dalam Adat Nusantara: Tradisi dan Risikonya

4 menit baca

Sirih pinang adalah kebiasaan mengunyah daun sirih, biji pinang, dan kapur, yang di banyak daerah Nusantara menjadi bagian adat pinangan, pernikahan, dan penyambutan tamu. Tradisinya sangat tua, dan penelitian terbaru mendorong umurnya jauh ke belakang. Risikonya juga tercatat jelas: kebiasaan mengunyah pinang berkaitan dengan kanker mulut dan kelainan mulut yang bisa berubah menjadi kanker.

Isi Sekapur Sirih

Susunan dasarnya tiga bahan. Catatan PROSEA untuk sirih[1] menyebut daun Sirih, biji dari pohon pinang (Areca catechu), dan kapur yang dibuat dari cangkang kerang atau batu kapur yang dibakar. Di Maluku dan sebagian Papua Nugini, daun sirih diganti bunga dari kerabatnya, Piper siriboa.

Bahan tambahannya berbeda menurut daerah. PROSEA mencatat Gambir, tembakau, gula aren, dan rempah seperti Kapulaga dan Cengkeh. Gambir, ekstrak daun yang dikeringkan, juga punya riwayat sebagai barang ekspor dari Sumatra Barat. Kunyahan sirih pinang mewarnai gigi, air liur, mulut, dan bibir menjadi merah, dan membuat air liur keluar banyak sehingga pengunyahnya sering meludah.

Tempatnya dalam Adat

Menurut PROSEA, mengunyah sekaligus menyiapkan sirih pinang pernah menjadi pusat kehidupan ritual dan sosial di kawasan Malesia, wilayah yang mencakup Nusantara. Dulu sirih pinang hadir dalam upacara kelahiran dan kematian, dalam masa meminang dan menikah, dan dikaitkan dengan kesehatan dan penyembuhan. Kemudian ia juga dipakai untuk menandai perjanjian: sesudah kesepakatan dibuat, sirih dikunyah bersama sebagai tanda kesepakatan itu sudah dikunci.

PROSEA menyebut sirih sudah dibudidayakan lebih dari 2.500 tahun di Malesia dan Asia tropis. Sumber tertulis Tiongkok dari masa Dinasti Tang (618-907) sudah menggambarkan Asia Tenggara sebagai kawasan pengunyah sirih. Kebiasaan ini mulai surut ketika tembakau datang. Pada awal abad ke-19, mengunyah sirih makin dianggap kebiasaan perempuan, dan kini di Asia Tenggara sebagian besar dilakukan generasi tua.

Jejak dari Sulawesi yang Jauh Lebih Tua

Umur kebiasaan ini kemungkinan jauh lebih tua dari catatan tertulis. Penelitian arkeologi di jurnal Science Advances[2] oleh tim Griffith University, BRIN, dan Universitas Hasanuddin melaporkan dua kerangka pemburu-peramu dari Leang Bulu Bettue dan Leang Cappalombo 1 di Sulawesi Selatan. Gigi keduanya punya alur cekung yang, menurut para peneliti, terbentuk karena kebiasaan mengulum biji pinang utuh, tanpa kapur dan tanpa daun sirih.

Percobaan mereka menunjukkan biji pinang utuh yang lama disimpan di mulut sudah melepaskan arekolin, zat utama pinang yang bekerja pada saraf. Kerangka tertua berumur 25.000 sampai 16.000 tahun. Sebelumnya, jejak pinang tertua yang tertanggal cukup pasti berasal dari karang gigi manusia Zaman Perunggu di Thailand, sekitar 3.500 sampai 3.000 tahun lalu. Temuan Sulawesi ini menempatkan pinang di awal cerita tanaman Nusantara sebelum era dagang, walaupun kesimpulannya masih bertumpu pada dua individu.

Risikonya bagi Mulut

Risiko utama datang dari pinang, terutama bila dikunyah bertahun-tahun. Tinjauan sistematis dan meta-analisis di Frontiers in Oral Health[3] menggabungkan sembilan artikel dengan 19.312 peserta dari Asia Tenggara dan Pasifik, termasuk Indonesia. Pengunyah sirih pinang punya peluang sekitar 8 kali lebih besar mengalami kanker mulut atau kelainan mulut prakanker (rasio odds 8,18). Tinjauan itu juga mengutip IARC, badan riset kanker WHO, yang menyimpulkan pinang bersifat karsinogenik pada manusia dan berkaitan dengan kanker rongga mulut, tenggorokan, kerongkongan, hati dan saluran empedu, serta rahim.

Kelainan prakanker yang paling sering dikaitkan dengan sirih pinang adalah fibrosis submukosa mulut, jaringan mulut yang perlahan mengeras. Menurut tinjauan itu, tanda awalnya selaput mulut memucat, permukaan lidah menjadi licin, sariawan, dan mulut menjadi peka terhadap rasa makanan. Lama-lama mulut sulit dibuka dan sulit menelan.

Catatan tentang daun sirih saja berbeda. PROSEA mencatat daun sirih diduga punya sifat menghambat tumor, tetapi beberapa bahan lain di dalam kunyahan bersifat karsinogenik. Karena kaitannya dengan kanker mulut, PROSEA menyimpulkan kebiasaan mengunyah sirih pinang tidak layak didorong dari sisi kesehatan masyarakat.

Menjaga Adat tanpa Kebiasaan Harian

Dalam upacara, sirih pinang yang disajikan sudah menjadi tanda adatnya. Tanda itu tetap utuh walaupun sirih pinang tidak dikunyah setiap hari. Bagi yang sudah terbiasa mengunyah, periksakan mulut ke dokter gigi secara berkala. Bercak putih atau merah yang tidak hilang, sariawan yang tidak kunjung sembuh, atau mulut yang makin sulit dibuka perlu segera diperiksa dokter.

Rujukan

Sumber untuk isi dan sejarah sirih pinang, temuan arkeologi Sulawesi, dan risiko kanker mulut.

  1. ↑ Piper betle (PROSEA). Pl@ntUse
  2. ↑ Betel nut sucking is the earliest recorded evidence for the habitual use of a neuroactive plant drug. Science Advances, 2026
  3. ↑ The association between betel quid use and oral potentially malignant and malignant disorders in Southeast Asian and Pacific regions: a systematic review and meta-analysis with GRADE evidence profile. Frontiers in Oral Health, 2024

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.