Lewati ke konten

Minyak Kelapa, Minyak Sawit, atau Mentega: Pengaruhnya pada Aroma Bumbu

4 menit baca

Minyak sawit goreng memberi aroma paling netral, minyak kelapa menambah bau kelapa, dan mentega menambah bau susu tapi paling cepat gosong. Jadi pilihan lemak mengubah bumbu lewat dua jalan: aroma yang dibawa lemak itu sendiri, dan seberapa lama ia tahan dipanaskan sebelum berasap. Untuk bumbu halus yang harus ditumis lama, lemak yang tahan panas lebih aman daripada lemak yang wangi. Bumbu halus juga bisa ditumis dengan sedikit minyak dan air, asal airnya dihabiskan.

Kenapa Jenis Lemak Ikut Menentukan Aroma

Bumbu ditumis di dalam lemak karena lemak membawa aroma rempah. Banyak senyawa wangi dari Bawang Merah, Bawang Putih, dan rimpang lebih mudah larut dalam minyak daripada air, jadi minyak tumisan ikut menjadi wadah wangi itu. Kalau lemaknya sendiri punya bau, bau itu bercampur dengan wangi bumbu.

Lemak juga menentukan suhu. Bumbu halus perlu dimasak sampai airnya habis dan bau mentahnya hilang, seperti yang dijelaskan pada tahap bumbu sampai minyaknya memisah. Proses itu lama, dan lemak yang tidak tahan panas mulai berasap atau gosong sebelum bumbunya matang.

Minyak Sawit: Paling Netral

Minyak goreng sawit hampir tidak menambah bau. Tinjauan minyak nabati untuk menggoreng di jurnal Foods[1] menyebut minyak sawit hampir separuh lemak jenuh dan separuh lemak tak jenuh, dan biasanya dimurnikan sebelum dijual. Pemurnian itu bisa menghilangkan sebagian komponen minornya. Tinjauan itu juga menyebut olein, bagian minyak sawit yang tetap cair di suhu ruang, disukai untuk menggoreng karena stabil pada suhu tinggi.

Karena netral, minyak sawit cocok untuk bumbu yang wanginya ingin ditonjolkan tanpa gangguan, misalnya bumbu merah yang berisi Cabai Merah Besar, bawang, dan terasi.

Minyak Sawit Merah: Mengubah Warna, Rusak kalau Terlalu Panas

Minyak sawit yang belum dimurnikan berwarna merah karena karotenoid, pigmen jingga kemerahan yang ikut hilang saat minyak dimurnikan. Satu penelitian bumbu nasi goreng dengan minyak sawit merah dari Instiper Yogyakarta[2] mengganti sebagian minyak goreng sawit dengan minyak sawit merah, dari 0 sampai 100 persen, untuk menumis cabai, bawang merah, dan bawang putih. Makin banyak minyak sawit merah, makin merah warna nasi gorengnya.

Panelis paling menyukai aroma campuran 80 persen minyak sawit merah dan 20 persen minyak goreng biasa, dengan skor 6 atau “suka”. Secara keseluruhan, campuran 60 banding 40 yang paling disukai, walaupun nilainya hanya 5,70 atau “agak suka”. Penelitian itu juga mengingatkan bahwa minyak sawit merah tidak dianjurkan untuk menggoreng, karena karotenoidnya rusak pada suhu penggorengan. Jadi minyak ini lebih cocok dipakai sebagian, dengan api sedang.

Minyak Kelapa: Membawa Bau Kelapa

Minyak kelapa punya susunan yang jauh berbeda dari minyak sawit. Tinjauan di jurnal Foods mencatat minyak kelapa berisi sekitar 90 persen lemak jenuh, sebagian besar berantai sedang, dengan lemak tak jenuh yang sangat sedikit. Tinjauan minyak kelapa murni di Food Chemistry: X[3] menyebut minyak kelapa murni membawa rasa kelapa yang lembut ke makanan dan minuman.

Bau kelapa itu menguntungkan pada masakan yang memang berkuah santan, karena wanginya searah, misalnya bumbu yang berisi Serai dan lengkuas. Pada bumbu yang ingin terasa tajam dan bersih, misalnya sambal bawang, bau kelapa bisa terasa mengganggu. Kalau hanya ingin sedikit bau kelapa, campur minyak kelapa dengan minyak sawit.

Mentega: Wangi Susu, Cepat Gosong

Mentega bukan lemak murni. Standar mutu mentega dari USDA[4] mendefinisikan mentega sebagai produk dari susu atau krim, dengan atau tanpa garam, yang mengandung lemak susu paling sedikit 80 persen. Sisanya, sampai 20 persen, adalah bagian bukan lemak dari susu, termasuk air. Di wajan, air itu membuat mentega berbuih dan memercik, dan bagian susunya cepat mencokelat.

Itu sebabnya mentega kurang cocok untuk bumbu halus yang ditumis lama. Mentega lebih aman dipakai untuk tumisan singkat, atau ditambahkan di akhir untuk wangi susunya. Periksa labelnya saat membeli, karena margarin dan mentega dijual berdampingan dan kemasannya mirip.

Asap sebagai Tanda Berhenti

Minyak yang mulai berasap sudah terlalu panas. Tinjauan di jurnal Foods menjelaskan asap kebiruan itu mengandung akrolein, zat yang mengiritasi kulit dan selaput lendir. Titik asap minyak juga turun setiap kali minyak dipakai ulang, karena air dari makanan memecah lemaknya. Kecilkan api begitu minyak berasap, dan jangan menumis bumbu dengan minyak yang sudah berkali-kali dipakai menggoreng.

Rujukan

Sumber untuk susunan minyak sawit dan minyak kelapa, minyak sawit merah pada bumbu, definisi mentega, dan titik asap.

  1. ↑ Vegetable Oils and Their Use for Frying: A Review of Their Compositional Differences and Degradation. Foods, 2024
  2. ↑ Formulasi Seasoning Nasi Goreng Diperkaya dengan Minyak Sawit Merah. AGRIFITIA, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, 2022
  3. ↑ Virgin coconut oil: A comprehensive review of its health impacts and functional food applications. Food Chemistry: X, 2026
  4. ↑ United States Standards for Grades of Butter. USDA Agricultural Marketing Service, 1989

Rempah yang Disebut di Artikel Ini

Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.