Gaharu: Dagangan Hutan Nusantara dan Aturan CITES
Gaharu adalah kayu beresin wangi dari pohon marga Aquilaria dan Gyrinops, dan hutan Nusantara sudah mengirimnya ke Tiongkok sejak lebih dari seribu tahun lalu. Harganya yang tinggi membuat pohonnya ditebang tanpa pilih-pilih. Karena itu, sejak 2004 semua jenis dari kedua marga itu masuk Apendiks II CITES, konvensi yang mengatur perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar yang terancam.
Resin yang Terbentuk dari Luka
Gaharu tidak dihasilkan setiap pohon. Catatan PROSEA tentang Aquilaria malaccensis[1] menjelaskan bahwa gaharu adalah kayu teras bergetah dari pohon tua atau sakit, dan pembentukannya dipicu luka di batang atau cabang. Jamur ikut berperan, dan serangan serangga penggerek sering menyertainya. Kayu pohon yang sehat, yang di Malaysia disebut karas, justru ringan, pucat, dan tidak wangi.
Jenis Aquilaria malaccensis tumbuh dari timur laut India melalui Myanmar sampai Semenanjung Malaya, Sumatra, Bangka, Kalimantan, dan Filipina. Di Indonesia namanya gaharu, ki karas dalam bahasa Sunda, dan mengkaras di Sumatra. PROSEA mencatat pohon ini selalu tumbuh berpencar, sekitar 2,5 pohon per hektare di Semenanjung Malaysia dan timur laut India.
Dikirim ke Tiongkok sejak Dinasti Tang
Gaharu dibakar sebagai dupa dalam upacara Buddha, Konghucu, dan Hindu di Asia Timur dan Selatan. Penelitian dupa di Kuil Famen dalam jurnal PNAS[2] menemukan gaharu di antara wewangian yang dipersembahkan untuk relik Buddha di kuil itu pada abad ke-9. Penelitian yang sama mencatat bahwa buku obat Tiongkok Xin Xiu Ben Cao dari tahun 659 sudah menggambarkan bunga, buah, dan daun pohon gaharu.
Pada masa Dinasti Tang (618 sampai 907), gaharu dari Malaysia, Indonesia, Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan India terus masuk ke Tiongkok lewat perdagangan dan upeti. Penelitian itu menyebut jalur darat dan laut yang membawa wewangian dari Asia Tenggara ke Tiongkok, bagian dari pelayaran dagang yang menghubungkan Nusantara dengan Tiongkok. Gaharu bukan satu-satunya wewangian hutan Nusantara yang diperdagangkan jauh: Kemenyan dari Sumatra dan kayu cendana dari Timor punya riwayat dagang sendiri.
Harga yang Mendorong Penebangan
Nilai gaharu sangat bergantung pada mutunya. PROSEA mengutip data 1993 dari Arab Saudi: di Dubai, harga per kilogram berkisar dari 27 dolar AS untuk mutu rendah sampai hampir 10.000 dolar AS untuk mutu tertinggi. Pada 1991, Malaysia memasok lebih dari 25 persen pasar Jazirah Arab, disusul Singapura, lalu Indonesia, Thailand, dan India.
Harga itu mengubah cara orang mencari gaharu. Karena hanya pengumpul berpengalaman yang bisa mengenali pohon yang sudah mengandung resin, pohon sering ditebang sembarangan, termasuk yang sehat. Batangnya dipotong-potong lalu dibelah seluruhnya untuk mencari bagian yang wangi. PROSEA menyebut penebangan seperti ini mengancam tegakan alami Aquilaria sampai ke kepunahan.
Apendiks II CITES dan Gaharu Palsu
Ancaman itu yang membawa gaharu ke CITES. Penelitian ciri gaharu asli dan palsu di jurnal PLOS One[3] mencatat bahwa semua jenis Aquilaria dan Gyrinops masuk Apendiks II CITES sejak 2004. Jenis di Apendiks II tidak dilarang diperdagangkan, tetapi perdagangan internasionalnya diawasi supaya tidak menguras populasi liar. Meski begitu, penelitian yang sama menyebut volume gaharu di pasar internasional masih mencapai beberapa ratus ton per tahun.
Harga tinggi juga melahirkan pemalsuan. Peneliti dalam studi PLOS One membuat 15 contoh gaharu palsu dengan cara yang lazim di pasar, yaitu kayu biasa yang dikukus dengan ekstrak. Mereka menemukan bahwa gaharu asli selalu punya jaringan floem tersisip, yaitu untaian jaringan pengangkut di dalam kayu, dengan resin cokelat yang tersebar alami. PROSEA juga mencatat bahwa resin gaharu terkumpul di untaian floem tersisip itu.
Tekanan pada pohon liar mendorong penanaman. PROSEA mencatat kebun Aquilaria malaccensis sejauh ini dibangun terutama untuk menguji cara memicu pembentukan gaharu secara buatan. Tanaman wangi lain sudah lama ditanam di kebun, misalnya Nilam yang disuling menjadi bahan parfum dari Aceh.
Rujukan
Sumber untuk ciri tanaman, riwayat dagang, harga, status CITES, dan cara mengenali gaharu palsu.
- ↑ Aquilaria malaccensis (PROSEA). Pl@ntUse
- ↑ Characterization of the incense sacrificed to the sarira of Sakyamuni from Famen Royal Temple during the ninth century in China. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2022
- ↑ Resinous included phloem as a key indicator of authentic or fake agarwood. PLOS One, 2024
Rempah yang Disebut di Artikel Ini
Artikel ini bersumber dari literatur ilmiah yang tercantum pada bagian Referensi. Informasinya disajikan untuk keperluan pengetahuan dan tidak menggantikan saran dari tenaga kesehatan profesional.
