Lewati ke konten

Daun Jeruk Purut dan Daun Jeruk Lainnya

5 menit baca

Yang dijual sebagai daun jeruk di pasar biasanya daun jeruk purut, Citrus hystrix. Daun ini mudah dikenali karena tampak seperti dua helai yang bersambung: tangkainya bersayap lebar, hampir sebesar helai daunnya sendiri. Baunya juga berbeda dari daun jeruk lain, karena didominasi satu senyawa, sitronelal. Daun jeruk nipis, limau, lemon, atau kalamansi bisa dipakai, tetapi hasilnya tidak sama.

Bentuk Daun Jeruk Purut

Daun Jeruk purut punya bentuk yang khas. Deskripsi Citrus hystrix di koleksi jeruk University of California Riverside[1] menyebut helainya bulat telur atau lonjong, panjang 3 sampai 15 cm, dan harum bila diremas. Tangkainya bersayap besar seperti daun, dengan panjang bersama sayapnya 1 sampai 8 cm. Deskripsi lain di halaman yang sama menyebut tangkai bersayap itu biasanya dua pertiga sampai tiga perempat panjang helainya.

Karena itu satu lembar daun jeruk purut terlihat seperti angka delapan atau jam pasir. Saat memilih, cari daun hijau tua yang mengilap di permukaan atas, dengan kedua bagian masih utuh.

Bau Sitronelal yang Tidak Dimiliki Daun Lain

Perbedaan bau bisa diukur. Penelitian minyak atsiri daun empat jenis jeruk di jurnal Plants[2] menyuling daun jeruk purut, lemon, kalamansi, dan Citrus pyriformis yang ditanam di Malaysia. Pada daun jeruk purut, sitronelal mencapai 77,7 persen dari minyaknya, sedangkan limonena hanya 0,2 persen. Sabinena dan sitronelil asetat hanya ditemukan pada daun jeruk purut.

Daun lemon berbeda: komponen terbesarnya limonena, 33,6 persen. Daun kalamansi (Citrus microcarpa) lebih jauh lagi, karena minyaknya banyak mengandung seskuiterpen seperti elemol dan germakrena D. Menurut penelitian yang sama, sitronelal dalam jumlah besar juga ada pada daun Eucalyptus citriodora, dan senyawa ini dikenal sebagai pengusir nyamuk.

Buah dan Kulit Jeruk Purut

Buah jeruk purut mudah dikenali dari kulitnya yang berbenjol tidak beraturan. Deskripsi UC Riverside yang sama menyebut buahnya bulat sampai bulat telur, bergaris tengah 5 sampai 7 cm, dan penuh titik kelenjar minyak. Kulitnya tebal: lapisan luar yang hijau kekuningan setebal sekitar 2 mm, bagian dalamnya putih. Daging buahnya terbagi 10 sampai 12 ruas, masam sekali, dan agak pahit. Buah yang matang penuh berubah kuning lalu jatuh dari pohon.

Karena dagingnya masam dan pahit, yang lebih banyak dipakai dari buahnya adalah Kulit Jeruk Purut. Baunya berbeda dari bau daun. Analisis minyak kulit jeruk purut di jurnal Molecules[3], memakai buah dari Thailand, menemukan sabinena 31,9 persen, beta-pinena 26,3 persen, dan limonena 18,6 persen. Sitronelal, yang menguasai minyak daun, hanya 0,24 persen di kulit. Para penelitinya menggambarkan sabinena berbau kayu, beta-pinena berbau herba, dan limonena berbau jeruk, dan menyebut susunannya bisa berubah menurut asal buah, tingkat kematangan, dan cara penyulingan.

Menurut penelitian yang sama, daun adalah bagian yang paling sering dipakai untuk memasak, sedangkan kulit luarnya dipakai untuk membuat pasta kari. Kulit yang dikeringkan dipakai sebagai campuran kue dan hidangan manis, dan manisan kulitnya dijual di Kamboja walau tidak banyak peminatnya. Jadi daun dan kulit tidak saling menggantikan: daun memberi bau sitronelal, kulit memberi bau jeruk yang lebih tajam.

Air buahnya lebih dikenal di luar dapur. Penelitian etnobotani jeruk pada masyarakat Karo[4] di Sumatra Utara mencatat jeruk purut dengan nama rimo mukur, yang berarti keramas, karena memang dipakai mencuci rambut. Secara tradisional, air buahnya juga dicampur bahan lain dan minyak untuk memijat bagian tubuh yang pegal. Catatan Bonavia tahun 1886 yang dikutip UC Riverside menyebut hal serupa dari Sri Lanka: buahnya tidak dimakan, tetapi dipakai mencuci kepala dan dioleskan di kaki untuk membunuh pacet. Bonavia menduga jeruk ini dibawa ke Sri Lanka oleh orang Belanda dan pembantu Melayu mereka sebagai pencuci rambut.

Daun Jeruk Nipis dan Limau

Jeruk Nipis juga punya tangkai bersayap. Deskripsi jeruk nipis Meksiko di koleksi UC Riverside[5] menyebut daunnya kecil, hijau pucat, lanset lebar, dengan tangkai yang jelas bersayap. Deskripsi itu tidak menyebut sayap yang hampir sepanjang helai daun seperti pada jeruk purut. Jadi yang paling mudah dipakai untuk membedakan adalah ukurannya: daun jeruk nipis kecil dan pucat, sedangkan daun jeruk purut hijau tua dengan sayap yang lebar.

Penelitian yang membandingkan minyak daun jeruk nipis atau Jeruk Limau dengan daun jeruk purut belum ditemukan. Jadi yang bisa dikatakan hanya ini: belum ada angka sitronelal yang tercatat untuk daun kedua jeruk itu, dan memakainya sebagai pengganti daun jeruk purut akan memberi bau jeruk yang lain. Buah jeruk limau sendiri dipakai untuk aromanya, dan perbedaannya dengan jeruk nipis diuraikan di entrinya.

Di Masakan Apa Daun Jeruk Dipakai

Penelitian rempah di Nanggewer Mekar, Bogor[6] mencatat bagian jeruk purut yang dipakai warga adalah daunnya, sedangkan pada jeruk nipis yang dipakai adalah buahnya. Daun jeruk masuk ke semur jengkol, rendang, laksa, dan ayam suwir. Pada ayam suwir, daun jeruk dimasukkan ke bumbu yang sedang ditumis bersama serai yang dimemarkan.

Di Nanggewer Mekar, daun jeruk purut tidak dibeli: penelitian tersebut mencatat daunnya dipetik dari kebun warga sendiri. Catatan lama Ochse yang dikutip UC Riverside juga menyebut jeruk purut di Hindia Belanda tidak pernah ditanam besar-besaran, tetapi sering sekali ditanam dalam skala kecil. Di halaman sempit pun, pohon jeruk purut dalam pot besar tetap bisa dipetik daunnya.

Daun jeruk juga bisa ikut dihaluskan bersama bumbu, misalnya pada bumbu pecel. Untuk kuah, daun biasanya disobek atau diremas lebih dulu supaya minyaknya cepat keluar. Daun beraroma lain punya waktu pakainya sendiri, misalnya salam yang dimasukkan sejak awal, dan kulit jeruk pun dipakai segar, kering, atau sengaja dituakan. Pasangan rempah lain yang sering tertukar di pasar, kunyit dan temulawak yang warnanya mirip, bisa dibedakan dari ukuran dan aromanya.

Rujukan

Sumber untuk bentuk daun dan buah, kandungan minyak daun dan kulit, serta pemakaian daun, kulit, dan air buah jeruk purut.

  1. ↑ Citrus hystrix (CRC 3103). Givaudan Citrus Variety Collection at UCR
  2. ↑ Phytochemical Composition, Antioxidant and Antiproliferative Activities of Citrus hystrix, Citrus limon, Citrus pyriformis, and Citrus microcarpa Leaf Essential Oils against Human Cervical Cancer Cell Line. Plants, 2022
  3. ↑ Determination of the Major By-Products of Citrus hystrix Peel and Their Characteristics in the Context of Utilization in the Industry. Molecules, 2023
  4. ↑ Ethnobotany and diversity of Citrus spp. (Rutaceae) as a source of “Kem-kem” traditional medicine used among the Karo sub-ethnic in North Sumatra, Indonesia. Heliyon, 2024
  5. ↑ Mexican lime. Givaudan Citrus Variety Collection at UCR
  6. ↑ Tanaman Rempah dan Masakan Tradisional di Kelurahan Nanggewer Mekar, Cibinong, Kabupaten Bogor. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 2021

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.